LINTAS-KHATULISTIWA.COM. Makassar,- Hiruk pikuk Bandara Sultan Hasanuddin Makassar selalu punya cerita. Bagi seorang musafir, bandara bukan hanya gerbang keberangkatan atau kedatangan, melainkan juga tempat bertemunya berbagai kisah, dari perpisahan haru hingga reuni yang tak terduga. Namun, pertemuan yang saya alami beberapa waktu lalu, saat hendak bertolak menuju Jakarta, jauh melebihi ekspektasi. Ini adalah kisah tentang Asrul, teman utama saya 28 tahun lalu, yang kini saya temukan sebagai sosok ‘sukses’ di Angkasa Pura.
Dua puluh delapan tahun. Rentang waktu yang panjang itu terasa begitu singkat ketika mata saya beristirahat pada sosok berseragam Angkasa Pura yang mengatur kesibukan penumpang di salah satu gerbang keberangkatan. Ada keraguan, namun juga rasa familiar yang kuat. Senyumnya, postur tubuhnya, bahkan cara dia berbicara kepada rekan kerjanya—mirip, sangat mirip. Mungkinkah?
Saya memberanikan diri mendekat, jantung berdebar antara rasa ingin tahu dan tidak percaya. “Asrul ?” panggil aku pelan. Sosok itu menoleh, matanya membesar, dan senyum lebar yang tak kulihat selama dua dekade pun merekah. “Wah, kau! Apa kabar?!” Suara itu, tawa itu, benar-benar Asrul.
Asrul, teman sepermainan saya sejak bangku SMP. Kami menghabiskan masa remaja dengan hal-hal sederhana: bersepeda keliling kampung, bermain layangan hingga senja, atau mendiskusikan impian masa depan yang kala itu terasa begitu jauh dan abstrak. Setelah lulus SMA, kami dipisahkan oleh pilihan jalan hidup, komunikasi perlahan merenggang, dan akhirnya terputus sama sekali.
Kini, di tengah gemuruh suara pesawat dan pengumuman keberangkatan, Asrul yang berdiri di hadapan saya bukan sebagai teman lama yang kebetulan sedang bertugas, melainkan sebagai salah satu punggawa penting di Angkasa Pura Bandara Sultan Hasanuddin. Dari seragamnya, posturnya yang penuh wibawa, dan cara ia berbicara dengan staf, jelas ia memegang posisi yang cukup strategis. Sebuah kejutan yang luar biasa, mengingat betapa polosnya kami dulu.
“Wah, kamu betulan kerja di sini ya? Sudah jadi ‘orang besar’ sekarang!” canda saya, yang menyambut tawanya. Asrul dengan rendah hati menceritakan perjalanan panjangnya, suka-liku perjuangan, serta ketekunan yang membawanya hingga ke posisinya saat ini. Dia tidak pernah menyangka akan mencapai titik ini, seolah kesuksesan itu datang “tak sengaja” sebagai buah dari kerja keras dan dedikasi yang tak pernah henti ia berikan dalam setiap kesempatan.
Mungkin itulah esensi dari “tak sengaja sudah sukses”. Bukan berarti kesuksesan itu datang tanpa usaha, melainkan sebuah pencapaian yang mungkin tidak terbayangkan secara eksplisit di masa remaja, tumbuh dari bibit ketekunan, integritas, dan kemampuan untuk melihat peluang di setiap tantangan. Asrul adalah contoh nyata bahwa impian dapat terwujud dalam bentuk yang tak terduga, jauh melampaui batasan imajinasi masa muda.
Waktu singkat sebelum keberangkatan saya dimanfaatkan untuk bertukar nomor dan berjanji akan menyambung kembali tali silaturahmi yang terputus. Saat pesawat mulai lepas landas, meninggalkan Makassar, senyum Asrul masih terbayang.
Pertemuan tak terduga ini bukan sekadar reuni, melainkan sebuah refleksi tentang perjalanan hidup. Bagaimana setiap individu menempuh perjalanannya sendiri, terkadang bertemu di titik-titik tak terduga dengan kisah sukses yang berbeda-beda. Dari teman utama remaja yang polos, kini Asrul telah bertransformasi menjadi profesional yang memberikan inspirasi bahwa kerja keras dan ketekunan selalu menemukan jalannya, bahkan mungkin secara “tak sengaja” membawa kita ke puncak yang tak pernah kita duga.

