LINTAS-KHATULISTIWA COM. MAROS – Sebuah pesta pernikahan yang meriah di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, berubah tragis pada Rabu malam, 23 April, ketika seorang pria meninggal dunia setelah tak sengaja menusuk dirinya sendiri saat menari tari tradisional Angngaru. Korban yang diidentifikasi sebagai Risal, 33 tahun, tengah menari tari tradisional tersebut di sebuah resepsi pernikahan di Kampung Bonto Rea, Barambang, Desa Bonto Mate’ne, Kecamatan Mandai saat insiden yang merenggut nyawa itu terjadi.
Tari Angngaru, tradisi budaya di Sulawesi Selatan, menggunakan “badik”, belati tradisional Bugis. Tragisnya, saat Risal tampil, badik tersebut menusuk dada kanannya.
“Iya benar, ada warga yang meninggal dunia setelah menusuk dirinya sendiri dengan badik saat adat Angngaru,” kata Kanit Reskrim Polsek Mandai, Ipda Radius Lulunbara kepada Kumparan, Kamis, 24 April.
Menurut keterangan pol
isi, Risal tengah menghadiri pesta pernikahan dan mengikuti upacara Mappacci saat membawakan tari Angngaru. “Saat membawakan tari Angngaru, dia tidak sengaja menusukkan badik ke tubuhnya,” jelas Ipda Radius Lulunbara.
Para saksi melaporkan bahwa semburan darah yang tiba-tiba itu menyebabkan kepanikan dan teriakan di antara para tamu undangan. Risal, yang tampak terguncang dan sempoyongan, segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan medis.
“Korban sempat mendapat perawatan medis, namun nyawanya tak tertolong. Ia dinyatakan meninggal dunia malam itu juga,” kata Ipda Radius Lulunbara.
Setelah menerima berita tentang insiden tersebut, petugas polisi tiba di tempat kejadian untuk melakukan penyelidikan menyeluruh. Kasus ini masih dalam penyelidikan.
Peristiwa malang itu membuat pihak kepolisian mengeluarkan imbauan kepada masyarakat agar lebih waspada selama tradisi Angngaru. “Kami mengimbau masyarakat untuk berhati-hati, terutama mereka yang melakukan tradisi Angngaru. Tarian adat ini sebelumnya sudah pernah menelan korban jiwa,” imbuh Ipda Radius Lulunbara.
Jenazah korban telah diserahkan kepada keluarganya untuk dimakamkan. Kejadian ini menjadi pengingat yang menyedihkan tentang potensi bahaya yang terkait dengan tradisi budaya yang melibatkan benda tajam, yang menyoroti pentingnya keselamatan dan kehati-hatian.

