Close Menu
Lintas Khatulistiwa
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Indeks Berita

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Tiga Pengguna Sabu di Kalukalukuang Ditangkap, Laskar Merah Putih  (LMP)  Pangkep Desak Penindakan Tanpa Toleransi

April 18, 2026

Geger Pesisir Pantai Pangkep: Warga Temukan ‘Harta Karun’ 1 Kg Sabu Tak Bertuan

April 17, 2026

Peduli Sesama, Aksi Solidaritas Gabungan Universitas Alauddin Makassar Bersama Masyarakat Padang Lampe Galang Bantuan Korban Kebakaran

April 17, 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Trending
  • Pengguna Sabu di Kalukalukuang Ditangkap, Laskar Merah Putih  (LMP)  Pangkep Desak Penindakan Tanpa Toleransi
  • Geger Pesisir Pantai Pangkep: Warga Temukan ‘Harta Karun’ 1 Kg Sabu Tak Bertuan
  • Peduli Sesama, Aksi Solidaritas Gabungan Universitas Alauddin Makassar Bersama Masyarakat Padang Lampe Galang Bantuan Korban Kebakaran
  • Bhabinkamtibmas Polsek Ma’rang Sambang di Resepsi Pernikahan Warga Binaan
  • Polisi Hadir di Tengah Masyarakat, SPKT I Polsek Ma’rang Sambangi Hajatan Pernikahan di Laikang
  • Bhabinkamtibmas Polsek Ma’rang Pantau Harga Beras di Pasar Tradisional, Pastikan Situasi Aman dan Stabil
  • Bhabinkamtibmas Polsek Ma’rang Hadiri Hajatan Warga di Punranga, Wujudkan Kedekatan dengan Masyarakat
  • Bhabinkamtibmas Polsek Ma’rang Sambangi Pos Kamling, Ajak Warga Aktif Jaga Keamanan Lingkungan
Facebook X (Twitter) Instagram
Lintas KhatulistiwaLintas Khatulistiwa
Demo
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Indeks Berita
Lintas Khatulistiwa
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Indeks Berita
Beranda » Eurico Guterres di Ujung Sejarah Timor Timur
Berita

Eurico Guterres di Ujung Sejarah Timor Timur

Muhammad Taslim.SHBy Muhammad Taslim.SHJanuari 27, 2026Tidak ada komentar
Facebook WhatsApp Twitter Telegram
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Lintas-Khatulistiwa.com | Jakarta, 27/1. Eurico Guterres, seorang tokoh pro-Indonesia di Timor Leste, memiliki ambivalensi yang kompleks. Di satu sisi, dia dianggap sebagai pahlawan oleh beberapa orang karena perjuangannya untuk Indonesia, namun di sisi lain, dia juga dituduh terlibat dalam kejahatan kemanusiaan dan pembantaian di Timor Leste

Sebagai mantan pemimpin milisi Aitarak, Guterres terlibat dalam beberapa insiden kekerasan, termasuk Pembantaian Gereja Liquiçá pada April 1999. Dia juga dituduh sebagai otak di balik serangan terhadap rumah Manuel Carrascalão, seorang tokoh pro-kemerdekaan Timor Leste

Namun, Guterres juga memiliki hubungan yang dekat dengan beberapa tokoh Indonesia, termasuk Prabowo Subianto, yang memberinya penghargaan Patriot Bela Negara. Dia juga menerima penghargaan Bintang Jasa Utama dari Presiden Joko Widodo pada 2021, yang memicu kontroversi dan kritik dari berbagai pihak

Ambivalensi Guterres ini mencerminkan kompleksitas situasi politik di Timor Leste dan Indonesia pada masa itu. Dia adalah contoh dari bagaimana seseorang dapat dianggap sebagai pahlawan oleh beberapa orang, namun juga sebagai penjahat oleh orang lain

Nama Eurico Barros Gomes Guterres adalah salah satu nama yang paling memecah belah dalam pusaran sejarah akhir Timor Timur. Bagi sebagian orang, ia adalah lambang kesetiaan yang tak tergoyahkan pada Merah Putih, seorang pejuang yang berani membela integrasi dengan Indonesia. Namun bagi yang lain, ia adalah representasi dari wajah gelap kekerasan yang menghantui Timor Timur pasca referendum 1999.

