Lintas-Khatulistiwa.com Pangkep, 12 Desember 2025 – Sebanyak 74 siswa dari SMA 13 Kasiloe (Boarding School) dan SD Negeri 13 Labakkang di Kabupaten Pangkep dilarikan ke Puskesmas Labakkang setelah mengalami gejala keracunan massal. Insiden ini diduga kuat berasal dari menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan oleh ‘Dapur 02 SPPG Coppeng Coppeng’. Hasil laboratorium terbaru mengonfirmasi adanya kontaminasi bakteri Escherichia coli (E.coli) yang melebihi batas aman dalam sampel makanan.
Kronologi dan Respon Cepat
Dugaan insiden keracunan ini mencuat pada tanggal 10 Desember 2025, memicu kekhawatiran serius di kalangan masyarakat dan otoritas setempat. Tanpa menunggu lama setelah kabar kejadian tersebar, Puang Tayang langsung bergerak menuju Puskesmas Labakkang, tempat para siswa dirawat, untuk memantau langsung penanganan medis dan mencari akar permasalahan.
Di Puskesmas Labakkang, H. Lutfi Hanafi juga turut berinteraksi dengan petugas medis yang menangani puluhan pasien. Ia mempertanyakan penyebab pasti sakit perut, mual, muntah, dan diare yang dialami para siswa, apakah murni dari faktor makanan atau ada pemicu lain. Pada tahap awal, pihak medis belum dapat mengeluarkan keterangan resmi. “Pihak rumah sakit juga belum berani mengeluarkan keterangan resmi karena belum ada hasil laboratorium dan sementara kita menunggu hasilnya,” ujar salah satu petugas medis.
Namun, informasi awal dari siswa yang telah membaik menyebutkan “katanya ada makanan yang sangat pedas.”
Penemuan Bakteri E.coli dalam Makanan
Titik terang penyebab keracunan akhirnya terungkap setelah hasil laboratorium keluar. Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Pangkep, Mansur, siang, mengonfirmasi temuan mengejutkan.
“Hasil lab nya sudah keluar tadi. Hasil pemeriksaan sampel makanan dan air pada SPPG Labakkang menunjukkan adanya kontaminasi bakteri positif Escherichia coli (E.coli) yang melebihi ambang batas aman,” kata Mansur kepada awak media.
Mansur menjelaskan lebih lanjut bahwa kontaminasi bakteri E.coli ini ditemukan pada menu MBG yang diberikan kepada siswa di SMA 13 Boarding School dan SD Negeri 13 Labakkang, spesifiknya pada lauk ayam dan sayur. Temuan ini diduga kuat menjadi penyebab utama para siswa mengalami gejala sakit perut, muntah, hingga diare yang masif.
“Kuat menjadi penyebab kasus keracunan makanan pada siswa SMA 13 Pangkep. Kontaminasi ditemukan dari sayur dan ayam,” tegasnya.
Dampak dan Urgensi Penanganan
Insiden keracunan massal ini menjadi berita yang sangat penting (newsworthiness) mengingat dampaknya yang signifikan terhadap kesehatan dan keselamatan puluhan siswa. Sebanyak 74 siswa yang menjadi korban mengalami penderitaan fisik seperti sakit perut hebat, mual, muntah, dan diare, beberapa di antaranya membutuhkan perawatan intensif di Puskesmas Labakkang. Kejadian ini juga menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan orang tua, pihak sekolah, dan masyarakat luas mengenai standar keamanan pangan, terutama untuk program makanan gratis di sekolah.
Implikasi dan Langkah Pencegahan ke Depan
Penemuan E.coli yang melebihi ambang batas aman ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai proses pengolahan, penyimpanan, dan penyajian makanan oleh penyedia jasa katering ‘Dapur 02 SPPG Coppeng Coppeng’.
Ke depan, insiden ini harus menjadi momentum (future implications) untuk Pihak berwenang harus melakukan audit mendalam terhadap ‘Dapur 02 SPPG Coppeng Coppeng’ dan semua pemasok makanan untuk program MBG di wilayah Pangkep.
Peningkatan Standar Higienitas: Perlu adanya peninjauan ulang dan pengetatan standar operasional prosedur (SOP) kebersihan dan sanitasi, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, hingga distribusi makanan.
Pengawasan Rutin: Dinas Kesehatan dan instansi terkait harus meningkatkan frekuensi dan ketatnya inspeksi mendadak serta uji laboratorium terhadap sampel makanan di semua lembaga pendidikan yang menyelenggarakan program makanan gratis.
Edukasi Keamanan Pangan: Memberikan edukasi berkelanjutan kepada penyedia katering, staf sekolah, dan siswa mengenai pentingnya keamanan dan kebersihan pangan.
Sebagai solusi dan call to action, Pemerintah Kabupaten Pangkep, melalui Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan, didesak untuk mengambil langkah tegas, termasuk kemungkinan sanksi bagi penyedia jasa yang terbukti lalai, guna mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang. Keselamatan dan kesehatan siswa adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar.

