LINTAS-KHATULISTIWA.COM. Jeneponto, Sulawesi Selatan – Kisah pilu mantan prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Sersan Mayor (Purn) Mustari Baso, tengah menjadi sorotan publik setelah viral dikabarkan hidup teantar dan ditinggalkan oleh anak serta istrinya. Ironisnya, sosok yang dulu berjasa mengabdi kepada negara ini kini harus menggantungkan hidupnya dari belasan kasih kerabat di masa orang tuanya.
Dikenal dengan sebutan Serma Mustari, beliau merupakan bagian dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), cikal bakal Kopassus, sebelum pensiun dengan pangkat Sersan Mayor. Mustari yang lahir pada tanggal 5 Februari 1943 ini terakhir berdinas di Kodim 1411 Bulukumba dan mengakhiri masa baktinya pada tahun 1992.
Pengorbanan di Masa Muda, Keterlantaran di Masa Senja
Serma (Purn) Mustari Baso memiliki rekam jejak yang tak diragukan lagi. Pernah bertugas dua kali ke Timor-Timor dan terlibat dalam operasi perburuan PKI di era Presiden Soeharto, namanya melekat kuat dengan dedikasi dan keberanian sebagai prajurit. Ia sering mengelu-elukan nama Prabowo dan Soeharto, dua tokoh yang sangat dihormatinya sebagai pemimpin.
Namun, setelah puluhan tahun mengabdi, nasib berkata lain. Di masa orang tuanya, Mustari justru dihadapkan pada kenyataan pahit: ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya. Menurut Dg. Sewang, anak dari H. Jalling yang kini merawat Mustari, istrinya lebih dulu pergi, kemudian disusul oleh anak-anaknya. Yang lebih menyedihkan, anak Mustari bahkan sempat meminta sang ayah mengambil uang pensiun di bank sebelum benar-benar meninggalkannya.
Istrinya lebih dulu pergi, lalu anaknya menyusul. Bahkan sempat meminta Pak Mustari mengambil uang di bank sebelum benar-benar ditelantarkan, tutur Dg. Sewang. kepda Media
Uang yang diambil oleh anaknya disebut mencapai lebih dari Rp100 juta. Kini, sisa gaji pensiun Mustari hanya Rp 400 ribu, sangat jauh dari layak untuk menghidupi diri sendiri.
Jejak Keterlantaran dan Uluran Tangan Malaikat Tak Bersayap
Setelah ditinggalkan, Serma Mustari sempat hidup tanpa arah. Ia pernah ditemukan tidur di bawah jembatan Tino, Kabupaten Bantaeng, dan bahkan bertahan selama sepekan di Terminal Malengkeri, Makassar. “Anak yang tinggal di Makassar sempat berjanji akan menjemput, tapi tidak pernah datang,” tambah Hj. Sattunia, istri H. Jalling.
Hingga akhirnya, sekitar pukul 12 malam, takdir membawa Mustari ke rumah H. Jalling di Kampung Kunjung Mange, Desa Kaluku, Kecamatan Batang, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Ia datang hanya membawa sebuah ransel berisi beberapa potong pakaian dan kartu pensiunan TNI.
Keluarga H. Jalling, tanpa ragu, bersedia menampungnya. “Sudah dua tahun beliau sudah tinggal di rumah orang tua saya. Anaknya tidak pernah mencari. Kami juga kasihan,” ucap Sewang dengan lirih.
Di rumah keluarga H. Jalling, Serma Mustari kini menjalani hari-harinya di sebuah ruangan sederhana berukuran 2×2 meter yang terletak di belakang rumah. Di sana, ia masih menyimpan seragam TNI yang dilengkapi lambang Kopassus di bahu kiri, papan RPKAD di dada kiri, serta papan nama MKR Baso (Mustari Karaeng Baso), sebagai pengingat akan masa kejayaannya.
Dukungan datang dari TNI /POLRI
Batituud Koramil 05 Batang, Pelda Alimuddin, bersama Kapolsek Batang Iptu Purwanto, yang mendatangi kediaman H. Jalling, membenarkan status Mustari sebagai purnawirawan TNI. “Beliau ini purnawirawan TNI, menurut keterangan dia masuk di grup 1 Kopassus Cijantung kemudian pensiun terakhir di Kodim 1411 Bulukumba tahun 1992,” kata Pelda Alimuddin.
Alimuddin juga menyayangkan kondisi yang menimpa Mustari. “Beruntungnya dia ini dirawat oleh pihak keluarga yang masih mau merawat, anak-anaknya ada di Jakarta, pokoknya tidak ada di Jeneponto. Seandainya tidak dipedulikan mungkin dia tinggal dipinggir jalan lah.”
Keluarga H. Jalling bahkan telah membuatkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) baru atas nama Mustari dengan alamat web di Kampung Kunjung Mange, sebagai bukti bahwa sang purnawirawan kini memiliki tempat dan orang-orang yang peduli.
Meski hidupnya tidak lagi megah, Serma Mustari tetap menyimpan kehormatan sebagai seorang prajurit. Kisahnya menjadi pengingat pahit tentang kerapuhan hidup di usia senja, bahkan bagi mereka yang telah berkorban banyak untuk negara. Kini, ia hanya bisa menggantungkan hidup dari belas kasih kerabat, sambil mengenang samar-samar masa-masa kejayaan di medan pengabdian.
PROFIL SINGKAT SERMA (PURN) MUSARI BASO
Nama Lengkap: Mustari Baso
Pangkat Terakhir : Sersan Mayor (Purnawirawan)
Kesatuan: Komando Pasukan Khusus (Kopassus), sebelumnya Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) Grup 1 Cijantung.
Tanggal Lahir: 5 Februari 1943
Pensiun: 1992 (terakhir berdinas di Kodim 1411 Bulukumba)
Pengabdian: Pernah bertugas di Timor-Timor (dua kali), terlibat operasi perburuan PKI.
Status Terkini: Pensiunan TNI AD, dirawat oleh keluarga H. Jalling di Kampung Kunjung Mange, Desa Kaluku, Kecamatan Batang, Jeneponto, Sulawesi Selatan.

