LINTAS-KHATULISTIWA.COM. PANGKEP,- Mengukuhkan Jiwa Pancasila di Serambi Bahari Pangkep: Sebuah Renungan dari Lapangan Citra Mas
Di bawah terik mentari pagi yang memudar perlahan oleh awan tipis, Alun-alun Lapangan Citra Mas di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) menjadi Saksi bisu dari sebuah janji yang diperbarui. Pada hari Rabu, 1 Oktober, gema semangat kebangsaan membahana, menyatukan berbagai lapisan masyarakat dalam upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan pengukuhan kembali ikrar yang terukir dalam sanubari bangsa.
Upacara yang dipimpin langsung oleh Bupati Pangkep, Muhammad Yusran Lalogau, menghadirkan gambaran nyata dari Bhinneka Tunggal Ika. Di barisan yang rapi, tampak hadir jajaran Forkopimda, gagahnya anggota TNI-Polri, ceria dan penuh harapan para pelajar, perwakilan organisasi masyarakat, kesigapan Satpol PP dan Damkar, serta berbagai elemen masyarakat lainnya. Kehadiran mereka sepadu langkah, menciptakan atmosfer khidmat sekaligus penuh gelora, menegaskan bahwa Pancasila adalah milik bersama, perekat yang tak terbantahkan.

Dalam kesempatan yang sarat makna ini, Bupati Muhammad Yusran Lalogau tak hanya berpidato, namun menyampaikan sebuah harapan, sebuah amanah. Sorotannya muncul pada generasi penerus, khususnya pelajar dan pemuda Pangkep. “Jangan hanya menghafal, tapi juga mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” pesannya, menggugah. Ajakan itu lebih dari sekedar nasihat, ia adalah panggilan untuk aksi nyata: “aktif melakukan berbagai kegiatan yang mencerminkan semangat kepancasilaan.” Sebuah penekanan bahwa Pancasila bukan sekadar teks mati dalam buku sejarah, melainkan jiwa yang hidup, yang berdenyut dalam setiap interaksi, setiap keputusan, setiap langkah pembangunan.
Kemulusan dan semangat upacara tak luput dari perhatian Bupati. “Semua petugas saya sangat bersemangat untuk melaksanakan kegiatan Hari Kesaktian Pancasila pada pagi hari ini,” ungkapnya, mengapresiasi energi kolektif yang terpancar. Semangat itu bak suluh yang menyala, menyampaikan komitmen Pangkep untuk menjaga dan merawat ideologi bangsa.
Melengkapi pesan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Pangkep, Sabrun Jamil, menambahkan kedalaman sejarah pada peringatan ini. Ia mengingatkan akan urgensi “mengenang sejarah.” Tema peringatan tahun ini, “Pancasila Perekat Bangsa Menuju Indonesia Raya,” bukan sekedar slogan. Ia adalah penegasan atas perjalanan panjang bangsa yang penuh liku. “Indonesia pernah berada dalam masa kelam, ketika ideologi Pancasila coba dirongrong,” kenang Sabrun. Namun, sejarah mencatat, berkat “persatuan dan kesatuan seluruh rakyat Indonesia,” Pancasila tetap tegak, kokoh sebagai dasar negara dan pandangan hidup.
Pesan Sabrun Jamil menutup tirai dengan afirmasi yang menguatkan: “Meski kita berbeda suku, agama, ras, dan bahasa, kita tetap satu dalam bingkai Indonesia Raya.” Kalimat ini, diucapkan di tengah keanekaragaman Pangkep yang kaya akan budaya pesisir dan kepulauan, menjadi penanda abadi. Bahwa di setiap ombak yang membelah di pantai-pantai Pangkep, di setiap hembusan angin yang menembus hutan bakau, dan di setiap langkah masyarakatnya, ada semangat Pancasila yang tak pernah padam.
Hari Kesaktian Pancasila di Pangkep bukan hanya tentang mengenang peristiwa kelam, melainkan tentang merayakan ketahanan, menghargai persatuan, dan menumbuhkan kembali benih-benih kebaikan Pancasila di hati setiap warga, khususnya para pewaris bangsa. Dari Alun-alun Lapangan Citra Mas, gaung harapan itu mengalir, mengajak seluruh elemen masyarakat Pangkep untuk tidak hanya menjadi saksi, tetapi menjadi pelaku aktif dalam merawat dan mengaktualisasikan Pancasila, demi Indonesia Raya yang berdaulat, adil, makmur, dan lestari.

