LINTAS-KHATULISTIWA.COM – PANGKEP ] Pasar Malam Pangkep 2025 yang berlokasi di Lapangan Stadion “Andi Mappe”, Kelurahan Paddoangdongan, Kecamatan Pangkajene, Kabupaten Pangkep, telah menjelma menjadi magnet baru bagi warga sekitar dan sekitarnya. Sejak dibuka, pasar malam ini menawarkan pengalaman berbeda dengan sejumlah kios dan kedai makanan siap saji yang memanjakan pengunjung, terutama keluarga yang menikmati suasana liburan sekolah.
Pantauan Lintas-Khatulistiwa.com pada Jumat malam, 11 Juli 2025, pasar malam ini selalu ramai dikunjungi pengunjung. Berbagai aroma makanan dan minuman bercampur di udara, menciptakan suasana yang hidup dan menyenangkan. Salah satu kedai yang menarik perhatian adalah “VAN JAVA” yang menyajikan bakso bakar dengan berbagai pilihan rasa, mulai pedas dari kecap hingga pedas manis. Pemiliknya, yang enggan menyebutkan namanya, mengaku omset harian yang diraupnya bisa mencapai Rp 1,5 juta, bahkan seringkali lebih. Senada, pedagang minuman dingin “Vop Ice” juga mengutarakan bahwa omsetnya lumayan stabil selama sepekan terakhir.
Dua Sisi Mata Uang: Keuntungan dan Keluhan
Keberadaan Pasar Malam Pangkep memang membawa perputaran ekonomi yang signifikan bagi para pedagang makanan dan minuman siap saji. Salah satu pedagang yang diwawancarai mengungkapkan bahwa ia membayar sewa tempat sebesar Rp 1.500.000 per bulan. Dengan perkiraan ribuan pengunjung setiap malam, terutama karena masih dalam suasana liburan sekolah dan ditambah sepinya pasar malam di Malewan, para pedagang di Stadion Andi Mappe memang melihat peluang besar. Bahan baku yang mereka gunakan pun sebagian besar dibeli dari Pasar Sentral Pangkep, memberikan dampak positif bagi pasar tradisional tersebut.
Namun, di balik gemerlap pendapatan, muncul pula sejumlah keluhan dan sorotan yang perlu diperhatikan. Salah satu yang paling mencolok adalah masalah parkir. Juru parkir di area tersebut mengaku mengirimkan ribuan motor yang membanjiri pinggir jalan, terutama pada malam Sabtu dan malam sebelumnya. Dengan hanya tiga orang juru parkir yang bekerja sama dengan Dishub, mereka mengaku terkadang tidak mendapatkan haknya secara penuh dari hasil parkir motor seharga Rp 2.000 per motor.
Yang lebih janggal, seorang pengunjung menyoroti keanehan pada karcis parkir. Setiap juru parkir hanya memegang 100 lembar karcis (satu blok), yang berarti total hanya 300 lembar karcis untuk tiga orang. Padahal, jumlah motor yang parkir mencapai ribuan. Pertanyaan besar pun muncul: ke mana sisa kelebihan uang parkir yang tidak mendapatkan karcis? Apakah masuk ke kas Pemda (Dishub) atau ke kantong oknum yang tidak bertanggung jawab? Hal ini menjadi perhatian serius agar pengelolaan parkir lebih transparan dan pengunjung merasa terjamin keamanan kendaraannya.
Dampak pada Pedagang Lain dan Pandangan Jangka Panjang
Tak semua pedagang merasakan manisnya perputaran ekonomi di Pasar Malam Pangkep. Pedagang bakso telur di Bambu Runcing dan para penjual pakaian di Malewang mengeluhkan sepinya pembeli sejak pasar malam di Stadion Andi Mappe dibuka. Mereka merasa sangat terbebani dengan sewa lahan yang dinilai terlalu mahal (Rp 1.500.000 per bulan) dengan modal pas-pasan, sehingga enggan untuk ikut berjualan di sana. Isu ini sempat membuat Pasar Sentral Pangkep, khususnya penjual pakaian “cakar” di Malewan, ikut terdampak.
Menyikapi hal ini, salah satu pemilik Warkop di sekitar Stadion “Andi Mappe” berpendapat bahwa masyarakat perlu melihat keberadaan pasar malam ini secara positif. Ia menegaskan bahwa pasar malam ini fokus pada penyediaan makanan, minuman, dan hiburan bagi remaja saat libur sekolah, yang tentunya mempengaruhi ekonomi menengah ke bawah. Lebih lanjut, ia menggarisbawahi bahwa di era digital saat ini, sebagian besar masyarakat berbelanja pakaian secara Daring (online), sehingga pedagang harus mampu hidup berdampingan dan beradaptasi dengan perubahan pola konsumsi.
Secara keseluruhan, Pasar Malam Pangkep 2025 adalah sebuah fenomena yang menarik. Ia berhasil menciptakan pusat keramaian dan memicu pergerakan ekonomi yang signifikan bagi beberapa sektor. Namun, masalah tata kelola, terutama parkir, serta dampak negatif pada pedagang lain yang tidak terlibat langsung, menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan keadilan bagi semua pelaku usaha lokal perlu menjadi prioritas agar pasar malam ini dapat terus menjadi kebanggaan Pangkep tanpa meninggalkan permasalahan.