Satu hal yang tak terbantahkan:

Eurico Guterres bukanlah figur biasa. Ia adalah produk dari era yang mendidih, brutal, dan sarat dengan tarik menarik kepentingan politik yang kompleks.

Merah Putih di Tangan, Api di Belakang:

Awal Mula Sang Simbol Loyalitas
Hari itu di Cipinang, Eurico Guterres keluar dari penjara bukan sebagai sosok yang tertunduk lesu. Rambut gondrong, brewok tebal, dan tubuh yang kekar menjadi ciri khasnya. Di depan kerumunan dan kamera, ia dengan bangga mengibarkan dan mencium bendera Merah Putih. Gestur ini seolah menegaskan pesan yang tak terbantahkan: ia tak pernah menunjukkan penyesalan atas perannya dalam barisan pro integrasi.

Baca Juga:  SOPIR TRUK DAN TANGKI CADANGAN, POLISI MENYITA 1.3 TON. SOLAR DIMAROS

Lahir di Viqueque, Timor Timur, sebuah wilayah yang sejak lama menjadi arena pertarungan identitas dan loyalitas, Eurico muda sudah tenggelam dalam pusaran politik integrasi. Dalam narasi yang dibangun oleh kalangan pro Republik Indonesia, Eurico dikenal sebagai “pejuang integrasi”. Sebaliknya, dalam catatan pelanggaran hak asasi manusia internasional, namanya terukir sebagai salah satu aktor utama di balik gelombang kekerasan. Dua dunia yang bertolak belakang ini menyatu dalam satu sosok yang penuh kontradiksi.

Dari Gada Paksi ke Aitarak:

Evolusi Sang Panglima Milisi
Jauh sebelum referendum pada tahun 1999, Eurico Guterres sudah aktif dalam jaringan organisasi pro integrasi. Ia dikenal sebagai bagian dari Gada Paksi (Garda Muda Penegak Integrasi). Pada pertengahan tahun 1990 an, kelompok pemuda ini gencar diberitakan mendapatkan pelatihan dan dukungan dari unsur militer Indonesia, khususnya dari kesatuan elite seperti Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Dari sinilah kemudian lahir jaringan milisi sipil bersenjata yang kelak memainkan peran dominan dalam gejolak politik Timor Timur. Di Dili, Eurico Guterres menjadi pemimpin milisi Aitarak, salah satu kelompok yang paling ditakuti pada masanya. Aitarak bukan sekadar sebuah organisasi; ia telah menjelma menjadi simbol teror bagi mereka yang mendukung kemerdekaan, sekaligus dianggap sebagai benteng terakhir Republik Indonesia oleh para pendukung integrasi.

Ketika berbagai milisi pro integrasi kemudian disatukan di bawah satu payung besar, yaitu Pasukan Pejuang Integrasi (PPI), Eurico Guterres naik ke jenjang kepemimpinan yang lebih tinggi. Ia menjabat sebagai wakil panglima, mendampingi João Tavares. Struktur komando yang mereka bangun jelas dan rapi. Ini menunjukkan bahwa mereka bukanlah sekadar gerombolan liar, melainkan kekuatan yang terorganisir, bersenjata, dan memiliki jaringan politik yang kuat.

Baca Juga:  H. Muh. Lutfi Hanafi, S.E., Sapaan "Puang Tayang", Sambangi Nelayan di Maccini Baji

Referendum 1999: Saat Sejarah Meledak dalam Api dan Darah
Tahun 1999 menjadi titik didih bagi Timor Timur. Pemerintah Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden B.J. Habibie, memberikan dua opsi krusial: otonomi khusus atau sepenuhnya merdeka. Sejak awal, aparat keamanan Indonesia sudah memprediksi potensi kekacauan yang luar biasa. Bahkan, pengakuan dari Jenderal Wiranto, Panglima ABRI saat itu, menunjukkan bahwa kerusuhan hampir tak terhindarkan.

