LINTAS-KHATULISTIWA.COM JAKARTA,- Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), sebagai tonggak penting media di Indonesia, kini berada di persimpangan jalan. Terbentuknya dua fraksi baru-baru ini, yakni Zulmansyah Sekedang (ketua PWI versi KLB) yang menyelenggarakan perayaan Hari Pers Nasional (HPN) di Provinsi Riau dan Hendry CH Bangun yang menyelenggarakan acara serupa di Kalimantan Selatan, telah membuat banyak pihak dalam organisasi tersebut resah.
Saya, seperti banyak anggota lain di seluruh Indonesia, merasakan keresahan yang semakin meningkat. Mengapa konflik antara tokoh-tokoh senior kita ini meningkat hingga ke titik ini? Bukankah mereka seharusnya menjadi panutan kita, membimbing kita dengan kebijaksanaan dan pengalaman?
Penting bagi kita untuk mengingat kembali landasan utama PWI dibangun, yakni untuk bersama-sama berkontribusi dalam upaya mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Paragraf keempat dengan jelas mengartikulasikan komitmen bangsa kita terhadap perdamaian abadi dan keadilan sosial. PWI, sebagai bagian integral dari masyarakat kita, seharusnya menjadi kekuatan untuk perdamaian itu. Namun, di tengah konflik yang terjadi dalam organisasi saat ini, pembicaraan tentang rekonsiliasi tampaknya sama sekali tidak ada.
Saya teringat kata-kata hebat dari Bung Karno, Proklamator kita: “Bangunlah sebuah dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan.”
Pesan ini, yang sarat dengan makna perdamaian dan persahabatan, seharusnya bergema dalam hati PWI. Kekuatan sejati tidak terletak pada kemampuan untuk menghukum, tetapi pada kapasitas untuk memaafkan dan menciptakan perdamaian abadi.
Tahun ini, PWI merayakan ulang tahunnya yang ke-79. Ini adalah tonggak sejarah yang menandakan kedewasaan, saat di mana mereka yang ada di dalam organisasi harus ditandai dengan tindakan yang bijaksana dan penuh pertimbangan.
Ini adalah zaman untuk saling mendukung dan bersolidaritas, saatnya untuk bersatu dalam komitmen kita untuk mencapai tujuan PWI. Ini adalah zaman di mana merangkul inklusivitas dan pengertian harus menjadi yang terpenting.
Oleh karena itu, saya mohon kepada para senior yang terhormat, Zulmansyah Sekedang dan Hendry CH Bangun: Demi PWI, organisasi yang kita semua junjung tinggi, mohon carilah jalan untuk berdamai. Kami sangat mendambakannya – kedamaian di dalam PWI, kedamaian yang langgeng dan abadi yang memungkinkan kita untuk fokus pada peran penting yang kita mainkan dalam masyarakat Indonesia. Kami mendambakan PWI yang bersatu sekali lagi.
Penulis: Ketua Bidang Hukum Forum Jurnalis Pangkep (FJP)
PWI Pangkep, Sulawesi Selatan

