JAKARTA, Lintas-Khatulistiwa.com – Partai Gerindra merayakan ulang tahunnya yang ke-17 hari ini di Sentul, Bogor, Jawa Barat, yang dihadiri oleh sejumlah tokoh politik terkemuka dari seluruh pelosok Indonesia. Para pemimpin dari berbagai partai koalisi utama hadir, menandai unjuk solidaritas dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM).
Hadir pula Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Ketua Umum Partai Demokrat; Zulkifli Hasan, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN); Ahmad Syaikhu, Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera (PKS); dan Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Partai Golkar. Kehadiran mereka menegaskan semangat kolaboratif dalam koalisi yang berkuasa saat ini.
Namun, yang mencolok absennya adalah Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan). Sementara PDI Perjuangan diwakili oleh Ketua DPP Said Abdullah dan Bendahara Olly Dondokambey, ketidakhadiran Megawati mengundang banyak perhatian, terutama mengingat pengumuman Gerindra sebelumnya tentang undangan bagi semua pemimpin partai dan mantan presiden.
Acara tersebut juga menyaksikan kehadiran sejumlah menteri dari Kabinet Merah Putih saat ini, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dan sejumlah wakil menteri.
Perayaan tersebut menandai ulang tahun Gerindra ke-17, yang secara resmi berdiri pada 6 Februari 2025. Partai yang baru saja menggelar Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) baru-baru ini yang mengukuhkan kembali Presiden Prabowo Subianto sebagai Ketua Umum, menegaskan komitmennya untuk membina kolaborasi politik.
Sebelum acara, Sekretaris Jenderal Gerindra, Ahmad Muzani, secara tegas menyatakan niatnya untuk mengundang semua pimpinan parpol, termasuk mantan Presiden Indonesia. “Semua pimpinan parpol, terutama ketua umum, akan diundang. Insya Allah,” kata Muzani. Termasuk undangan kepada Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Joko Widodo, yang menegaskan keinginan partai untuk melibatkan semua pihak dalam perayaan HUT.
Kendati pertemuan tersebut menyediakan wadah untuk perayaan dan mempererat hubungan dalam koalisi yang berkuasa, ketidakhadiran Megawati Soekarnoputri niscaya akan memicu spekulasi dan analisis lebih lanjut dalam lingkup politik Indonesia

