Lintas-Khatulistiwa.com | Jakarta,- Di tengah dinamika kehidupan militer yang penuh tantangan, sosok Mayor Infanteri Habib Ahmad bin Muhammad Assegaf hadir sebagai teladan. Ia membuktikan bahwa kecintaan terhadap agama dan loyalitas kepada tanah air bukanlah dua kutub yang terpisah, melainkan satu kesatuan yang harmonis dalam napas pengabdian seorang perwira TNI Angkatan Darat.
Jejak Langkah Sang Prajurit
Lahir di Jeddah, Arab Saudi, pada 29 Juli 1987, Habib Ahmad memiliki latar belakang keluarga yang religius. Ia merupakan putra dari Habib Muhammad bin Hamid Assegaf yang berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah. Masa kecil yang ia lalui dengan berpindah pindah antarnegara—dari Arab Saudi ke Singapura, sebelum akhirnya menetap di Jakarta pada usia tujuh tahun—membentuk karakter yang adaptif dan disiplin.
Keputusan Habib Ahmad untuk terjun ke dunia militer bermula dari sebuah keinginan mulia untuk mewujudkan cita cita sang ayah. Sang ayah, yang dahulu terkendala aturan karena merupakan anak laki laki tunggal, menitipkan mimpinya kepada sang putra. Bagi Habib Ahmad, mengenakan seragam taruna Akademi Militer (Akmil) bukan sekadar profesi, melainkan bentuk bakti kepada orang tua sekaligus janji setia kepada bangsa dan negara.
Karier yang Ditempa Keringat dan Pengabdian
Setelah lulus Akmil pada tahun 2008, perjalanan dinas Habib Ahmad dimulai di Batalyon Infanteri Para Raider 431, Kariango, Makassar. Kariernya terus menanjak berkat dedikasi dan profesionalisme yang ia tunjukkan di berbagai medan tugas.
Ia pernah memegang peran strategis seperti Perwira Seksi Pengamanan, Kepala Seksi Intelijen di Malang (2019–2022), hingga jabatan Wakil Komandan Batalyon Para Raider 503 di Mojokerto. Pengalaman ini didukung dengan pendidikan lanjutan yang ia tempuh pada tahun 2018, yang semakin mengasah kapabilitasnya sebagai pemimpin lapangan.
Penjaga Kedaulatan di Beranda Negeri
Ketangguhan fisik dan mental Habib Ahmad teruji melalui berbagai operasi militer. Ia telah terjun langsung dalam tiga operasi besar, termasuk dua kali penugasan pengamanan perbatasan (Pamtas) Republik Indonesia–Papua Nugini (RI–PNG) dan satu penugasan luar negeri. Menjaga batas kedaulatan di wilayah yang penuh risiko merupakan pengabdian nyata yang menuntut kesiapsiagaan 24 jam.
Di balik ketegasan sikapnya sebagai seorang perwira, Habib Ahmad adalah seorang suami yang penuh pengorbanan. Menikah pada tahun 2013, ia sering kali dihadapkan pada pilihan sulit antara keluarga dan tugas negara. Salah satu momen yang tak terlupakan adalah ketika ia harus meninggalkan sang istri yang sedang mengandung selama sembilan bulan demi menjalankan amanah tugas. Dukungan keluarga menjadi pilar kekuatan yang membuatnya tetap tegar di garis depan.
Inspirasi bagi Generasi Muda
Kisah Mayor Inf. Habib Ahmad bin Muhammad Assegaf memberikan pesan kuat: pengabdian kepada Tuhan tidak hanya dilakukan melalui mimbar dakwah, tetapi juga melalui perlindungan terhadap rakyat dan pertahanan kedaulatan negara. Sosoknya menegaskan bahwa iman, bakti kepada orang tua, dan nasionalisme adalah fondasi utama bagi seorang prajurit sejati.
Ia telah membuktikan bahwa seragam loreng yang dikenakannya adalah simbol dari tanggung jawab besar, di mana setiap derap langkahnya adalah dedikasi bagi kemuliaan bangsa Indonesia.

