PANGKEP, LINTAS KHATULISTIWA.COM – Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) tengah dilanda krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang cukup parah. Pada Sabtu (12/09/2026), antrean panjang kendaraan memicu kemacetan hingga sepanjang 2 kilometer di dua titik SPBU utama.
Dua SPBU yang mengalami lonjakan antrean ekstrem yaitu SPBU 74.906.06 Laikang (Kecamatan Ma’rang) dan SPBU 74.906.07 Labakkang di Desa Bujung Batue (Kecamatan Labakkang).

Warga Rela Menginap di SPBU
Pantauan di lapangan menunjukkan pemandangan memprihatinkan. Kendaraan roda dua maupun roda empat menumpuk di badan jalan. Sejumlah pengendara bahkan mengaku telah mengantre sejak dua hari lalu namun belum mendapatkan jatah BBM karena jumlah kendaraan yang terus bertambah setiap jamnya.
“Saya sudah antre dari kemarin, Pak. Sampai harus tidur di motor. Begitu giliran mau diisi, petugas bilang antrean sudah terlalu panjang atau stok habis,” keluh seorang pengendara dengan nada frustrasi.
Pihak SPBU pun mengakui situasi ini di luar kewajaran. “Ini sangat miris, biasanya tidak seperti ini. Meski stok masuk hingga 16 ton, antrean tidak pernah separah ini. Sudah beberapa hari ini kondisi sangat padat,” ungkap salah seorang petugas SPBU.
Polisi Turun Tangan, Stok BBM Diklaim Masih Ada
Guna mengantisipasi gesekan antar pengendara, personel dari Polsek Labakkang diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pengamanan dan pengaturan arus lalu lintas.
Berdasarkan data dari SPBU 74.906.07 per 12 September 2026, stok BBM sebenarnya masih tersedia dengan rincian:
Dexlite: 2.329 liter
Pertamax Turbo: 3.021 liter
Pertamax: 2.046 liter
Pertalite: 20.085 liter
Bio Solar: 11.149 liter
Meskipun stok tercatat ada, arus lalu lintas di jalur poros tetap tersendat dan memerlukan penguraian ekstra oleh petugas.
Dugaan Penyimpangan dan Kepanikan Massal
Di tengah krisis ini, muncul dugaan dari konsumen terkait penyebab antrean panjang. Selain adanya kepanikan (panic buying) masyarakat Sulawesi Selatan, warga menduga adanya praktik ilegal oleh oknum tak bertanggung jawab.
“Ada dugaan oknum yang mengisi BBM secara berulang kali, menggunakan tangki rakitan, atau modus ‘motor kencing’ (menyedot tangki). Polri harus segera menertibkan ini agar tidak merugikan masyarakat luas,” ujar seorang warga.
Dampak dari kelangkaan BBM ini mulai melumpuhkan aktivitas publik. Bahkan, pihak sekolah mempertimbangkan untuk meliburkan siswa dan guru karena tenaga pendidik kesulitan mendapatkan bahan bakar untuk menuju sekolah.
Rentetan Masalah di Pangkep
Kondisi ini menambah daftar panjang penderitaan masyarakat Pangkep. Sebelumnya, warga telah terpapar masalah sulitnya mendapatkan gas elpiji dan pemadaman listrik bergilir yang mengganggu sektor pendidikan serta program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Masyarakat kini mendesak Pemerintah Pusat untuk segera turun tangan. Mereka berharap ada tindakan konkret berupa penertiban oknum penyalahguna BBM serta edukasi yang masif agar kepanikan masyarakat dapat diredam.

