LINTAS-KHATULISTIWA.COM. Palembang-10 Januari 2025. Sementara kisah-kisah tentang polisi yang tekun mengerjakan banyak pekerjaan semakin umum, kisah Serma Priyo Widodo, seorang anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), menawarkan perspektif unik tentang dedikasi dan kerendahan hati. Ini bukan kisah militer biasa; ini adalah kisah seorang prajurit yang, setelah tugasnya melindungi negaranya berakhir, berubah menjadi pendaur ulang, mengumpulkan botol dan kardus bekas untuk menafkahi keluarganya.
Serma Priyo, yang bertugas di Kodim 0814 Palembang, tidak takut bekerja keras. Begitu giliran tugas militernya berakhir, ia menanggalkan seragamnya dan mengenakan kaus oblong dan celana pendek kasual, siap menghadapi tantangan yang berbeda. Di belakang rumahnya terdapat tumpukan bahan-bahan terbuang—botol plastik, kardus, dan barang-barang daur ulang lainnya, yang semuanya dikumpulkan dengan sabar dan menunggu untuk disortir. “Pekerjaan kedua” yang tidak biasa ini yang jauh dari latihan militer. lahir dari kebutuhan untuk menafkahi keluarganya, kebutuhan yang sama kuatnya dengan komitmennya untuk mengabdi kepada negara.

Perjalanan Serma Priyo menjadi pendaur ulang bukanlah jalan yang mulus. Setelah mengalami kemunduran dalam usaha peternakan dan perikanan, ia bertekad untuk mencari sumber pendapatan alternatif. Seorang teman menyarankan daur ulang, dan ia pun memutuskan untuk mencobanya. “Saya sudah menekuni ini selama tiga tahun terakhir,” jelasnya, seperti dikutip Sumsel.tribunnews.
Ia tidak membiarkan kenyataan bahwa ia adalah anggota TNI menghalanginya untuk menekuni hal-hal yang tidak konvensional. Perlahan-lahan ia mengembangkan usahanya, menghubungi toko-toko lokal untuk mengumpulkan botol-botol bekas mereka. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Ia menjalin hubungan dengan berbagai bisnis, dan volume bahan-bahan terus bertambah. “Saya terus mencari koneksi untuk mengumpulkan botol-botol dari toko-toko,” ungkapnya.
Kegigihan Serma Priyo tidak hanya memberikan stabilitas keuangan bagi keluarganya, tetapi juga tingkat keberhasilan yang mengejutkan. Ia kini memperoleh sekitar 10 juta Rupiah per bulan dari penjualan barang-barang daur ulang yang terkumpul ke lembaga-lembaga yang lebih besar. Ia bahkan membeli botol-botol dari penduduk setempat yang ingin berpartisipasi.
Namun, keberhasilannya juga menuai kritik. Beberapa rekan prajuritnya mengkritik pekerjaan sampingannya, mempertanyakan mengapa seorang anggota TNI harus terlihat memungut sampah. “Seorang prajurit memungut sampah?” kata mereka, mengejek usahanya.

Namun ejekan ini tidak membuat Serma Priyo jera. Ia tetap tenang dan menganggap pekerjaannya sebagai cara yang sah dan penting untuk menghidupi orang-orang yang dicintainya. “Biarlah mereka yang mengejek saya melakukannya. Saya hanya berusaha menafkahi keluarga saya,” ungkapnya.

