LINTAS-KHATULISTIWA COM. Makassar– 14/11/2025. Sengketa lahan antara PT. GMTD dan PT. Hadji Kalla, sebuah kehadiran yang tak terduga muncul dan seketika menjadi sorotan tajam: Mayor Jenderal Achmad Adipati Karna Widjaja. Keberadaannya di lokasi eksekusi lahan sengketa, meskipun dibantah hanya berada di luar pagar dan menegaskan tidak ada keterlibatan TNI, justru menyulut beragam spekulasi di kalangan publik.
Kunjungan mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, yang terjadi sehari pascaeksekusi, semakin mempertebal aroma kejanggalan. Kalla, dengan lantang menuding adanya indikasi praktik mafia tanah di balik proses hukum yang melibatkan anak perusahaan Lippo Group tersebut. Pernyataannya ini bukan tanpa dasar, mengingat luasnya lahan yang dipersengketakan dan lonjakan nilai yang mungkin menyertainya.
Namun, yang paling menarik perhatian adalah sosok Mayor Jenderal Achmad Adipati Karna Widjaja. Lulusan Akademi Militer 1990 dengan jabatan Staf Khusus Kasad dan penugasan di Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN), kehadirannya di lokasi eksekusi lahan komersial seperti ini terasa janggal. Terlebih lagi, foto viral yang beredar menunjukkannya mengenakan pakaian sipil—kemeja hitam dipadu celana jeans hitam—semakin memicu rasa penasaran. Pakaian sipil ini, bagi sebagian kalangan, justru mengindikasikan adanya operasi intelijen yang terselubung.
Dalam upaya meredam kegaduhan, Mayor Jenderal Achmad Adipati membantah keras bahwa kehadirannya bertujuan melindungi proses eksekusi. Ia bersikukuh bahwa posisinya hanya berada di luar pagar dan tidak terlibat langsung dalam tanah yang dieksekusi. Namun, sang jenderal bintang dua ini tampaknya lupa bahwa dalam era informasi saat ini, gambar berbicara lebih keras daripada kata-kata. Kehadiran seorang perwira tinggi TNI, bahkan dalam pakaian sipil, di tengah sengketa lahan yang melibatkan tokoh besar seperti Jusuf Kalla, akan selalu menjadi bahan perbincangan.
Publik pun berspekulasi, apakah ini sekadar kunjungan pribadi seorang teman yang kebetulan melintas, atau ada upaya lain di baliknya? Spekulasi tentang adanya operasi intelijen semakin menguat, mengingat penggunaan pakaian sipil yang justru dapat menyamarkan identitas dan fungsinya. Ada pula pandangan yang menyebutkan adanya upaya untuk “melindungi” pihak-pihak tertentu dalam sengketa ini, sebuah narasi yang semakin mewarnai kompleksitas masalah.
Apapun alasannya, kehadiran Mayor Jenderal Achmad Adipati Karna Widjaja di lahan sengketa PT. GMTD vs PT. Hadji Kalla telah mempertajam tajam pandangan publik. Sang jenderal mungkin hanya mengklaim berada “di luar pagar”, namun bagi banyak orang, ia telah masuk ke dalam pusaran spekulasi yang lebih dalam, sebuah wilayah abu-abu di mana kebenaran dan asumsi saling bersinggungan, meninggalkan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Kasus ini menjadi pengingat bahwa di negeri ini, bayang-bayang kekuasaan seringkali memiliki tafsirnya sendiri di mata publik.

