Ma’rang ,- Di bawah sapuan cahaya rembulan yang samar di langit Ma’rang, dan bintang-bintang yang berkedip malu-malu, Kampung Laikang mulai memejamkan mata. Namun, sebagian besar, malam adalah saat yang tepat. Aipda Wahyuddin, sosok Bhabinkamtibmas Polsek Ma’rang, melangkah dengan mantap melewati gang-gang sempit, ditemani Aiptu Muh Yusri, SH, dari piket SPKT. Bukan misi penangkapan dramatis, melainkan sebuah ritual yang lebih dalam: sambang dialogis .
Lampu-lampu teras rumah berkelip, beberapa warga masih tampak duduk-duduk di balai bambu, menikmati aroma kopi hangat dan berbincang ringan. Begitu melihat seragam cokelat mendekat, senyum tipis mengembang. “Assalamualaikum Pak Wahyu!” sapaan akrab terdengar dari Pak RT dan Pak RW yang sedang duduk di depan rumahnya, ditemani beberapa tetangga.
“Waalaikumsalam, Pak RW. Bagaimana kabar malam ini? Aman sentosa?” tanya Aipda Wahyuddin, suaranya ramah namun penuh wibawa. Aiptu Muh Yusri mengangguk, ikut menyapa.
Obrolan pun mengalir, bukan sekedar basa-basi. Ini adalah saat di mana denyut nadi Kampung Laikang benar-benar terasa. Seorang warga, yang enggan menyebutkan namanya, berujar dengan nada pelan, “Alhamdulillah, Pak. Sejak Bapak dan kawan-kawan rutin patroli begini, rasanya jauh lebih tenang. Di tengah gonjang-ganjing berita politik yang terkadang membuat kepala pening, kehadiran Bapak-bapak ini seperti pengingat bahwa di akar rumput, kita punya benteng.” Ada harapan tersirat dalam suaranya, sebuah doa agar Polri tetap kokoh, bukan sekadar simbol yang gagah di baliho, melainkan nyata dalam setiap sentuhan dan sapaan.
Aipda Wahyuddin mendengarkan, memunculkannya melekat, menyerap setiap keluh kesah dan harapan. Dia tahu, melampaui batas menjaga keamanan fisik. Ini tentang membangun jembatan kepercayaan, menumbuhkan rasa memiliki dan aman. “Ini sudah jadi komitmen kami Pak Polri ada untuk masyarakat. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan beritahu. Kami siap melayani,” tuturnya, menekankan pentingnya sinergi antara warga dan kepolisian dalam menjaga Kamtibmas.
Mereka melanjutkan perjalanan, berhenti di warung kopi H. Badaruddin yang masih buka, bertukar kisah singkat, dan menyampaikan himbauan Kamtibmas sederhana: untuk berhati-hati saat meninggalkan rumah, mengunci pintu, dan mengawasi anak-anak. Patroli ini bukan hanya tentang melihat, tetapi juga tentang terlihat. Kehadiran mereka seolah-olah lentera kecil yang berkeliling, menyingkirkan bayang-bayang keraguan dan kecemasan.
Kapolsek Ma’rang, Akp Hj Rahmania, S.Sos., sering menegaskan esensi dari patroli semacam ini. “Kedekatan Polri dengan masyarakat seperti inilah yang kami harapkan. Warga merasa nyaman untuk menyampaikan segala permasalahan yang ada di wilayah binaannya,” ujarnya dalam berbagai kesempatan. “Dengan begitu, Kepolisian, khususnya Bhabinkamtibmas, akan lebih dikenal warga dan sekaligus menyerap aspirasi yang berkaitan dengan situasi Kamtibmas.”
Memang, di balik setiap langkah Aipda Wahyuddin dan Aiptu Muh Yusri, terjalin sebuah kemitraan yang kuat. Mereka bukan hanya penegak hukum, tapi juga tetangga, sahabat, dan pendengar setia. Mereka adalah wajah Polri yang hadir di tengah-tengah warga, membangun fondasi keamanan yang kokoh, lembar demi lembar, sapaan demi sapaan.
Malam semakin larut, Kampung Laikang perlahan tenggelam dalam kenyamanan total. Namun, di hati para warganya, sebuah rasa aman yang sederhana namun kuat telah tertanam. Patroli malam Bhabinkamtibmas Polsek Ma’rang adalah bukti nyata bahwa pelayanan, perlindungan, dan pengayoman hanya bukan semboyan, melainkan sebuah janji yang ditepati, setiap malam, di setiap sudut kampung. Dan di tahun 2025, janji itu terus bersemi, menjadi pilar utama terjaganya Ma’rang yang aman dan kondusif.

