Lintas-Khatulistiwa.com | Makassar, Sulawesi Selatan – Di saat gema takbir Idul Fitri mengalun merdu, membahana di setiap sudut kota dan sendi desa di seluruh penjuru Nusantara, hutan belantara Sulawesi justru menjadi saksi bisu sebuah peristiwa monumental yang mengakhiri dekade pemberontakan panjang.
“Bukan lantunan kemenangan yang terdengar di sana, melainkan desis napas prajurit TNI, gemeretak senjata, dan tekad baja untuk mengubur dalam dalam pemberontakan yang telah menderu lebih dari satu dekade. Peristiwa bersejarah ini terjadi tepat pada Hari Raya Idul Fitri, 3 Februari 1965.
Perburuan Sang Pemberontak
Pada fajar Idul Fitri 1965 itu, Tentara Nasional Indonesia (TNI) melancarkan operasi penyergapan pamungkas terhadap Kahar Muzakkar, sosok sentral di balik pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Sulawesi. Operasi yang diberi sandi Operasi Kilat ini, berada di bawah komando Kolonel Inf Solichin GP. Sasaran tunggalnya jelas: menangkap Kahar Muzakkar, hidup atau mati.
“Titik operasi ini berpusat di hutan lebat yang mengelilingi Sungai Lasolo, sebuah wilayah yang selama bertahun tahun telah menjadi benteng pelarian alami bagi Kahar Muzakkar.
Taktik pengepungan tapal kuda diterapkan dengan cermat untuk menutup segala kemungkinan jalur pelarian. Kekuatan inti operasi ini digerakkan oleh Yonif 330/Para Kujang I, di bawah pimpinan Mayor Yogie S. Memed. Empat kompi pasukan ditugaskan secara spesifik untuk menyisir sektor selatan dan tenggara.
“Kehadiran Pasukan Siliwangi dalam operasi ini bukanlah sebuah kebetulan. Panglima Kodam Hasanuddin, Kolonel M. Jusuf, secara khusus meminta mereka berdasarkan rekam jejak gemilang mereka dalam menumpas pemberontakan DI/TII di Jawa Barat, termasuk keberhasilan mereka dalam menangkap Kartosoewirjo, Imam Besar DI/TII. Kolonel Solichin GP, seorang perwira senior Siliwangi, kembali menerapkan strategi yang telah terbukti efektif: merebut simpati rakyat.
Pendekatan ini terbukti menjadi kunci keberhasilan. Prajurit Siliwangi dikenal taat beragama, kerap terlihat menunaikan salat berjamaah, berkumpul di musala, dan berinteraksi dengan masyarakat setempat. Di tengah masyarakat Sulawesi yang juga sangat religius, sikap ini menjadi jembatan kepercayaan yang kokoh.
“Dukungan terhadap DI/TII pun perlahan menyurut; satu per satu pengikut Kahar Muzakkar mulai menyerah, bahkan istrinya sendiri, Andi Rawe, lebih dahulu menyerahkan diri kepada pihak berwenang.
Ketangguhan di Ambang Batas
Sejak tahun 1964, intensitas pengejaran terhadap Kahar Muzakkar semakin meningkat. Namun, medan hutan Sulawesi yang ganas seringkali menjadi penghalang utama.
“Titik terang muncul pada Januari 1965, ketika RPKAD berhasil menangkap seorang perwira kepercayaan Kahar. Dari informasi krusial yang diperoleh, terkuaklah lokasi keberadaan Kahar: di sekitar Sungai Lasolo.
Sebuah peleton dari Peleton 1 Kompi D, yang dipimpin oleh Peltu Umar Sumarsana, bergerak sejak 27 Januari 1965 dengan bekal logistik yang hanya cukup untuk empat hari. Seharusnya mereka kembali pada 31 Januari. Namun, naluri tempur yang kuat dan penemuan jejak baru membuat Peltu Umar mengambil keputusan berani untuk terus maju.
‘Ketika bekal makanan benar benar habis, para prajurit ini menunjukkan ketangguhan luar biasa dengan bertahan hidup hanya dengan memakan dedaunan. Ini adalah potret ketangguhan prajurit di batas kemampuan manusia.
Upaya luar biasa ini tidak sia sia. Pada 1 Februari 1965, mereka berhasil menangkap Menteri Kesehatan RPII beserta beberapa simpatisan Kahar. Keesokan harinya, hasil pengintaian menunjukkan adanya bivak di tengah hutan. Peltu Umar dengan sigap menahan pasukannya, memperketat pengepungan, dan keyakinan semakin menguat saat terdengar sayup sayup alunan lagu “Kenang kenangan”, yang diketahui merupakan lagu kegemaran Kahar Muzakkar.
“Akhir Pelarian Sang Pemberontak
Dini hari, 3 Februari 1965, ketika umat Islam di seluruh dunia bersiap menyambut suka cita Hari Raya Idul Fitri, sebanyak 30 prajurit menyeberangi sungai, sementara empat prajurit lainnya ditugaskan untuk menutup jalur pelarian. Saat matahari mulai meninggi, Kopral Satu Ili Sadeli mendengar suara radio dari balik pepohonan. Di wilayah DI/TII, penggunaan radio sangat dibatasi, hanya diperuntukkan bagi Kahar Muzakkar. Hal ini menjadi petunjuk kuat.
Sadeli bergerak mendekati sebuah rumah. Tiba tiba, seorang pria keluar sambil membawa tas. Saat berpapasan, pria tersebut berusaha keras untuk melarikan diri. Tiga tembakan dilepaskan dari senapan Thompson, dan sang buronan tersungkur.
Pemeriksaan cepat terhadap jenazah mengungkap detail yang mencolok: sebuah jam tangan Titus, sebuah pulpen Pelican, serta uang tunai sebesar Rp65.000, jumlah yang sangat besar pada masa itu. Keraguan pun sirna. Itulah Kahar Muzakkar.
Jenazahnya segera diterbangkan ke Makassar untuk proses identifikasi. Demi kepastian mutlak, TNI AD hanya mengizinkan istri dan kedua anaknya untuk melihat langsung. Konfirmasi terakhir yang menegaskan identitasnya datang dari putranya, Abdullah. Dengan demikian, berakhirlah pelarian panjang pemimpin DI/TII Sulawesi, tepat di momen keagungan Hari Raya Idul Fitri.