Di lapangan, negara seolah kehilangan kendali. Milisi pro integrasi dan kelompok pendukung kemerdekaan saling berhadapan dalam konfrontasi yang mematikan. Aparat kepolisian tampak lumpuh, sementara upaya pelucutan senjata dilakukan secara setengah hati. Senjata yang seharusnya dikumpulkan justru tetap beredar di tangan kelompok kelompok yang berseteru. Ketika hasil jajak pendapat diumumkan—dengan mayoritas 78,5 persen memilih merdeka—api kekerasan pun menyala tak terkendali.

Dili dibakar.

Kota Maliana hancur lebur. Gereja Suai menjadi saksi bisu tragedi pertumpahan darah. Rumah Uskup Carlos Filipe Ximenes Belo diserang. Dunia internasional menyaksikan Timor Timur terbakar dari layar televisi, memunculkan gelombang kecaman dan keprihatinan global.

Di tengah kekacauan tersebut, nama Eurico Guterres disebut sebut di mana mana, menjadi sorotan utama dalam narasi kekerasan yang terjadi.
Pengadilan, Vonis, dan Celah Hukum: Jejak Keadilan yang Meragukan

Eurico Guterres didakwa sebagai provokator utama dalam insiden penyerangan rumah Manuel Carrascalão pada 17 April 1999, yang menelan korban jiwa belasan orang. Pada tahun 2002, ia divonis 10 tahun penjara. Vonis ini dikuatkan hingga tingkat kasasi. Namun, drama hukum atas kasusnya belum berakhir di situ.

Baca Juga:  Bupati Pangkep : Menyambut Tahun Baru 2026 dengan Ketenangan dan Kepedulian Bencana alam di Wilayah Sumatra dan Aceh

Pada tahun 2008, Mahkamah Agung Indonesia mengabulkan permohonan peninjauan kembali (PK) atas kasus Eurico. Fakta baru atau novum diklaim telah ditemukan. Alhasil, Eurico Guterres dibebaskan dari sisa hukumannya.

Kalimat yang terlontar darinya setelah bebas terdengar dingin dan tegas, “Orang yang sudah diadili tidak bisa diadili dua kali.” Pernyataan ini mencerminkan penolakannya terhadap penerapan hukum internasional terkait kejahatan HAM, dan ia merasa telah memenuhi kewajiban hukumnya berdasarkan hukum Indonesia.
Dengan bebasnya Eurico Guterres, satu per satu terdakwa kasus pelanggaran HAM di Timor Timur juga mulai terbebas. Negara seolah berusaha menutup buku sejarah, meskipun halaman halamannya masih berlumur darah dan duka.
Antara Loyalitas Buta dan Luka Sejarah yang Dalam

Eurico Guterres adalah potret pahit dari kompleksitas konflik Timor Timur: sebuah perpaduan antara nasionalisme yang ekstrem, militerisme yang kaku, dan politik identitas yang rapuh, semuanya bercampur tanpa rem pengaman. Ia bukanlah sekadar individu, melainkan representasi dari sebuah sistem—di mana milisi sipil dijadikan alat politik dan kekerasan dilegalkan oleh situasi yang genting dan penuh manipulasi.

Bagi para pendukungnya, Eurico Guterres adalah simbol keberanian yang tak gentar dalam mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun, bagi para korban dan keluarga mereka, ia adalah luka yang tak tersembuhkan, simbol kebiadaban yang masih membekas.

Sejarah Timor Timur tak dapat dibaca hanya dalam nuansa hitam putih. Namun, satu pelajaran penting yang bisa diambil adalah:

Ketika negara bermain api dengan memanfaatkan milisi sipil dan memupuk loyalitas buta, yang terbakar bukan hanya wilayah fisik semata—melainkan kemanusiaan itu sendiri. Dan Eurico Guterres akan selalu dikenang sebagai salah satu wajah paling keras dari babak paling kelam dalam sejarah Timor Leste.

