LINTAS-KHATULISTIWA.COM. MAKASSAR– Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Makassar, Kementerian Sosial, baru-baru ini menyelenggarakan pembukaan program pelatihan layanan penyejuk udara (AC) bagi 30 peserta, yang terdiri dari 10 mantan narapidana terorisme (napiter) dan 20 mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI). Tujuan dari program ini adalah untuk membekali mereka dengan keterampilan dan mendukung reintegrasi sosial mereka, terutama bagi mereka yang sebelumnya terlibat dalam radikalisme kekerasan.
Acara tersebut dihadiri oleh beberapa tokoh penting, antara lain personel Densus 88 Antiteror, Satgaswil Densus 88 dari berbagai daerah, perwakilan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Polda Sulsel, dan pejabat pemerintah daerah. Kehadiran mereka menunjukkan dukungan yang kuat terhadap inisiatif deradikalisasi ini melalui pendekatan kewirausahaan.
Upacara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, pembacaan Pancasila, dan doa oleh mantan napiter. Sambutan disampaikan oleh Kepala BBPPKS Kemensos Makassar, Ka BNPT, Brigjen Pol Torik Triyono, dan perwakilan dari PT Astra International, mitra program.
Dalam sambutannya, Ka BNPT menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang terlibat, khususnya Densus 88, BBPPKS Kemensos, dan PT Astra. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini sejalan dengan inisiatif pemerintah untuk menggalakkan kewirausahaan sebagai bagian dari strategi penanggulangan terorisme melalui deradikalisasi.
Brigjen Pol Torik Triyono menjelaskan, pelatihan ini memberikan kesempatan bagi para peserta untuk menjadi mandiri. Berdasarkan testimoni dari para peserta, mereka kini bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp3.000.000 per bulan. Densus 88 berkomitmen untuk terus membina para mantan pelaku terorisme melalui berbagai pelatihan, seperti pelatihan servis AC, pertanian, dan perkebunan.
Perwakilan dari PT Astra International menegaskan komitmen perusahaan untuk mendukung program tersebut melalui pelatihan keterampilan, penyediaan peralatan, dan penyediaan wadah komunitas bagi para peserta. Dengan menerapkan prinsip Catur Dharma, Astra berharap program ini dapat menjadi sarana efektif untuk reintegrasi sosial.
Pendekatan inovatif dalam menyediakan pelatihan kejuruan bagi mantan teroris dan anggota JI ini merupakan langkah maju yang signifikan dalam upaya Indonesia melawan radikalisme dan ekstremisme. Pendekatan ini menawarkan jalan menuju kemandirian, mengurangi kemungkinan residivisme, sekaligus mendorong terciptanya masyarakat yang lebih sehat dan inklusif.

