LINTAS-KHATULISTIWA.COM | Pangkep, Sulawesi Selatan – 18 Januari 2026 – Seutas harapan mulai menyala di tengah kabut duka tragedi jatuhnya pesawat ATR 42 500 di kawasan terjal Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Tim SAR gabungan akhirnya berhasil menemukan satu korban dari pesawat yang nahas tersebut, memberikan titik terang berharga dalam upaya pencarian yang telah berlangsung intensif sejak pesawat dilaporkan hilang kontak.
Penemuan korban ini, seorang pria dewasa, menjadi momentum penting yang disambut dengan kelegaan sekaligus rasa haru mendalam oleh publik, terutama keluarga penumpang dan kru pesawat. Meskipun identitas korban dan kondisi pastinya secara rinci belum dapat dipastikan, penemuan ini berpotensi memberikan petunjuk krusial mengenai nasib penumpang lainnya dan menjadi titik awal untuk proses identifikasi.

Korban pertama kali ditemukan oleh Arman (38), seorang warga setempat dan BABINSA (TNI AD) yang aktif turut serta dalam tim pencarian. “Saya temukan sekitar jam 2 siang,” ujar Arman kepada wartawan di Posko Tim SAR di Desa Tompobulu, Balocci, Pangkep pada Minggu (18/1/2026). Ia membenarkan bahwa jenazah ditemukan di sebuah jurang terjal dengan kedalaman sekitar 200 meter di bawah lereng gunung. “Saya lihat itu jenazah masih utuh jenis kelamin laki laki,” tambahnya, menjelaskan bahwa korban ditemukan dalam posisi tengkurap menghadap ke arah jurang.
Selain jenazah, Arman juga menemukan sejumlah barang elektronik yang diduga milik korban, meskipun kondisinya sudah hancur lebur. “Temukan banyak ATM, paspor, HP dan 2 laptop, pakaian yang sudah rusak. Tidak diambil karena hancur,” jelasnya. KTP dan tiga buah ATM yang terpotong potong juga turut ditemukan di lokasi.
Pangdam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko, mengonfirmasi kabar penemuan jenazah tersebut. “Hari ini ada kabar gembira, tim kita selain berhasil mengevakuasi beberapa puing pesawat, rupanya tadi sudah ditemukan satu korban,” ujarnya kepada wartawan.
Pernyataan ini disambut dengan lega, melepaskan sebagian beban ketidakpastian yang menyelimuti tragedi ini.
Saat ini, tim SAR gabungan tengah berjuang keras melakukan proses evakuasi dari lereng gunung yang ekstrem. Medan yang sulit dan curam menjadi tantangan tersendiri bagi para petugas dalam membawa korban ke tempat yang lebih aman untuk penanganan lebih lanjut.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar, menyatakan bahwa proses evakuasi masih berlangsung.
“Kami berkomitmen melaksanakan operasi ini secara maksimal, profesional, dan terukur. Setiap langkah diambil berdasarkan analisis risiko di lapangan. Mohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat agar proses evakuasi berjalan lancar,” tegasnya.
Kondisi medan yang ekstrem dan cuaca yang menantang menjadi hambatan utama dalam operasi penyelamatan ini. Jarak pandang di lokasi pencarian terbatas hanya sekitar lima meter akibat hujan lebat dan kabut tebal, bahkan sempat menyebabkan pembatalan penurunan vertikal demi keselamatan tim.
Dalam pelaksanaannya, beberapa unit pencarian dan penyelamatan (SRU) bergerak sesuai pembagian sektor, menghadapi medan yang memaksa mereka untuk menggunakan tali untuk penurunan di beberapa titik. Tim logistik pun telah bergerak menuju puncak untuk mendistribusikan peralatan dan logistik demi mendukung kelangsungan operasi yang kompleks ini.
Peristiwa jatuhnya pesawat ATR 42 500 ini terus menyita perhatian luas, dengan pihak berwenang masih mendalami kronologis dan penyebab pasti kecelakaan. Namun, penemuan korban ini setidaknya memberikan sedikit kelegaan dan harapan di tengah ketidakpastian yang menyelimuti tragedi ini.
Tim SAR berkomitmen untuk terus melaksanakan tugas pencarian dan penyelamatan dengan segala upaya yang dimiliki hingga seluruh korban dapat ditemukan.
Perkembangan lebih lanjut mengenai identitas korban dan kondisi selanjutnya akan terus diinformasikan seiring dengan selesainya proses evakuasi dan identifikasi.

