Papua-, Di tengah upaya pemerintah dan aparat keamanan yang intensif untuk menciptakan kedamaian di Bumi Cenderawasih, aksi teror Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terus menjadi bayangan gelap, khususnya di Yahukimo. Daerah yang seharusnya menjadi pusat pertumbuhan di Papua Pegunungan ini, sekali lagi tercoreng oleh darah warga sipil yang tak berdosa.
Peristiwa yang menimpa Ambotang (52), seorang perantau asal Bugis yang mencari nafkah di Distrik Dekai, Kamis (23/10/2025), bukan sekadar insiden kriminal biasa. Ini adalah penembusan garis merah kemanusiaan dan sebuah pesan brutal yang ditujukan kepada warga non-pribumi, menegaskan bahwa ancaman terhadap keamanan di wilayah tersebut masih sangat nyata dan personal.
Jalan Sosial, Distrik Dekai, yang biasanya ramai dengan aktivitas perdagangan kecil, seketika menjadi saksi bisu kebrutalan yang tak disangka. Menurut keterangan saksi mata, Ambotang sedang duduk santai di depan kiosnya, menjalani rutinitas harian, ketika dua pria tak dikenal, yang diidentifikasi sebagai terduga warga asli Yahukimo, muncul dan menyerang tanpa peringatan.
Serangan itu berlangsung cepat dan sangat sadis. Dua pelaku menggunakan kapak untuk melukai korban secara membabi buta. Ambotang didera luka parah di tiga titik vital: leher, siku, dan rusuk kiri.
“Korban mengalami pendarahan hebat dan luka menganga akibat sabetan kapak. Ini menunjukkan intensitas serangan yang memang bertujuan melumpuhkan atau bahkan membunuh,” ujar sumber di RSUD Dekai, tempat Ambotang kini menjalani perawatan intensif untuk menyelamatkan nyawanya.
Setelah melampiaskan aksinya yang biadab tersebut, kedua pelaku langsung melarikan diri meninggalkan korban yang terkapar, serta meninggalkan barang bukti berupa kapak dan sepasang sandal yang kini diamankan oleh aparat keamanan.
Kepala Operasi Damai Cartenz, Brigjen Pol Faizal Ramadhani, merilis pernyataan keras menanggapi serangan ini. Ramadhani mengecam tindakan tersebut sebagai aksi biadab yang tidak dapat ditoleransi, terutama karena menargetkan warga sipil yang tidak terlibat dalam konflik.
“Kami sangat mengecam aksi brutal yang menimpa saudara Ambotang. Pelaku penyerangan ini diduga kuat terafiliasi dengan simpatisan KKB Kodap XVI Yahukimo,” tegas Brigjen Faizal.
Penargetan warga sipil, khususnya para pedagang dari luar Papua (sering disebut pendatang), telah menjadi ciri khas dalam pola teror KKB di Yahukimo. Kelompok ini memanfaatkan ketegangan etnis dan sosial untuk menciptakan ketakutan massal, memaksa warga untuk meninggalkan wilayah tersebut, dan mengganggu stabilitas ekonomi lokal.
Aparat keamanan kini tengah melakukan pengejaran intensif terhadap kedua pelaku. Pengamanan barang bukti berupa kapak dan sandal diharapkan dapat membantu proses identifikasi dan penangkapan, meskipun medan dan dukungan jaringan simpatisan sering kali menjadi tantangan besar.
Kasus Ambotang adalah cerminan tragis dari kerentanan warga sipil di zona konflik. Mereka adalah tulang punggung perekonomian kecil di Dekai, yang sehari-hari harus memilih antara mencari nafkah dan keselamatan diri.
Kekerasan sporadis, seperti penyerangan ini, menunjukkan kegagalan KKB untuk membedakan antara lawan bersenjata dan masyarakat biasa. Mereka telah murni menjadi kelompok kriminal yang menggunakan kekerasan demi menciptakan disrupsi, alih-alih memperjuangkan tujuan politik secara bermartabat.
Operation Damai Cartenz, yang bertugas menindak tuntas kelompok bersenjata, menghadapi dilema sulit: bagaimana menumpas KKB tanpa menimbulkan korban sipil, sekaligus melindungi warga non-pribumi yang menjadi target empuk.
Nyawa Ambotang saat ini berada di ujung tanduk. Sementara itu, insiden ini kembali menyalakan alarm peringatan bagi seluruh warga di Yahukimo, bahwa teror yang dipaksakan oleh kelompok bersenjata ini belum berakhir. Perlindungan terhadap warga sipil yang bekerja dan menetap di jantung konflik Papua harus menjadi prioritas utama negara, agar kisah berdarah seperti yang dialami Ambotang tidak terulang lagi.

