Lintas-Khatulistiwa.com | Pangkep – (21 Januari 2026) – Penemuan “kotak hitam” pesawat ATR 42 500 oleh tim RAIDER 700/BS.KODAM XIV/HASANUDDIN, Tim Reaksi Cepat, di bawah pimpinan Letda Inf Hermandi kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, menjadi sorotan utama dalam rangkaian investigasi kecelakaan pesawat yang nahas. Namun, di balik istilah populer “kotak hitam”, tersimpan sebuah fakta menarik: mengapa benda yang krusial ini seringkali berwarna merah jingga atau kuning, bukan hitam?
Sebenarnya, sebutan “kotak hitam” bukanlah merujuk pada warnanya. Istilah ini berasal dari fungsinya yang awalnya dirancang untuk merekam segala data penting penerbangan dan percakapan di kokpit. Namun, seiring perkembangan teknologi dan kebutuhan untuk kemudahan identifikasi di lokasi kecelakaan, warna kotak ini diubah menjadi lebih mencolok. Warna merah jingga atau kuning dipilih agar mudah dikenali dan ditemukan di antara puing puing pesawat, bukan karena warnanya yang sebenarnya hitam.
Penemuan vital ini dilakukan oleh tim RAIDER 700/BS.KODAM XIV/HASANUDDIN, Tim Reaksi Cepat, di bawah pimpinan Letda Inf Herman. Keberhasilan ini merupakan langkah besar dalam upaya mengungkap penyebab kecelakaan.
Lebih dari Sekadar “Kotak Hitam”: FDR dan CVR
Dalam dunia penerbangan, “kotak hitam” sebenarnya terdiri dari dua perangkat penting: Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR). Keduanya menjadi saksi bisu setiap detik penerbangan dan memegang peran krusial dalam analisis kecelakaan.
Menurut Muhammad Arif Anwar, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar yang juga bertindak sebagai SAR Mission Coordinator (SMC), penemuan kedua perangkat ini adalah bagian paling vital dalam penanganan kecelakaan pesawat.
FDR bertugas merekam berbagai parameter penting selama penerbangan. Data yang terekam mencakup ketinggian, kecepatan, arah, posisi pesawat, hingga performa mesin.
Rekaman ini sangat berharga bagi pihak berwenang untuk merekonstruksi secara detail kronologi penerbangan sebelum insiden terjadi. Dengan analisis mendalam terhadap data FDR, para ahli dapat memahami apa yang terjadi pada pesawat dari menit ke menit.
Cockpit Voice Recorder (CVR): Suara di Balik Awan
Sementara itu, CVR memiliki peran tak kalah penting, yaitu merekam seluruh percakapan yang terjadi di dalam kokpit. Rekaman ini mencakup komunikasi antara pilot dan co pilot, serta suara suara lain yang dianggap signifikan selama penerbangan. CVR memberikan gambaran langsung tentang interaksi dan keputusan yang diambil oleh awak pesawat, yang bisa menjadi kunci untuk memahami faktor manusia dalam kecelakaan.
Penempatan di Ekor Pesawat
“Secara umum, perangkat FDR dan CVR disimpan di bagian ekor pesawat,” terang Arif.

Penempatan ini bukanlah tanpa alasan. Area ekor pesawat dinilai memiliki tingkat ketahanan yang lebih tinggi saat terjadi benturan keras, sehingga peluang penyelamatan data dari kedua perangkat ini menjadi lebih besar.Menuju Investigasi MendalamSetelah berhasil ditemukan,
“kotak hitam” ini akan segera diamankan dan diserahkan kepada pihak berwenang, yaitu Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). KNKT akan bertanggung jawab penuh dalam melakukan investigasi lanjutan sesuai dengan prosedur yang berlaku untuk menentukan penyebab pasti kecelakaan.
“Penemuan ini menjadi langkah penting dalam proses investigasi kecelakaan pesawat. Tim SAR tetap melanjutkan tugas sesuai mandat, dengan fokus pada pencarian dan evakuasi korban serta pengamanan objek penting di lokasi kejadian,” pungkas Arif.

