Makassar, 16 November 2015 — Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), sebuah organisasi diaspora yang telah terbukti menjadi jangkar kebudayaan dan kekuatan ekonomi bagi masyarakat Sulsel di perantauan, menggelar Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) sekaligus merayakan Hari Ulang Tahunnya yang ke-49. Bertempat di Hotel Claro Makassar, acara yang berlangsung sejak 14 hingga 16 November 2015 ini tidak hanya menjadi ajang konsolidasi internal, tetapi juga panggung pengukuhan komitmen terhadap kemajuan daerah asal.
Salah satu momen penting dalam Mukernas kali ini adalah kehadiran H. Muh. Arsyad Cannu, Ketua Umum Laskara Merah Putih (LMP). Kehadiran Ketum LMP ini disikapi sebagai bentuk nyata penguatan sinergi antara organisasi kemasyarakatan (Ormas) seperti LMP dengan jaringan diaspora kuat seperti KKSS, menandakan adanya jalinan erat dalam upaya membangun Sulawesi Selatan yang lebih baik.

Selama hampir lima dekade, KKSS telah membuktikan diri sebagai “wadah silaturahim” yang vital, menjangkau masyarakat Sulawesi Selatan yang tersebar luas, baik di seluruh pelosok Nusantara maupun hingga mancanegara. Jaringan yang luas ini bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari kekuatan sosial, profesional, dan ekonomi yang siap diarahkan untuk kepentingan pembangunan daerah.
Ketua Unum KKSS Andi Amran Sulaiman, Dalam sambutan dan diskusi yang menghiasi Mukernas, ditekankan bahwa kekayaan terbesar KKSS terletak pada anggotanya yang sukses di berbagai bidang. Kekuatan ini memerlukan panduan filosofis agar kontribusi yang diberikan bersifat terstruktur dan berdampak.
Inti dari harapan yang ditanamkan kepada seluruh keluarga besar KKSS adalah penerapan prinsip agung dari falsafah hidup Suku Bugis Makassar: “Lao Sappa Deceng Lisu Mappideceng.”Ujarnya
Falsafah ini secara harfiah berarti “Pergi mencari kebaikan dan pulang untuk memperbaiki.” Bagi diaspora Sulsel, prinsip ini adalah mandat moral. Ia mendorong setiap anggota KKSS di perantauan untuk:
Lao Sappa Deceng: Gigih mencari ilmu, pengalaman, koneksi, dan keberhasilan (kebaikan) di tempat mereka berada.
Lisu Mappideceng: Membawa pulang segala capaian tersebut untuk diinvestasikan dan diimplementasikan demi kemajuan, perbaikan, dan kesejahteraan kolektif di Sulawesi Selatan.
Prinsip ini menjadi pilar utama yang memastikan bahwa kesuksesan individual diaspora pada akhirnya akan bermuara pada peningkatan kualitas hidup masyarakat di kampung halaman.
Mukernas dan perayaan ulang tahun KKSS yang ke-49 ini mengusung tema yang sarat makna dan visi ke depan: “Sipatuo Sipatokkong” (Merajut Persatuan, Menguatkan Masa Depan, Menyambut Indonesia Emas).
“Sipatuo Sipatokkong” adalah ajakan untuk hidup berdampingan dan berdiri tegak bersama. Dalam konteks organisasi, ini berarti memperkuat persatuan internal di tengah keberagaman profesi dan lokasi geografis, memastikan bahwa semua elemen KKSS bergerak dalam satu visi.
Pemilihan tema ini menunjukkan kesadaran KKSS akan peran strategisnya dalam skala nasional. Dengan mendekatkan usianya menuju setengah abad, KKSS tidak hanya berfokus pada Sulsel, tetapi juga menempatkan diri sebagai mitra strategis dalam menyambut visi besar bangsa, yaitu Indonesia Emas—sebuah masa di mana Indonesia mencapai puncak kemakmuran dan kemandirian. Visi masa depan ini hanya dapat dicapai melalui jalinan persatuan yang kukuh dan kontribusi nyata dari komunitas seperti KKSS.
Kehadiran Ketua Umum Laskara Merah Putih, H. Muh. Arsyad Cannu, pada Mukernas ini menjadi penanda penting bahwa kolaborasi antar-elemen masyarakat sipil di Sulawesi Selatan terus diperkuat.

LMP dan KKSS, meskipun memiliki fokus yang berbeda (Ormas dan organisasi diaspora), memiliki tujuan yang sama: mengabdi pada kemajuan daerah dan bangsa. Sinergi ini diharapkan dapat membuka jalan bagi kerja sama dalam program-program sosial, pelestarian budaya, hingga pengawalan isu-isu pembangunan strategis di Sulawesi Selatan, memastikan bahwa semangat Sipatuo Sipatokkong diterjemahkan menjadi aksi nyata kolaboratif.”Pungkasnya.

