LINTAS-KHATULISTIWA.COM. Laikang,Kab.Pangkep., Kamis, 10 April 2025 – Bait-bait puisi berjudul “Edan” seolah menggurat potret memotret sebuah realita yang mungkin (atau bahkan sedang) kita hadapi. Kata “Edan” sendiri, dalam bahasa Indonesia, memiliki arti gila, sinting, atau tidak waras. Puisi ini tidak hanya menggambarkan kegilaan individu, melainkan kegilaan sistemik yang merasuki sendi-sendi kekuasaan, melahirkan kebiadaban, dan menindas kemanusiaan.
Puisi ini dibuka dengan gambaran yang kuat: “Kebohongan Bergelantungan di Langit Kekuasaan, Jatuh Kebumi Menderas Kejahatan.” Baris ini menyiratkan bahwa dokumenter bukan lagi hal tersembunyi, melainkan fenomena lazim yang bahkan dipertontonkan oleh mereka yang memegang tampuk kekuasaan. Kebohongan ini kemudian menjelma menjadi hujan deras kejahatan, membasahi bumi dan menenggelamkan kebenaran.
Kemudian, kita disuguhkan dengan potret orang-orang yang “Ramai Mengusung Kepalsuan, Dada Membusung Umbar Kemunafikan.” Mereka, para pemangku kepentingan, justru memamerkan kepalsuan dan kemunafikan. Ketidakjujuran ini bukan lagi aib yang disembunyikan, melainkan lencana yang dikenakan dengan bangga.
Lebih jauh lagi, puisi ini menyinggung tentang “Kebiadaban Kian Berkelanjutan, Pengkhianatan Terus Membonceng Kehormatan.” Kekejaman seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sistem. Pengkhianatan, yang seharusnya menjadi aib, justru menumpang di atas kehormatan, merusak makna integritas sejati.

“Memperkosa Perbedaan, Menuntut Persamaan, Sikap Kritis Menuai Penjara dan Kematian,” menjadi kritik pedas terhadap otoritarianisme. Perbedaan, yang seharusnya dirayakan sebagai kekayaan, justru ditindas. Kritisime, yang seharusnya menjadi pengawas kekuasaan, dibungkam dengan kekerasan, bahkan hingga menghilangkan nyawa.
Puisi ini juga menyoroti praktik korupsi dan kesewenang-wenangan. “Jabatan Kerap Tampil Urakan, Kebijakan Memakan Korban Melulu, Kekayaan Dipupuk Serampangan, Tertib Mengelola Perampasan dan Perampokan.” Kekuasaan disalahgunakan untuk kepentingan pribadi, kebijakan hanya menguntungkan segelintir orang, dan kekayaan negara dijarah tanpa rasa malu.
Akhirnya, puisi ini ditutup dengan gambaran ironis: “Panggung Istana Ceria Menutupi Kehinaannya, Kelainan Jiwa Tampil Penuh Kebanggaan, Lelaki Perempuan Samar Berdandan, Entah Kenikmatan Entah Kesakitan.” Istana, yang seharusnya menjadi simbol negara dan keagungan, justru menjadi panggung sandiwara yang menutupi kebusukan di dalamnya. Moralitas runtuh, identitas kabur, dan kenikmatan bercampur aduk dengan penderitaan.
Puisi “Edan” bukan sekedar rangkaian kata-kata indah. Ia berkata hati-hati, sebuah refleksi kritis terhadap kondisi sosial dan politik yang sedang tidak baik-baik saja. Ia adalah panggilan untuk bertindak, untuk melawan ketidakadilan dan ketidakadilan, untuk memperjuangkan kebenaran dan kemanusiaan. Pertanyaannya, apakah kita akan terus membiarkan kegilaan ini merajalela, ataukah kita akan bersama-sama berjuang untuk mengembalikan kewarasan?
Penulis: Taslim Al Fakir

