LINTAS-KHATULISTIWA.COM INDONESIA– Fenomena suhu dingin yang sering terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia, terutama di Khatulistiwa Selatan, pada bulan Juli seringkali memicu perbincangan di masyarakat. Banyak yang dipertemukannya dengan fenomena aphelion, yaitu saat Bumi berada pada titik terjauhnya dari Matahari. Namun, benarkah demikian? Penjelasan ilmiah menunjukkan bahwa anggapan tersebut kurang tepat. Suhu dingin di bulan Juli lebih disebabkan oleh faktor-faktor klimatologis, terutama pengaruh angin musim dingin dari Australia.
Aphelion: Jarak Bukan Penentu Musim
Aphelion adalah momen ketika Bumi berada pada jarak terjauhnya dari Matahari dalam orbit elipsnya, yang memang terjadi sekitar awal Juli. Meskipun demikian, jarak Bumi dari Matahari bukanlah penentu utama perubahan musim atau suhu di permukaan Bumi.
Perubahan musim di Bumi murni dipengaruhi oleh kemiringan sumbu rotasi Bumi sebesar 23,5 derajat terhadap bidang orbitnya. Kemiringan inilah yang menyebabkan belahan Bumi utara dan selatan mendapatkan intensitas sinar Matahari yang berbeda-beda sepanjang tahun, menciptakan pola musim panas, gugur, dingin, dan semi. Jadi, meskipun Bumi berada pada jarak terjauhnya dari Matahari saat aphelion, hal ini tidak secara langsung menyebabkan suhu menjadi lebih dingin di Indonesia.
Penyebab Utama: Angin Musim Dingin dari Australia
Penyebab utama suhu dingin yang terasa di Indonesia pada bulan Juli adalah hembusan angin muson dari Benua Australia. Pada saat ini, Australia sedang mengalami puncak musim dingin dan memiliki tekanan udara yang tinggi. Angin yang bertiup dari daerah bertekanan tinggi ini membawa massa udara yang dingin dan kering menuju wilayah Indonesia. Angin inilah yang berperan besar dalam menurunkan suhu rata-rata di berbagai daerah di Indonesia, terutama yang berada di selatan khatulistiwa.
Faktor Pendukung: Langit Cerah Minim Awan
Selain hembusan angin dingin, kondisi langit yang cenderung lebih cerah dan minim awan selama musim kemarau juga turut berkontribusi pada penurunan suhu. Pada malam hari, tanpa adanya tutupan awan yang berfungsi sebagai “selimut”, panas yang terlepas dari permukaan Bumi ke atmosfer tidak tertahan dan langsung melayang ke luar angkasa. Akibatnya, suhu udara di permukaan bumi, terutama pada dini hari hingga pagi hari, menjadi jauh lebih rendah. Kondisi ini seringkali menyebabkan embun beku di beberapa daerah dataran tinggi seperti Dieng.
Fenomena Alamiah yang Normal
Dengan demikian, fenomena suhu dingin yang kita rasakan di bulan Juli merupakan siklus alamiah yang biasa terjadi pada puncak musim kemarau. Ini adalah bagian dari dinamika iklim global yang tidak ada kaitannya langsung dengan posisi terjauh Bumi dari Matahari.
Anda merasakan dingin menusuk di bulan Juli, transmisi bahwa itu adalah ‘kiriman’ alami dari Australia yang sedang musim dingin dan dampak dari langit cerah di musim kemarau, bukan karena Bumi sedang menjauh dari Matahari.

