LINTAS-KHATULISYIWA.COM. PANGKEP – Rabu, 18 Desember 2024, menjadi momen bersejarah bagi masyarakat Pangkajene dan Kepulauan dengan diluncurkannya Dirasa Project, sebuah komunitas yang dirancang untuk menjadi wadah bagi para pembuat konten, spesialis media sosial, serta pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia. Acara ini dihelat di Logos Coffee, dekat Tugu Bambu Runcing di pusat kota Kelurahan Padoang Doangan, Kecamatan Pangkajene.
Dipimpin oleh Ramli Sirajuddin, Dirasa Project tidak hanya menandai lahirnya sebuah komunitas baru, tetapi juga diiringi dengan diskusi yang menyoroti isu-isu penting pasca pemilihan kepala daerah (Pilkada), dengan tema “Menyulam Kebersamaan, Rekonsiliasi Politik Pasca Pilkada, Mungkinkah?”
Dalam konteks politik yang terkadang menimbulkan ketegangan, acara ini bertujuan menggali berbagai kemungkinan untuk terjalinnya rekonsiliasi di antara pihak-pihak yang terlibat. Dalam berbagai hal, Ramli menekankan pentingnya dialog dan kolaborasi antar elemen masyarakat dalam memperkuat kepercayaan publik dan menciptakan harmoni. “Rekonsiliasi politik menjadi langkah penting untuk memulihkan kehidupan sosial yang harmonis,” ujarnya.

Diskusi yang dilaksanakan di acara ini menghadirkan narasumber dari berbagai tim pasangan calon (Paslon) yang berkompetisi dalam Pilkada dengan perspektif yang berbeda, dan dipandu oleh Nani Rahman Khan. Beberapa tokoh yang hadir antara lain:
Abdul Kadir Emo dari Tim Paslon No. 1 Myl – Ara yang juga menjabat sebagai Sekretaris DPD Nasdem Pangkep.
Ali Fikri mewakili Tim Paslon No.2 dr. Cua – Sofyan Razak, sekaligus Ketua DPD Partai PPP Pangkep.
Abdul Rauf dari Tim Paslon No. 3 Amka – Amir, yang merupakan Ketua DPD Partai PAN Pangkep.
Masing-masing narasumber memberikan pandangan yang beragam tentang bagaimana seharusnya proses Pilkada dijalankan, dengan mengedepankan prinsip demokrasi serta menghormati hasil pemilu. Abdul Kadir Emo menekankan bahwa setiap pihak harus taat pada hasil dan menghormati keputusan hukum yang telah ditetapkan. Sementara itu, Ali Fikri dan Abdul Rauf juga mengungkapkan pentingnya menerima hasil pemilu meskipun masih ada gugatan yang diajukan kepada Mahkamah Konstitusi.
Diskusi ini berlangsung dinamis, dengan banyak pertanyaan dan interaksi dari peserta. Nani Rahman Khan sebagai moderator mencatat bahwa dalam setiap Pilkada pasti ada kejadian, dan penting bagi semua pihak untuk saling menghormati serta mencari solusi yang adil. “Yang kalah harus legowo, dan yang menang harus bisa merangkul semua pihak,” ujarnya.
Soft launching Dirasa Project dan diskusi ini menjadi titik awal bagi kolaborasi lebih lanjut di komunitas, dengan harapan untuk memfasilitasi pertumbuhan sumber daya manusia serta menciptakan lingkungan yang lebih harmonis setelah Pilkada. Dengan upaya seperti ini, diharapkan masyarakat Pangkajene dan Kepulauan dapat mencapai kesepakatan yang konstruktif dan memperkuat solidaritas sosial demi kemajuan bersama.

