Pangkep, Lintas Khatulistiwa.com.| Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Pangkep selama sepekan terakhir akhirnya menyebabkan banjir parah di sejumlah wilayah, termasuk Kampung Gellengnge, Kelurahan Ma’rang. Fasilitas umum terendam air, dan yang paling memprihatinkan, jalur akses ekonomi vital warga terputus, menyisakan kekhawatiran mendalam bagi para petani yang lahannya tak kunjung panen.
Kampung Gellengnge, yang telah lama dikenal sebagai langganan banjir, kali ini kembali merasakan dampak dahsyat dari luapan air. Luasnya lahan pertanian, diperkirakan mencapai 100 hektare, tergenang air hampir sepanjang tahun. Akibat minimnya perhatian terhadap irigasi dari hulu ke hilir, para petani di wilayah ini nyaris tak pernah bisa menanam padi. Genangan air yang tak kunjung surut membuat lahan subur mereka terkatung katung dalam keputusasaan.
Tragedi di Tengah Arus Deras
Banjir kali ini tidak hanya melumpuhkan aktivitas warga, tetapi juga menimbulkan insiden menegangkan. Sebuah mobil Innova yang nekat menerobos genangan air di badan jalan yang diperkirakan mencapai ketinggian 80 cm, terseret oleh arus deras. Beruntung, penumpang di dalamnya berhasil selamat dari amukan air yang menyeret kendaraan mereka. Kejadian ini sontak menghentikan laju lalu lintas, dan pemilik mobil harus menunggu bantuan mobil derek untuk mengevakuasi kendaraannya dari tepi sungai.
Pantauan Lintas Khatulistiwa.com di lapangan menunjukkan bahwa genangan air meluas sejauh kurang lebih 1 kilometer, membentang dari Kampung Pakkeccie hingga Kampung Gellengnge di Kelurahan Ma’rang, Kecamatan Ma’rang. Situasi ini secara efektif memutus hubungan antara Kelurahan Ma’rang dengan Kelurahan Bonto Bonto Utara dan Kelurahan Attasalo Utara.
Menyikapi kondisi darurat ini, Lurah Ma’rang, Andi Rita Welly, S.Sos., MM, terlihat berada di lokasi kejadian memantau situasi banjir. Beliau terus menerus menghimbau masyarakat untuk mencari jalur alternatif demi keselamatan dan kelancaran aktivitas mereka.
“Berdasarkan keterangan warga setempat yang enggan disebutkan namanya, banjir di jalur ini sudah menjadi langganan tahunan. Mereka mengaku telah merasakan fenomena ini sejak belia, bahkan hingga kini memiliki anak yang sudah duduk di bangku SMA.”Keluhnya.
Berbagai upaya telah dilakukan, termasuk pembahasan dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrembang) tingkat kelurahan dan kecamatan, namun tak kunjung mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Bahkan, Ketua Komisi II DPRD dan Camat lama pun pernah meninjau lokasi ini setahun lalu, namun respons yang diharapkan belum juga terwujud.”Ujar seorang warga.
“Sudah sering dibahas, sudah sering ditinjau, tapi ya begitulah pak. Kami hanya bisa pasrah,” ujar salah seorang warga dengan nada prihatin.
Harapan terbesar masyarakat Kampung Gellengnge adalah adanya perhatian khusus dari pemerintah daerah. Lahan pertanian seluas 100 hektare yang seharusnya menjadi sumber penghidupan terabaikan akibat banjir tahunan.”Katanya.
“Genangan Air di lahan pertanian Selama ini di akibatkan Kurangnya sistem irigasi yang memadai untuk menampung volume air dari hulu ke hilir, ditambah lagi dengan pasang laut saat banjir, semakin memperparah kondisi. Mereka berharap pemerintah dapat memberikan solusi nyata agar lahan pertanian mereka tidak lagi menjadi “hamparan kasih” yang tak berdaya di setiap musim hujan.

