LINTAS-KHATULISTIWA.COM Menjelang Ramadan 1446 H 2025, saatnya untuk merenung, bertumbuh secara rohani, dan memohon ampunan, penting untuk memahami apa saja yang dapat menghalangi diterimanya puasa kita oleh Allah SWT. Ramadan menjanjikan pahala yang berlipat ganda, tetapi perilaku tertentu dapat membuat usaha kita sia-sia, yang membuat kita hanya merasa lapar dan haus.
(Sebagai Pemimpin Redaksi Lintas-Khatulistiwa.com, Muhammad Taslim, SH, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala ucapan dan tindakan yang menyinggung perasaan. Semoga kita semua dapat memasuki bulan Ramadan dengan hati dan niat yang suci.)
Sungguh menyadarkan kita bahwa puasa yang kita lakukan dengan penuh dedikasi sepanjang bulan bisa saja ditolak oleh Allah SWT, sehingga menjadi sia-sia di Hari Kiamat. Sementara banyak dari kita yang berfokus pada aspek fisik puasa, kita juga harus waspada terhadap perilaku yang dapat meniadakan manfaat spiritualnya.

Tiga Doa Malaikat Jibril Kepada Allah SWT, Kemudian diaminkan oleh Nabi (saw):
Berikut ini adalah tiga golongan orang yang puasanya berpotensi ditolak oleh Allah SWT, sebuah peringatan yang harus kita semua perhatikan agar kita bisa menjalani Ramadhan dengan pahala yang sesungguhnya:
1. Anak yang Tidak Patuh:
Bayangkanlah dahsyatnya sabda malaikat Jibril yang kemudian disusul dengan sabda Nabi Muhammad (saw): “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu, janganlah Engkau terima puasa seorang anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya.”
Tidak peduli seberapa tinggi kedudukan mereka, seberapa banyak harta mereka; jika seorang anak menyakiti orang tuanya, puasanya bisa ditolak. Menjadi seorang anak adalah anugerah, sedangkan menjadi orang tua adalah hak istimewa yang tidak diberikan kepada semua orang. Oleh karena itu, menghormati dan menghargai orang tua adalah hal yang terpenting, dan ketidakpatuhan dapat menimbulkan konsekuensi spiritual yang serius.
2. Istri yang tidak sopan:
Sekali lagi, dengarkan permohonan Jibril yang sangat berat, yang ditegaskan oleh Nabi (saw): “Ya Allah, aku mohon kepadamu, janganlah terima puasa seorang istri yang durhaka kepada suaminya.” Meskipun beberapa wanita mungkin mempertanyakan balasannya – seorang suami yang durhaka – tanggung jawabnya terletak pada suami sebagai pemimpin rumah tangga. Ia pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban atas kesejahteraan dan bimbingan istrinya.
Al-Quran (Surat Al-Baqarah, 187) menggambarkan dengan indah hubungan antara suami dan istri: “Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka.” Hal ini menekankan pentingnya saling mendukung, melindungi, dan menutupi kekurangan satu sama lain. Ketidakhormatan seorang istri terhadap suaminya dapat membahayakan berkah Ramadhan.
3. Muslim yang tidak pemaaf:
Satu doa terakhir yang sangat berdampak dari Jibril, yang digemakan/diaminkan oleh Nabi (saw): “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu, janganlah Engkau terima puasa seorang Muslim yang tidak mau memaafkan saudaranya Muslim.”

