Eks anggota Tim Mawar Kopassus, Fauka Noor Farid mengatakan para purnawirawan TNI-Polri wajib turut serta menjaga kondusifitas masyarakat dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.
“Walaupun status mereka sudah resmi pensiun dari pengabdian, namun para purnawirawan tetap harus terlibat menjaga ketertiban sebagaimana saat mereka bertugas.
“Menurutnya, sekalipun para purnawirawan TNI-Polri dari berbagai era menjadi tim sukses (timses) para calon presiden dan wakil presiden di Pilpres, mereka tidak boleh memanaskan suasana.
“Secara personal saya harap mereka (purnawirawan TNI-Polri) yang ada di setiap paslon harusnya bisa saling menjaga ketenangan, kedamaian,” kata Fauka,” Senin (29/1/2024).
“Menurut purnawirawan TNI berpangkat Kolonel itu, seorang prajurit dididik untuk menjaga keamanan demi kepentingan bangsa, dan hal ini tidak boleh dilupakan.
“Berdasarkan hal itu, perbedaan pandangan masyarakat dalam menentukan pilihan pada Pemilu 2024 dapat diredam masing-masing purnawirawan TNI-Polri yang terlibat di masing-masing paslon
“Kami kan sudah dididik untuk kepentingan bangsa negara atau NKRI harga mati. Harusnya setiap purnawirawan, senior-senior saya yang ada di setiap paslon komitmen dengan itu,” lugasnya. Kami kan sudah dididik untuk kepentingan bangsa negara atau NKRI harga mati. Harusnya setiap purnawirawan, senior-senior saya yang ada di setiap paslon komitmen dengan itu,” lugasnya.
“Pria yang juga mantan komandan kelompok khusus Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI itu menjelaskan kalau hal itu tidak dilakukan akan memungkinkan terjadi konflik.
Konflik tersebut pun dapat pengaruh dari sejumlah pihak yang kemudian merugikan masyarakat.
“Jangan karena tendensius ada satu Paslon yang elektabilitasnya tinggi berusaha menjegal. Kami harus menjaga, jangan memanas-manasin. Harus menjaga persatuan bangsa,” ucapnya.
“Fauka mengungkapkan para purnawirawan TNI-Polri justru memahami aspek bahaya yang timbul bila terjadi perpecahan.
“Terkhusus konflik di masyarakat karena perbedaan pandangan Pemilu 2024.
“Prajurit itu paham juga terdapat perbedaan pandangan dalam menilai sosok pemimpin, dan justru jangan membuat perpecahan,” pungkasnya

