Lintas-Khatulistiwa.com | Jakarta,- Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Syamsul Maarif, kembali menegaskan sikap organisasi tersebut dalam menghadapi perbedaan pandangan terkait penentuan awal bulan Ramadan.
Dalam keterangannya kepada awak media Jl.M.H.Tamtin Jakarta Pusat pada Kamis,19 Maret 2026, KH. Syamsul Maarif menyatakan bahwa PBNU senantiasa menunggu dan menghormati keputusan pemerintah yang bersifat mengikat, demi terciptanya keseragaman dan menghilangkan perbedaan yang berpotensi menimbulkan gesekan.
“Kapan pemerintah itu ilzamud sifatnya mengikat menghilangkan perbedaan perbedaan,” ujar KH. Syamsul Maarif,
Beliau menambahkan, “mudah mudahan dengan adanya sidang isbat nanti semua harus menerima.”
Lebih lanjut, KH. Syamsul Maarif mengajak masyarakat untuk menyikapi perbedaan pandangan yang mungkin terjadi sebagai bagian dari rahmat dan kasih sayang Allah SWT, bukan sebagai sumber permusuhan. “Jadi tidak boleh dijadikan permusuhan itu adalah bagian daripada kajian yang memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat tetapi bagi kami tetap menunggu keputusan pemerintah hukum yang sifatnya mengikat dan menghilangkan perbedaan,” tegas beliau.
Pernyataan ini disampaikan setelah tim pengamat hilal dari Nahdlatul Ulama di beberapa wilayah melaporkan kesulitan dalam melihat hilal pada waktu yang telah ditentukan.
Berdasarkan pantauan yang dilakukan hingga pukul 18.15 WIB, posisi hilal dilaporkan masih berada di kisaran 2 derajat ketinggian dengan elongasi 6 derajat.
“Berdasarkan pemantauan tadi pukul 18.05 sampai 18.15 apakah ada perubahan data dari segi ketinggian nilai dan juga paling tinggi sampai jam 18.15 di mana tadi inti dari pengamatannya posisi hilalnya tetap ada di kisaran 2 derajat di kisaran 2 derajat dengan elongasinya 6 derajat artinya masih di bawah kriteria ” jelasnya
Nahdlatul Ulama sendiri memiliki kriteria penentuan hilal minimal ketinggian 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat. Dengan kondisi hilal yang teramati masih di bawah ketentuan tersebut, ditambah dengan kondisi cuaca yang berawan tebal di beberapa lokasi pengamatan, tim merasa kesulitan untuk melakukan rukyatul hilal.
“Nahdlatul ulama itu menetapkan minimal 3 derajat dengan elongasi 6,4 tadi sampai jam 18.15 posisinya masih di 2 derajat ketinggian hilal 6 derajat elongasinya artinya dari kata hisap yang kami miliki masih di bawah ketentuan sehingga kami merasakan kesulitan untuk melihat hilal ditambah lagi kondisi awannya tadi tebal awalnya tebal sehingga menyulitkan kami untuk bisa melihat sehingga tadi akhirnya diputuskan bahwa tidak berhasil melihat hilal dan tertutup awal dari timur Makassar Hingga Jakarta tinggal tunggu dari Aceh,” tambahnya,
Meskipun demikian, PBNU tetap bersabar menunggu hasil final dari Sidang Isbat yang akan digelar oleh pemerintah. KH. Syamsul Maarif juga menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri dan memohon maaf lahir dan batin kepada seluruh umat, terutama kepada insan media yang telah mendampingi proses ini selama bertahun tahun. “Terima kasih terutama kepada insan media ya yang sudah Istiqomah menunggu kami dan sudah berjalan beberapa tahun kami selaku pengurus wilayah Nahdlatul ulama mengucapkan selamat idul Fitri mohon maaf lahir dan batin
Penegasan PBNU ini menunjukkan komitmen organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini untuk mengedepankan persatuan dan kesatuan umat dalam menghadapi perbedaan, serta mematuhi keputusan pemerintah sebagai mekanisme penyelesaian yang sah dan mengikat.

