Pangkep, Lintas Khatulistiwa.com – Kematian adalah sebuah kepastian yang tak terelakkan, sebuah gerbang universal yang kelak akan dilalui setiap insan. Namun, kepergian yang begitu mendalam, menyentuh relung hati terdalam hingga mampu meruntuhkan pertahanan seorang pemimpin, adalah sebuah tragedi yang tak terbayangkan. Air mata Sang Bupati Pangkep, Dr. H. Muhammad Yusran Lalo Gau, tak kuasa ditahan menyaksikan kesedihan mendalam saat jenazah tiga sosok penting Kabupaten Pangkep tiba di Pelabuhan Maccini Baji, Kelurahan Pundata Baji, Kecamatan Labakkang, sore hari. Kepergian mereka yang mendadak, tatkala tengah menjalankan misi kemanusiaan, meninggalkan luka yang dalam bagi seluruh masyarakat.
Kronologis Kejadian Tragis,
Pada tanggal 27 Desember 2025, sebuah insiden kapal tenggelam yang merenggut nyawa terjadi. Kapal bernama KLM Fitri Jaya, yang dimiliki oleh Dg Nasru, bertolak dari Sungai Pangkajene, Kabupaten Pangkep, pada sekitar pukul 08.40 Wita, menuju Pulau Sarappo. Di atas kapal tersebut, terdapat total 11 orang penumpang, termasuk muatan bantuan dari Dompet Dhuafa.
Perjalanan yang mulanya lancar, berubah menjadi mencekam.
Sekitar pukul 10.50 Wita, cuaca memburuk secara drastis. Hujan lebat disertai angin kencang melanda, menyebabkan kapal oleng tak terkendali. Sang juragan, meskipun telah berusaha sekuat tenaga, tak mampu lagi menguasai kapal. Akibatnya, kapal terbalik sekira pukul 11.00 Wita, menjadi saksi bisu keganasan alam.
Beruntung, warga Pulau Podang2 Lompo segera memberikan pertolongan. Proses evakuasi korban, baik yang selamat maupun yang meninggal, langsung dilakukan.
Daftar Penumpang dan Korban:
Tim LKC Sulsel:
Imran (dinyatakan meninggal dunia)
Andi Mappasallang
Etty Permatasari
Siti Patimah
Nurlina
Wulan Cahya
Petugas Puskesmas Sarappo dan Kecamatan Liukang Tupabbiring:
Fitri Mubarak S.Sos., M.Si (Camat Liukang Tupabbiring, dinyatakan meninggal dunia)
Awak Kapal (tidak dirinci namanya)
Bidan Darma (Bidan Pulau Sarappo, dinyatakan meninggal dunia)
Dokter Gigi Nova
Kapus PKM Sarappo Samiang, S.Kep
Korban Meninggal Dunia:
Imran (Koordinator LKC Sulsel)
Fitri Mubarak S.Sos., M.Si (Camat Liukang Tupabbiring)
Bidan Darma (Bidan Pulau Sarappo)
Saat ini, jenazah korban telah dievakuasi ke Pulau Sarappo untuk proses selanjutnya sebelum dibawa ke Pangkajene dan Makassar.
Kehilangan Pilar Pengabdian:
Tragedi yang merenggut nyawa Camat Liukang Tupabbiring, seorang bidan yang berdedikasi tinggi, serta koordinator Dompet Dhuafa di kepulauan yang sama, meninggalkan luka yang perih bagi Pangkep. Ketiganya adalah pilar pengabdian, jiwa jiwa mulia yang tengah menjalankan tugas suci untuk membantu sesama ketika maut menjemput dalam kecelakaan yang tragis. Misi kemanusiaan yang mereka emban, sebuah wujud nyata kepedulian untuk meringankan beban masyarakat, justru berujung pada hilangnya nyawa mereka sendiri.
Bagi Bupati Dr. H. Muhammad Yusran Lalo Gau, kehilangan ini bukan sekadar kehilangan bawahan atau warga negara. Lebih dari itu, ini adalah kehilangan sosok sosok yang memiliki dedikasi luar biasa, agen perubahan di wilayah kepulauan yang seringkali terlupakan. Air mata yang mengalir dari mata Sang Bupati adalah cerminan dari rasa empati yang mendalam, kesedihan yang tulus atas kepergian para pejuang kemanusiaan ini yang menghadap Sang Ilahi dalam keadaan berbakti.
Kepergian mereka menyisakan duka yang mendalam, tidak hanya bagi keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga bagi seluruh elemen masyarakat Pangkep, khususnya di kepulauan Liukang Tupabbiring. Sosok Camat yang menjadi garda terdepan pelayanan publik, bidan yang menjadi penyambung harapan kesehatan bagi masyarakat pesisir, dan koordinator Dompet Dhuafa yang menggerakkan roda kepedulian sosial, ketiganya meninggalkan kekosongan yang sulit terisi.
Kecelakaan di Pulau Podang2 Lompo ini menjadi pengingat pahit tentang betapa rapuhnya kehidupan, dan betapa mulianya pengabdian yang dilakukan di garis depan. Misi kemanusiaan yang mereka jalankan seharusnya menjadi inspirasi, namun kini malah menjadi saksi bisu dari sebuah kehilangan yang tak ternilai harganya.
Dalam momen duka ini, tangis Sang Bupati Dr. H. Muhammad Yusran Lalo Gau menjadi simbol kepedulian seorang pemimpin yang merasakan langsung kehilangan. Ini bukan hanya sekadar ekspresi kesedihan, tetapi juga penegasan bahwa pemerintah hadir bersama rakyatnya dalam suka dan duka. Kepergian mereka yang mendadak dan dalam tugas mulia ini akan selalu dikenang sebagai pengorbanan tertinggi demi kemanusiaan.
Semoga almarhum dan almarhumah ditempatkan di sisi terbaik Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan dalam menghadapi cobaan ini. Kabupaten Pangkep berduka.

