Renugan: Dalam panggung kehidupan sosial, terutama di ruang-ruang dimana kekuasaan dan otoritas diperebutkan, kita sering menyaksikan sebuah ironi yang tragis: seorang yang menduduki jabatan tinggi, dibalut gelar akademik yang mengilap, namun ketika membuka mulut, yang keluar bukan mutiara kebijaksanaan, melainkan suara sumbang yang tidak sinkron antara kedudukan dan kapasitas.
Orang semacam ini ibarat seorang dalang yang lupa terhadap narasi wayangnya sendiri. Dia memegang tongkat kekuasaan, tetapi tidak mampu menggerakkan lakon dengan benar. Ucapannya melompat-lompat, tidak mengalir pada satu garis logika yang utuh, melainkan terpecah-pecah dalam kesombongan dan kedangkalan. Yang lebih memilukan, ketika argumentasinya terjepit, bukan data atau penalaran yang dia sodorkan, melainkan privasi dan pengalaman pribadinya yang tidak relevan. Ini adalah sebuah pengakuan tak langsung bahwa gudang pengetahuannya kosong; yang tersisa hanyalah cerita tentang diri sendiri, seolah-olah hidupnya hanyalah satu-satunya kitab yang pernah dibaca.
Lalu, timbul pertanyaan yang menggumpal di benak banyak orang: Apakah ini merupakan suatu kelainan mental , atau sekadar watak yang telah membatu?
Mungkin bukan kelainan mental dalam arti klinis yang patologis, melainkan lebih kepada patologi kekuasaan . Jabatan dan titel, jika tidak diimbangi dengan kerendahan hati dan kelapangan dada, dapat menjadi sangkar yang mengurung akal sehat. Orang tersebut memiliki arogansi intelektual —keyakinan bahwa gelarnya telah memberikan kebenaran mutlak, sehingga segala pendapat orang lain dianggap sebagai serangan, bukan pelengkap. Wataknya telah terkikis oleh ilusi superioritas. Dia susah menerima pendapat orang lain bukan karena tidak paham, tetapi karena tidak mau . Menerima berarti mengakui bahwa ada celah dalam pengetahuannya, dan itu adalah ancaman bagi ego yang sudah rapuh.
Inilah mengapa integritas dan kedewasaan mental seseorang justru teruji ketika dia memegang jabatan. Gelar hanyalah pigura, tapi isi lukisannya adalah karakter dan kejernihan berpikir.
Kejernihan dan Kekeruhan Pikiran
Pikiran ibarat sebuah mata air. Jika jernih, air yang mengalir darinya akan menyuburkan tanah, menghidupi tumbuhan, dan memberikan kesejukan bagi siapa saja yang meminumnya. Seorang yang berpikir jernih menyadari bahwa pengetahuannya bukanlah lautan yang penuh, melainkan sungai yang selalu haus untuk bertemu dengan anak-anak sungai lainnya (pendapat orang lain). Hasil dari pikiran yang jernih adalah kebijaksanaan ( kebaikan ), keputusan yang membangun, dan rendahan hati untuk terus belajar.
Sebaliknya, pikiran yang keruh adalah mata air yang tercemar. Setiap tetes yang keluar telah bercampur dengan prasangka, ego, dan ketakutan. Hasilnya adalah keruhnya tindakan dan perkataan. Orang yang pikirannya keruh melihat dunia melalui kaca mata kelam. Setiap saran yang masuk dibaca sebagai kritik, setiap perbedaan dilihat sebagai permusuhan. Dia tidak susah dinasihati karena nasihat itu tidak jelas, tetapi karena dinding egonya begitu tebal, sehingga tidak ada cahaya kebenaran yang bisa menembusnya.
Watak yang keruh ini adalah penjara bagi perkembangan diri. Orang itu terkunci dalam monolog dengan egonya sendiri, menyanyikan lagu kebenaran versinya sendiri yang sumbang, sambil bertanya-tanya mengapa tidak ada yang mau menyanyi bersamanya
Maka, pertanyaan sebenarnya bukanlah pada sah atau tidaknya gelar seseorang, atau tingginya jabatan yang dia duduki. Tetapi pada keterhubungan antara gelar, jabatan, dan kematangan karakter orang tersebut. Gelar tanpa wawasan adalah topeng, jabatan tanpa kebijaksanaan adalah boneka kekuasaan.
Orang yang bijak akan menggunakan jabatannya untuk memperluas wawasan, dan menggunakan gelarnya sebagai tanggung jawab untuk memberikan kontribusi yang lebih baik. Sementara orang yang wataknya keruh akan menggunakan keduanya sebagai tameng untuk menyembunyikan keruhnya sendiri.
Pada akhirnya, yang abadi bukanlah gelar di depan nama atau kursi yang diduduki, melainkan kebaikan dan kejernihan pikiran yang kita wariskan melalui perkataan dan perbuatan. Itulah gelar sejati yang tidak tercetak di atas kertas, tetapi terpateri dalam ingatan dan hati orang-orang yang kita pengaruhi.

