LINTAS-KHATULISTIWA.COM. Di bawah lampu senja Jakarta yang mulai padam, dan hiruk pikuk Tanah Abang yang tak pernah surut, Rizky biasanya merasakan denyutan optimisme. Malam itu, Kamis 28 Agustus, tak ada yang berbeda. Ia mengendarai motor bututnya, mencari rezeki di antara lautan kendaraan, menunaikan tugas sebagai salah satu pahlawan jalanan, seorang driver ojek online. Tiap tarikan gas adalah janji bagi keluarga di rumah, tiap pesanan adalah langkah kecil menuju impian sederhana.
Namun, malam itu, Jalan Peramburan menjadi saksi bisu sebuah tragedi yang merenggut lebih dari sekedar nyawa—ia juga merenggut rasa aman dan keadilan.
Dari kejauhan, sebuah siluet baja muncul. Bukan kendaraan biasa. Itu adalah mobil lapis baja milik Brimob, sebuah simbol kekuatan dan perlindungan negara. Namun, kali ini, ia melaju melawan arus, dari Pejompongan menuju Polsek Tanah Abang, sebuah anomali yang seharusnya tidak terjadi. Di tengah kekacauan lalu lintas malam, Rizky mungkin terkejut, mencoba menghindar, atau mungkin ia terjatuh. Video yang kini viral di jagat maya, diunggah oleh akun “X”, menunjukkan detik-detik mengerikan itu: Rizky tersungkur, bangkit berusaha, berjuang meraih kembali pijakannya di tengah jalan yang kejam.
Nahas, sebelum dia sempat berdiri tegak, bayangan raksasa itu datang. Mobil lapis baja dari belakang, tanpa ampun, tanpa jeda. “Ya Allah di injak! Di injak!” teriakan seorang wanita dalam video itu, suaranya pecah oleh kengerian yang tak terpecahkan. Suara itu adalah representasi dari keluarnya banyak orang yang menyaksikan—atau kemudian melihat—di dalam keji tersebut.
Bukannya berhenti, mobil Brimob itu justru tancap gas, melarikan diri, meninggalkan jasad Rizky yang tak bernyawa di aspal. Meninggalkan meninggalkan yang tak terperi di hati keluarganya, dan meninggalkan luka mendalam di mata para Saksi. Amarah massa pun meledak. Lemparan barang-barang menghujani mobil baja itu—bukan karena benci pada institusi, melainkan karena frustrasi dan kemarahan atas tindakan keji yang tidak manusiawi itu. Itu adalah protes terhadap impunitas, terhadap arogansi kekuatan yang melindas yang lemah.
Kabar duka itu cepat menyebar, dari grup WhatsApp ke linimasa media sosial. BEM PTMA ZONA III, turut menyampaikan belasungkawa, mengonfirmasi kabar meninggalnya Rizky. Nama-nama seperti Rizky, seringkali hanya angka dalam sistem aplikasi, tiba-tiba menjadi simbol. Simbol dari kerentanan pekerja lepas, simbol dari perjuangan kelas bawah, dan simbol dari pertanyaan besar: di mana keadilan?
Menyikapi kejadian yang menggemparkan ini, Kepala Seksi Humas Polres Metro Jakarta Pusat, Ipda Ruslan Basuki, mengaku belum mengetahui perihal kejadian tersebut. “Mohon waktunya, nanti disampaikan kalau sudah ada bahan laporannya,” ujarnya. Jawabannya, meski mungkin sesuai prosedur, terasa hampa di tengah gelombang emosi dan tuntutan kejelasan. Di saat video sudah menjadi bukti nyata, dan kesaksian massa mengalir deras, kata “belum ada laporan” terdengar seperti sebuah tertundanya yang menyakitkan.
Kematian Rizky bukan hanya sebuah kecelakaan lalu lintas. Ini adalah potret buram tentang bagaimana kekuatan bisa disalahgunakan, bagaimana nyawa seorang warga jelata bisa direnggut begitu saja, dan bagaimana jejak keadilan bisa kabur ditelan kecepatan dan arogansi. Tanah Abang malam itu bukan hanya Saksi bisu, ia adalah cerminan dari pertanyaan besar yang kini menggantung di udara Jakarta: akankah keadilan bagi Rizky sang driver ojol yang malang ini benar-benar terwujud? Atau hanya akan menjadi kisah pilu lain yang hilang ditelan kota bisingnya?