Share. Facebook WhatsApp Twitter Telegram
Muhammad Taslim.SH
  • Website

Related Posts

Pengguna Sabu di Kalukalukuang Ditangkap, Laskar Merah Putih  (LMP)  Pangkep Desak Penindakan Tanpa Toleransi

April 18, 2026

Geger Pesisir Pantai Pangkep: Warga Temukan ‘Harta Karun’ 1 Kg Sabu Tak Bertuan

April 17, 2026

Peduli Sesama, Aksi Solidaritas Gabungan Universitas Alauddin Makassar Bersama Masyarakat Padang Lampe Galang Bantuan Korban Kebakaran

April 17, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Top Posts

Awal Bulan Suci Ramadhan, Kapolda Sulsel Berikan Himbauan Kepada Masyarakat*

Maret 14, 2024

Seorang Penggali Kubur TPU Kelurahan Talaka-Pangkep dihebohkan Ular Kepala dua

Januari 16, 2024

Dianggap Menodai perjuangan ummat untuk boikot produk Israel Sayful Ayyubi Sekertaris DPD FPI Sulsel, Di Non Aktifkan

Maret 4, 2024

Mahfud MD: Berdemokrasi dan Menegakkan Hukum Perlu Kesabaran

Maret 14, 2023
Don't Miss
Uncategorized

Tiga Pengguna Sabu di Kalukalukuang Ditangkap, Laskar Merah Putih  (LMP)  Pangkep Desak Penindakan Tanpa Toleransi

By Muhammad Taslim.SHApril 18, 2026

Lintas-Khatulistiwa.com | PANGKEP — Penangkapan tiga warga yang diduga terlibat penyalahgunaan narkotika jenis sabu-sabu di…

Geger Pesisir Pantai Pangkep: Warga Temukan ‘Harta Karun’ 1 Kg Sabu Tak Bertuan

April 17, 2026

Peduli Sesama, Aksi Solidaritas Gabungan Universitas Alauddin Makassar Bersama Masyarakat Padang Lampe Galang Bantuan Korban Kebakaran

April 17, 2026

Bhabinkamtibmas Polsek Ma’rang Sambang di Resepsi Pernikahan Warga Binaan

April 17, 2026
Stay In Touch
  • Facebook
  • Twitter
  • Pinterest
  • Instagram
  • YouTube
  • Vimeo

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

Demo
About Us
About Us

Your source for the lifestyle news. This demo is crafted specifically to exhibit the use of the theme as a lifestyle site. Visit our main page for more demos.

We're accepting new partnerships right now.

Email Us: info@example.com
Contact: +1-320-0123-451

Facebook X (Twitter) Instagram YouTube WhatsApp TikTok Telegram
Our Picks

Tiga Pengguna Sabu di Kalukalukuang Ditangkap, Laskar Merah Putih  (LMP)  Pangkep Desak Penindakan Tanpa Toleransi

April 18, 2026

Geger Pesisir Pantai Pangkep: Warga Temukan ‘Harta Karun’ 1 Kg Sabu Tak Bertuan

April 17, 2026

Peduli Sesama, Aksi Solidaritas Gabungan Universitas Alauddin Makassar Bersama Masyarakat Padang Lampe Galang Bantuan Korban Kebakaran

April 17, 2026
Most Popular

Awal Bulan Suci Ramadhan, Kapolda Sulsel Berikan Himbauan Kepada Masyarakat*

Maret 14, 2024

Seorang Penggali Kubur TPU Kelurahan Talaka-Pangkep dihebohkan Ular Kepala dua

Januari 16, 2024

Dianggap Menodai perjuangan ummat untuk boikot produk Israel Sayful Ayyubi Sekertaris DPD FPI Sulsel, Di Non Aktifkan

Maret 4, 2024
© 2026 LINTAS KHATULISTIWA by WEBPro.
  • Privacy Policy
  • Indeks Berita
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.