Lintas-khatulistiwa.com .Di jantung Sulawesi Selatan, tepatnya di Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep, hiduplah seorang pria yang kehidupan dan pekerjaannya telah menyatu dengan kehidupan masyarakat. Namanya Nurdin, dan selama tujuh dekade terakhir, ia telah menjadi sosok yang akrab dan menenangkan sebagai pedagang ikan keliling.
Perjalanan Nurdin dimulai pada tahun 1965, saat kereta kuda dan sepeda menjadi pemandangan sehari-hari. Ia memulai perjalanan yang membuatnya menjajakan hasil tangkapan segar di seluruh wilayah, menghubungkan masyarakat pesisir dengan pelanggan pedalaman. Rutenya, yang ditempuh setiap hari sejauh 40 kilometer, membawanya dari daerah Labakkang yang ramai, melalui jantung Pasar Induk di Pangkep, dan seterusnya ke kecamatan Ma’rang. Hari demi hari, dari pagi hingga siang, Nurdin bertekun, menawarkan hasil laut kepada pelanggan setianya.
Bagi banyak orang, Nurdin bukan sekadar penjual ikan; ia adalah tokoh yang hidup. Penulis masih ingat betul saat bertemu Nurdin pada tahun 1985, saat mereka masih duduk di bangku kelas tiga SD. Kenangan masa kecil itu berbicara banyak tentang kehadiran Nurdin yang sudah lama dan jejak yang tak terhapuskan yang ditinggalkannya di masyarakat.
Perjalanan hidup penulis sendiri membawa mereka meninggalkan Pangkep selama 22 tahun, dari tahun 1998 hingga 2019, bekerja di kota metropolitan Jakarta yang ramai. Setelah kembali ke Pangkep pada tahun 2019, perubahan tidak dapat disangkal. Namun, di tengah lanskap yang terus berubah, satu sosok yang bertahan lama tetap ada: Nurdin, yang masih tekun berkeliling dengan hasil tangkapannya setiap hari. Dan hingga tahun 2025, Nurdin masih melanjutkan pengabdiannya yang penuh dedikasi ini.
Kisah Nurdin lebih dari sekadar biografi seorang pedagang ikan. Kisah ini merupakan bukti ketangguhan, dedikasi, dan kekuatan hidup sederhana. Ia mewakili era lampau, masa ketika hubungan pribadi dan kerja keras menjadi landasan kehidupan sehari-hari. Ia adalah pengingat semangat abadi masyarakat Pangkep, dan simbol stabilitas di dunia yang berubah dengan cepat. Nurdin, pedagang ikan yang tak lekang oleh waktu, terus menjadi bagian penting dari masyarakat, legenda hidup yang membawa cita rasa laut dan semangat Pangkep dalam rute hariannya.

