Lintas-Khatulistiwa.com | Ma”rang – Di tengah semarak bulan suci Ramadan, Ir. Hj. Andi Nirawati, ST., M.Agb., IPM., ASEAN Eng., Anggota DPRD Provinsi SulSel dari Partai Gerindra, pada agenda Reses Temu Konstituen Masa Persidangan II Tahun 2025/2026 . 21 Februari 2026 , di Kelurahan Bonto Bonto, Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkep, memaparkan optimisme yang tinggi terhadap rencana alokasi anggaran besar yang berfokus pada pemenuhan gizi nasional dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Rangkaian acara yang dihadiri oleh Ustaz Umar SH.I dalam Kultum buka Puasa, H. Ismail, serta sekitar 150 peserta termasuk tokoh masyarakat, semakin menggarisbawahi pentingnya agenda ini bagi masyarakat.
Dalam paparannya, Ibu Andi Nirawati menyoroti proyeksi anggaran Pendidikan di tahun 2026 yang mencapai angka monumental Rp 470,46 triliun. Angka ini tidak hanya mencerminkan lonjakan investasi pada sektor pendidikan, tetapi juga memberikan porsi signifikan bagi Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai salah satu penerima manfaat terbesar.
Berdasarkan data yang dipaparkan oleh Kepala BGN, Dadan Hindayana, pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IX DPR RI, pagu anggaran BGN pada tahun 2026 diperkirakan menyentuh angka Rp 268 triliun. Angka yang sungguh fantastis ini, dengan 95,4% dialokasikan untuk program pemenuhan gizi nasional.
“Untuk tahun 2026 pagu anggaran kita sudah tercatat Rp 268 triliun di mana 95,4% adalah untuk program pemenuhan gizi nasional. Untuk MBG nya senilai Rp 248 triliun, kemudian non MBG Rp 7,457 triliun,” ujarnya
Distribusi anggaran pendidikan sebesar Rp 470,46 triliun di tahun 2026 akan disalurkan melalui 23 Kementerian/Lembaga (K/L), mengikuti pola yang telah diterapkan sebelumnya. Namun, sorotan utama terletak pada porsi yang akan diterima BGN. Anggaran sebesar Rp 223,55 triliun atau setara 47,51% dari total pagu anggaran pendidikan akan diarahkan untuk program program gizi.
Angka ini mengalami lompatan drastis dari Rp 56,8 triliun pada APBN 2025, menunjukkan penajaman fokus pada program program yang esensial bagi kesehatan anak anak Indonesia.
Lebih lanjut, distribusi anggaran BGN ini mencerminkan prioritas yang jelas. Sebesar 83,4% anggaran dialokasikan untuk fungsi pendidikan senilai Rp 223,5 triliun, 9,2% untuk fungsi kesehatan senilai Rp 24,7 triliun, dan 7,4% untuk fungsi ekonomi senilai Rp 19,7 triliun. Dominasi belanja barang sebesar 97,7% dari sisi belanja mengindikasikan efektivitas dan efisiensi dalam pelaksanaan program di lapangan.
Program Mandatori Gizi Bangsa (MBG) menjadi motor penggerak utama alokasi anggaran BGN. Alokasi sebesar Rp 34,49 triliun ditujukan secara spesifik untuk penerima manfaat anak usia sekolah. Tidak berhenti di situ, Bantuan Pemerintah (Banper) yang menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita juga mendapatkan alokasi signifikan senilai Rp 3,18 triliun.
Anggaran tambahan juga telah disiapkan untuk mendukung berbagai aspek krusial, termasuk belanja pegawai ASN sebesar Rp 3,9 triliun, program digitalisasi MBG senilai Rp 3,1 triliun, serta kegiatan promosi, edukasi, kerja sama, dan pemberdayaan masyarakat yang akan mendapatkan alokasi sebesar Rp 280 miliar. Selain itu, BPOM akan menerima suntikan dana sebesar Rp 700 miliar untuk memperkuat kegiatan pemantauan dan pengawasan.
Infrastruktur Pendukung dan Tata Kelola yang Akuntabel
Untuk memastikan kelancaran dan efektivitas program program unggulan ini, alokasi anggaran sebesar Rp 412,5 miliar disiapkan untuk sistem dan tata kelola. Ini termasuk pemanfaatan data status gizi yang dikelola bersama oleh Kementerian Kesehatan dan Badan Pusat Statistik (BPS).
Kebutuhan koordinasi penyediaan dan penyaluran, termasuk gaji tenaga ahli seperti akuntan, ahli gizi, dan pelatihan bagi penjamah makanan di setiap Sekolah Penyedia Pangan dan Gizi (SPPG), diperkirakan membutuhkan anggaran sebesar Rp 3,8 triliun.
Ia juga merinci anggaran pendukung lainnya, seperti penyediaan dan penyaluran (Rp 1 triliun), sistem dan tata kelola (Rp 145 miliar), serta promosi, edukasi, kemitraan, dan pemberdayaan masyarakat (Rp 338 miliar).
Anggaran pemantauan dan pengawasan mencapai Rp 801 miliar, di mana Rp 700 miliar di antaranya akan dilaksanakan melalui skema swakelola tipe II bersama BPOM.
Anggaran dukungan manajemen tercatat sebesar Rp 12 triliun, dengan Rp 4,9 triliun di antaranya masuk kategori reserve output (RO) khusus yang memerlukan persetujuan langsung dari Presiden. Hal ini menunjukkan tingkat kehati hatian dan akuntabilitas yang tinggi dalam pengelolaan dana publik.
Di samping pemaparan teknis anggaran yang mendalam, Ibu Andi Nirawati juga menegaskan komitmennya dalam mewujudkan program program nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Program program yang kami lakukan di antaranya adalah program pasar murah seperti yang ada di House Of Tala, Kelurahan Talaka,” ujarnya,
Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya menciptakan ekonomi kerakyatan yang terus meningkat, yang berjalan beriringan dengan upaya membangun gizi anak Indonesia. “Bagaimana ekonomi kerakyatan terus meningkat, bagaimana MBG yang kita bangun juga untuk membangun gizi anak Indonesia, bagaimana membangun perekonomian, bagaimana memperbaiki gizi untuk menyambut 2045 menuju Indonesia Emas, segala macam,” tegasnya.
Ibu Andi Nirawati secara gamblang menjelaskan peran vital nutrisi dalam pembentukan generasi penerus yang unggul. Beliau berpesan agar anak anak sekolah senantiasa didorong untuk mengonsumsi makanan yang diberikan di sekolah, dengan pemahaman bahwa di dalamnya terkandung gizi penting.
“Yakinkan mereka bahwa dalam setiap makanan yang mereka dapatkan itu ada gizi di dalamnya, ada gizi di mana sangat dibutuhkan oleh tubuh anak kita mulai dari kalsium zat besi omega. kalau di dalam karbohidrat ada nasi putih atau nasi dalam bentuk karbohidrat itu untuk menumbuhkan tenaga anak anak kita supaya dia punya energi belajar, punya semangat, karena dia punya tenaga seimbang dengan energi yang harus dia keluarkan,” paparnya
Acara yang diselenggarakan di Kelurahan Bonto Bonto, Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkep ini.

