Pangkep.lintas-khatulistiwa.com
Kerajaan Ma’rang, terletak di Sulawesi, Kab. Pangkajane dan Kepaulauan, prov. Sulawesi Selatan. Kekaraengan (kerajaan) Ma’rang mulai berdiri sejak 100 tahun lalu.
“Tentang kerajaan Ma’rang”
.
Distrik Ma’rang dikepala oleh seorang Karaeng, yang mempunyai tujuh kepala Kampung, terdiri dari 1. PituE (Lokmo), 2. Ma’rang (Matowa), 3. Bontosunggu (Lokmo), 4.Laikang (Gallarang), 5. Tala (Mado), 6. Bonto – Bonto (Mado’), 7. Kassi (Jennang).
Menurut riwayat kekaraengan Ma’rang mulai berdiri sejak 100 tahun lalu. Karaeng yang pertama bernama Daeng Mattola dari keturunan Lokmo di PituE. Dahulu PituE itu meliputi kampong – kampong PituE, Ma’rang dan Bontosunggu. Perkampungan itu didirikan oleh orang – orang Bugis. Arajangnya terdiri dari sebilah Bajak. Menurut riwayat Kampung Laikang tersebut didirikan oleh orang – orang yang berasal dari Lemo – lemo (Bira, Bulukumba).
Sosok H. Abd Latif Makanung
Yang pernah menjabat sebagai “GALLARENG LAIKANG” 1968

“Disamping Kekaraengan Ma’rang yang terdiri dari Kampung – kampong Ma’rang, PituE, Bontosunggu dan Laikang tercatat sebuah kekaraengan Tala yang meliputi Kampung – kampung seperti: Tala, Bonto – Bonto dan Kessi Kebo. Kampung – kampung itu didirikan oleh orang – orang Bone yang berasal dari Mampua (Bone). Orang – orang Mampua itu datang bersama – sama dengan rajanya (Arung Mampu) yang berslisih dengan Hadat Mampu. Sebelum meninggalkan Mampu dan tinggal di Tala pada permulaan abad ke-19, Arung Mampu mengangkat pemuka – pemuka atas Kampung – kampung tersebut. Arung Mampu dimaksud bernama La Makkulau.
“Arung Mampu La Makkulau ini kemudian mengangkat kemenakannya bernama Daeng Matutu menjadi Sullewatang di Tala. Pada Tahun 1868 kearungan Tala yang berdiri sendiri itu digabungkan, masuk pada kekaraengan Ma’rang, disekitar tahun 1920, Tawakkaln Daeng Marola diangkat sebagai Karaeng Ma’rang, kemudian dia digantikan oleh Andi Pintara’, turunan dari Arung Mampu, La Makkulau, kemudian dia digantikan lagi oleh puteranya yang bernama Andi Makin. Setelah meninggal dunia, dia digantikan oleh puteranya yang bernama Andi Sadda’.
“Hubungan kerajaan Ma’rang Pangkep dengan kerajaan Polongbangkeng.
“Pada tahun 1946 Belanda mengasingkan keluarga para pejuang di Polobangkeng yang di pimpin langsung oleh Karaeng Polongbangkeng H. Padjonga Dg. Ngalle, yang di perkirakan berjumlah kurang lebih 162 orang.
“Ketika itu mereka di asingkan ke Pangkep (di Selong). Dengan tujuan belanda pada waktu itu mengasingkan keluarga tersebut, untuk memutus mata rantai para keluarga pejuang di Polongbangkeng.
“Namun karena H. Padjoga Daeng Ngalle ini memiliki beberapa kerabat di Pangkep akhirnya Keluarga Pejuang Polongbangkeng ini selama berada di Pangkep di fasilitasi oleh Karaeng Pangkajene/Kareang Ma’rang,
Sekitar kurang lebih setahun di Pangkep, H. Padjonga Dg. Ngalle dan keluarga para pejuang di Takalar tinggal bersama, sehinga Karaeng Ma’rang menganggap seluruh Keluarga Polongbangkeng sebagai keluarganya sendiri.
“Dan pada 28 februari 1947 Ranggong gugur di gunung Langgese, karena beliau gugur maka Keluarga Karaeng Polongbangkeng yang di asingkan oleh Belanda membulatkan tekatnya untuk kembalikan ke Polongbangkeng.
“Sejak saat itu hubungan emosional antara Karaeng Ma’rang dan Karaeng Polongbangkeng terus terjalin, sehingga untuk menjaga hubungan silaturahmi antara ke dua kerajaan tersebut, (keluarga Karaeng Ma’rang dan Keluarga Karaeng Polongbangkeng H. Padjonga Dg. Ngalle), maka Karaeng Ma’rang menjodohkan putranya yang bernama A.Sadda dengan Putri Karaeng Polongbangkeng Yang bernama A.Besse Enre Patta Sompa.
“Inilah awal mula sehingga kerajaan Pangkep dan kerajaan Polongbangkeng tak bisa terpisahkan.
“Dari kiri ke kanan: YM Raja Laikang, (ke-2 dari kiri) YM Raja Ma’Rang), Andi Haslan Krg Tompo, Raja Binamu, YM Perdana Menteri Kerajaan Sekala Brak dan YM Raja Barombong usai penyerahan Alqur’an kuno berumur 500 tahun yang terbuat dari kulit kayu. 27/2/24

Sumber https://id.wikipedia.org
Taslim98

