Jakarta– Sabtu,30 Agustus 2025, Tampaklah di hadapan kita, sebuah potret buram yang bukan sekadar refleksi suatu saat, melainkan cerminan baru yang menghiasi berbagai penjuru negeri. Apa yang Anda deskripsikan bukanlah kejadian yang terpisah, melainkan mata rantai dari krisis kepercayaan yang mendalam, arogansi kekuasaan yang merajalela, dan ironi yang menusuk ulu hati, di mana negara yang seharusnya menjadi pelindung justru menjelma menjadi pihak yang menggilas. Ini adalah sumber petaka yang mengancam kirim-sendi kebangsaan.
Gambar bergerak itu, terekam kamera, adalah penistaan terhadap janji dan amanah. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, yang seharusnya menjadi lentera harapan bagi konstituennya, terlihat berjogetan riang di atas berbagai derita rakyat. Mereka menulis di atas puing-puing kemiskinan, kemiskinan ekonomi, dan mengungkapkan hati yang terabaikan. Lebih parah lagi, bibir yang seharusnya menyuarakan aspirasi rakyat justru melontarkan makian bernada arogansi (TOLOL) , seolah-olah kursi empuk yang mereka duduki adalah hak prerogatif, bukan pinjaman dari keringat dan harapan pemilih.
Ironisnya, merekalah yang ditempatkan di “kursi kebahagiaan” oleh suara rakyat yang kini mereka maki. Rakyat yang “melarat dan terabaikan” adalah tulang punggung yang mendongkrak mereka ke puncak kekuasaan. Kontras ini menciptakan jurang pemisah yang semakin lebar: di satu sisi kemewahan yang dipertontonkan, di sisi lain kesengsaraan yang dipadamkan. Ini bukan sekadar pelanggaran etika, melainkan pengkhianatan terhadap mandat suci yang telah dipercayakan. Luka ini mengoyak-ngoyak rasa keadilan dan menepis optimisme bahwa suara rakyat masih berarti.
Belum usai luka akibat arogansi para wakil rakyat, kita disuguhkan pemandangan yang tak kalah miris: demonstrasi yang berujung anarkis, bukan lahir dari kehendak murni rakyat untuk merusak, melainkan dipicu oleh ulah oknum penegak hukum yang tidak beradab. Pengendara Ojek Online (Ojol), simbol pekerja keras yang berjuang mempertahankan idealismenya dan menyuarakan aspirasinya tentang keadilan hidup, justru berhadapan dengan represi. Mereka yang mencari nafkah di jalanan, yang menjadi roda penggerak ekonomi mikro, menjadi korban tindakan brutal.
Puncaknya, aspirasi yang seharusnya didengar, ditanggapi dengan kekerasan fisik, lalu secara simbolis dan harfiah digilas oleh “Mobil Tangkis” milik negara. Mobil tangkis itu, sebuah alutsista yang dibeli dengan dana dari pajak rakyat, yang seharusnya melindungi dan mengamankan warganya, justru digunakan untuk menindas dan membungkam. Ini adalah ironi yang menusuk ulu hati: uang keringat rakyat yang dikumpulkan melalui pajak, kini berbalik menjadi alat penindasan terhadap mereka sendiri.
Tindakan oknum BRIMOB yang tidak beradab itu bukan hanya melukai seorang individu, tetapi juga mencederai rasa keadilan seluruh bangsa. Ia menciptakan bara dendam dan ketidakpercayaan yang membara, memicu anarkisme bukan sebagai tujuan, tetapi sebagai reaksi frustasi terhadap ketidakadilan yang sistematis. Bukankah tugas penegak hukum adalah melayani, mengayomi, dan melindungi, bukan menindas dan menggilas?
Kedua insiden ini memiliki benang merah yang sama: arogansi kekuasaan dan hilangnya nurani. Dari kursi parlemen yang mewah hingga jalanan yang penuh perjuangan, kita melihat betapa tipisnya batas antara pelayan rakyat dan penguasa tiran. Ketika pemimpin berjoget di atas derita rakyat, dan aparat negara menggilas suara warganya, maka yang kita saksikan adalah robeknya kain tenun kepercayaan antara rakyat dan penguasa.
Ini adalah “sumber petaka” yang sesungguhnya. Bukan sekadar masalah pribadi, melainkan krisis institusional yang mengikis fondasi demokrasi. Ketika rakyat tak lagi percaya pada wakilnya, dan takut pada aparat negaranya, maka bibit-bibit perlawanan, keputusasaan, dan bahkan disintegrasi sosial mulai tumbuh. Bangsa ini membutuhkan lebih dari sekedar perbaikan kebijakan; ia membutuhkan revolusi mental dan moral, di mana empati dan amanah kembali menjadi nakhoda, dan hukum ditegakkan tanpa memandang bulu. Tanpa itu, bara petaka ini akan terus meningkatkan habis harapan kita akan sebuah negeri yang adil, makmur, dan beradab.
Penulis: Al Fakir

