LINTAS-KHATULISTIWA.COM Pangkep, – Sebuah pengungkapan mengejutkan muncul dari Kabupaten Pangkep, di mana seorang guru SMP, yang hanya diidentifikasi sebagai DS, secara terbuka menceritakan perjuangannya untuk memenuhi kebutuhan hidup sambil mendedikasikan delapan tahun untuk mendidik generasi muda bangsa. Berbicara dalam sebuah rapat dengar pendapat yang diadakan di kantor DPRD Kabupaten Pangkep pada hari Senin, 20 Januari 2025, DS mengungkapkan bahwa ia memperoleh penghasilan yang sangat sedikit, yakni Rp 100.000 (sekitar USD $6,50) per bulan.
Kontras yang mencolok antara dedikasi DS dan kompensasinya menggambarkan gambaran suram tentang tantangan yang dihadapi oleh banyak pendidik di Indonesia. Meskipun ia memiliki hasrat untuk mengajar dan telah mengabdi selama bertahun-tahun, pendapatan bulanan DS hampir tidak mencukupi kebutuhan dasar, yang menyoroti kebutuhan mendesak untuk meninjau dan mereformasi sistem kompensasi guru.
DS, seperti banyak pendidik lainnya di seluruh Indonesia, telah berulang kali berupaya untuk mendapatkan posisi sebagai pegawai negeri sipil (PPPK) melalui berbagai proses seleksi. Sayangnya, meskipun telah berupaya, ia belum berhasil. Kurangnya jaminan ini semakin memperburuk kesulitan keuangannya, yang membuatnya berada dalam situasi yang tidak menentu.
Dalam rapat dengar pendapat yang dihadiri oleh anggota DPRD dan perwakilan dari berbagai organisasi pemerintah daerah, DS dengan penuh semangat menghimbau kepada Pemerintah Kabupaten Pangkep untuk menerapkan kebijakan yang dapat mengatasi masalah gaji yang tidak memadai bagi para pendidik. Ia menyampaikan harapannya agar pemerintah daerah dapat mengakui nilai dan pentingnya guru serta memberikan kompensasi yang adil yang mencerminkan kontribusi mereka terhadap masyarakat.
“Kami semua bekerja keras untuk mendidik generasi mendatang,” kata DS, suaranya dipenuhi kelelahan sekaligus tekad. “Kami tidak meminta kekayaan, hanya gaji yang memungkinkan kami hidup bermartabat dan memenuhi kebutuhan dasar kami.”
DS juga mendesak DPRD untuk memperjuangkan masalah yang diangkat, dengan mencatat bahwa penderitaannya kemungkinan besar dialami oleh banyak guru lain di seluruh wilayah dan negara. Ia menekankan pentingnya upaya yang konsisten untuk meningkatkan kondisi pendidik, dengan menegaskan bahwa kesejahteraan mereka berdampak langsung pada kualitas pendidikan yang diberikan.

