LINTAS-KHATULISTIWA.COM JAKARTA, 28 Januari 2025 – Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut (Danlantamal) III Jakarta, Brigjen TNI (Mar) Harry Indarto, SE, MM, aktif memantau pembongkaran hambatan laut ilegal yang sedang berlangsung di tiga lokasi: Tanjung Pasir, Mauk, dan Kronjo di Tangerang, Banten. Operasi yang dilakukan dari posko di Tanjung Pasir ini dimulai pada Minggu, 26 Januari 2025.
Kepada media, Brigjen TNI (Mar) Harry Indarto menegaskan komitmen TNI AL melalui Lantamal III Jakarta untuk bekerja sama dengan instansi kelautan dan masyarakat nelayan setempat. “Kami akan terus bersinergi untuk membongkar sekat-sekat laut di ketiga lokasi tersebut. Tujuannya agar sekat-sekat tersebut dapat disingkirkan dan nelayan dapat mengakses dengan mudah,” ungkapnya.
Operasi gabungan tersebut melibatkan 475 personel dari TNI AL, Badan Keamanan Laut (Bakamla RI), Polisi Perairan (Polair), dan masyarakat nelayan setempat. Upaya bersama ini telah berhasil membongkar 15,5 kilometer penghalang laut di tiga lokasi, yakni Tanjung Pasir, Kronjo, dan Mauk. Namun, dari total 30,16 kilometer penghalang laut, masih ada 14,66 kilometer yang belum dibongkar.

(Foto: Dispen Lantamal III Jakarta)
TNI AL telah mengerahkan asetnya untuk membantu operasi tersebut, meliputi empat kapal patroli (KAL/Patkamla), enam perahu dayung, tiga belas perahu karet, dua perahu RBB (Rigid Buoyancy Boat) dan dua perahu RHIB (Rigid Hull Inflatable Boat). Nelayan setempat juga turut memberikan kontribusi dengan menyediakan perahu mereka, yang menunjukkan rasa keterlibatan masyarakat yang kuat dalam proses pembongkaran.
Brigjen TNI (Mar) Harry Indarto mengakui adanya kendala yang dihadapi tim pembongkaran. “Cuaca tidak menentu, mendung, hujan, angin kencang, arus deras, dan gelombang tinggi. Selain itu, bambu-bambu tersebut tertanam dalam di dasar laut, berkisar 1,5 hingga 2,5 meter, sehingga sulit dicabut,” jelasnya. Perairan yang dangkal, sekitar satu meter, juga mengakibatkan perahu karet kandas, sehingga menyulitkan tim untuk mengamankan dan mencabut bambu. Jarak tanam yang rapat dan ukuran bambu yang tertanam dalam di dasar laut semakin mempersulit operasi.
Kendati demikian, satuan tugas gabungan tetap bertekad untuk menyelesaikan tugas secepat dan seefisien mungkin. Operasi ini bertujuan untuk menyingkirkan semua hambatan yang menghalangi akses nelayan ke laut, sehingga mereka dapat mencari nafkah dengan bebas.

