Itulah Pak Rahman (nama samaran) , seorang pengemudi ojek online (ojol) yang tengah menikmati “makan malamnya” di pinggir jalan umum area perumahan elit tersebut. Pemandangan kontras ini menarik perhatian seorang jurnalis dari Lintas-khatulistiwa.com yang kebetulan kebetulan terjadi.
“Malam, Pak,” sapa sang jurnalis, mendekat perlahan. “Maaf mengganggu, Bapak kok makan di sini?”
Pak Rahman (nama Samaran) mendongak, sorot matanya mengandung letih yang mendalam, namun membalas dengan senyuman ramah. “Makan, Bang. Mari, makan Bang.” Sebuah tawaran tulus yang seketika membuat sang jurnalis teringat. Tawaran itu bukan sekedar sekedar ajakan makan, melainkan cerminan dari hati yang begitu luas meski beban di pundaknya tak terhingga. Betapa beratnya memikul tanggung jawab seorang ayah demi menghidupi keluarganya.

Jam Kerja Panjang dan Pendapatan yang Tidak Pasti: Sebuah Perburuan Tanpa Henti
Bagi Pak Rahman (nama samaran) , dan ribuan ojol lainnya, hari tak mengubahnya sebuah perburuan tanpa henti. Dari subuh yang gelap hingga larut malam, ia mengelilingi seluruh kota Jakarta mengejar orderan demi orderan. Pendapatan yang tidak pasti adalah musuh utama. Sejak pandemi COVID-19, situasi kian memburuk. Tarif yang stagnan, potongan aplikasi yang mencekik, dan bonus yang sulit dicapai membuat belasan jam kerja seringkali hanya menghasilkan cukup untuk makan sehari, tak lebih.
“Kadang, seharian narik, hasilnya cuma cukup buat bensin sama makan sore Bang. Anak istri di rumah nunggu,” keluh Pak Rahman, tatapannya menerawang. “Kalau lagi sepi, kadang terpaksa ngutang dulu ke warung buat beli beras. Janjinya besok lunas, tapi besoknya belum tentu ada duit juga.” Hidupnya adalah lingkaran setan utang-piutang, di mana harapan dan kecemasan berkejaran setiap hari.
Risiko Keselamatan: Nyawa di Ujung Stang
Jalanan adalah kantor Pak Rahman (nama samaran), namun juga medan perang. Kondisi jalan yang keras, kemacetan, dan perilaku pengendara lain yang sembrono menjadi risiko konstan. Setiap hari, nyawa dipertaruhkan. Berita duka tentang rekan sesama ojol yang mengalami kecelakaan, bahkan meninggal dunia, bukan lagi hal yang asing di telinganya.
“Pernah, Bang, saya hampir ketabrak truk pas mau ngejar orderan. Untung reflek,” kisahnya. “Tapi ada teman yang kurang beruntung baru-baru ini. Pulang tinggal nama. Siapa yang mau tanggung jawab? Aplikasi nggak kenal kita pas lagi susah.”

Bukan hanya kaum laki-laki, jurnalis Lintas-khatulistiwa.com juga pernah melihat langsung di lapangan seorang ibu pengemudi ojol yang tengah mangkal, anaknya digendong di punggung. Pengemudi ojol perempuan menghadapi kerentanan tambahan di jalanan, termasuk risiko keamanan pribadi yang lebih tinggi dan tantangan ganda untuk menjaga keluarga mereka di tengah kerasnya aspal. Bagi mereka, setiap perjalanan adalah dobel perjuangan.
Tulang Punggung Keluarga dan Impian yang Digantungkan
Pak Rahman (nama samaran) adalah tulang punggung keluarga kecilnya. Di rumah petak sempit, istrinya setia menunggu, dan dua anaknya, Laras yang duduk di bangku SD dan Fandi yang masih balita, adalah sumber semangatnya yang tak pernah padam. “Laras pengen jadi guru, Bang,” katanya, senyum tipis mengembang. “Makanya saya harus keras narik, biar dia bisa sekolah terus.”
Tak hanya untuk anak kandung, banyak ojol yang rela bekerja keras untuk membiayai pendidikan adik atau anggota keluarga lainnya. Mereka memikul harapan dan impian banyak orang di pundak kurus mereka, berjuang melawan segala keterbatasan.
Menghadapi Keadaan Sulit: Keteguhan di Tengah Badai
Hidup tak selalu berjalan mulus. Ada rekan ojol yang berjuang sebagai ibu tunggal, terpaksa membawa anaknya saat bekerja karena tidak ada yang menjaga. Ada pula yang baru saja bercerai, menjadikan pekerjaan ini satu-satunya tumpuan untuk menopang hidup dirinya dan anak-anaknya. Pak Rahman sendiri pernah diterpa sakit parah, sehingga tak bisa bekerja berminggu-minggu. Istrinya terpaksa meminjam uang ke tetangga demi dapur tetap mengepul. Keteguhan hati mereka untuk bertahan hidup di tengah badai kesulitan adalah pelajaran berharga tentang kekuatan manusia.
Perjuangan Kolektif: Menuntut Hak dan Kesejahteraan
Di balik perjuangan pribadi yang sunyi, ada suara-suara yang bersatu. Pak Rahman dan rekan-rekan ojol lainnya tidak diam. Mereka secara kolektif berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan dan hak-hak mereka. Mereka menuntut agar potongan aplikasi tidak melebihi batas tertentu, karena itu sangat memangkas pendapatan bersih mereka.
Baru-baru ini, mereka sering berkumpul, mendesak pemerintah untuk membuat peraturan transportasi online yang lebih baik, termasuk menetapkan tarif yang adil dan audit yang transparan terhadap aplikator. “Kami ini pekerja Bang, bukan hanya mitra. Kami berharap negara lebih hadir dalam mengatur transportasi online dan melindungi hak-hak kami,” tegas Pak Rahman, suaranya sedikit meninggi, menunjukkan harapan yang membara. “Kami minta tarif yang sesuai, jangan lihat saja potongan dipatok tinggi.”
Malam semakin larut di Pondok Indah. Sebut saja Pak Rahman (nama Samaran) kini mengemasi Bungkusan kosongnya. Ia akan melanjutkan perjalanannya, mengejar satu atau dua perintah terakhir sebelum pulang. Sang jurnalis Lintas-khatulistiwa.com pamit, hatinya dipenuhi campuran rasa haru, kagum, dan meyakinkan. Di balik setiap jaket hijau-hitam yang melintas, ada kisah perjuangan, pengorbanan, dan setitik harapan yang terus menyala. Mereka adalah pahlawan-pahlawan digital, tulang punggung ekonomi yang sering terlupakan, namun tak pernah menyerah pada takdir. Kisah Pak Rahman adalah pengingat bahwa di balik kilau kota, Jakarta ada ribuan nyawa yang berjuang keras, meniti takdir di atas roda dua.

