Kematian – adalah salah satu kenyataan hidup yang tidak dapat dihindari oleh setiap makhluk. Dalam perjalanan hidup ini, kita sering dihadapkan pada berbagai peristiwa, baik suka maupun duka. Salah satu duka yang mungkin paling berat dirasakan adalah kehilangan orang tercinta melalui musibah kematian. Ketika saat itu tiba, kita diingatkan akan hakikat kehidupan yang fana serta pentingnya mengikhlaskan kepergian almarhum (Deny Kuswara)
Semua yang ada di dunia ini, termasuk manusia, diciptakan oleh Allah dengan tujuan dan alasan tertentu. Kehidupan kita adalah bagian dari skenario Ilahi yang lebih besar. Saat kita mengalami kehilangan, kita perlu menyadari bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya. Dalam pandangan agama, kematian adalah sebuah penyerahan jiwa kembali kepada Sang Pencipta. Almarhum yang telah pergi, kini kembali kepada Allah, tempat di mana asal mula muasal serta kehidupan yang abadi menanti.
Kebangkitan iman harus ditanamkan dalam hati kita saat menghadapi musikbah ini. Allah tidak akan menguji hamba-Nya melebihi kemampuan mereka. Dia memberi kita kekuatan untuk menghadapi setiap cobaan, termasuk kehilangan. Musikbah kematian tidak hanya mengajak kita untuk berduka, tetapi juga memikirkan hakikat hidup dan mencari hikmah di balik setiap peristiwa yang terjadi.
Mengikhlaskan kepergian almarhum adalah langkah penting yang harus kita ambil. Ikhlas bukan berarti melupakan, tapi menerima kenyataan dan terus melanjutkan hidup dengan penuh harapan. Dalam proses ini, mungkin ada beragam perasaan yang menghinggapi kita, seperti kesedihan, kemarahan, bahkan penyesalan. Namun, semua itu adalah bagian dari proses kekhawatiran yang wajar.
Kita perlu memberi diri kita waktu untuk merasakan rasa kehilangan, tetapi setelah itu, kita harus melanjutkan hidup, menghargai kenangan yang telah ada dan mengingat pesan-pesan baik dari almarhum. Mungkin kita pernah mendapatkan nasehat, kasih sayang, atau ketenangan yang bisa kita teruskan kepada orang-orang di sekitar kita. Mengikhlaskan juga berarti tidak merugikan diri sendiri dengan berlarut-larut dalam kesedihan, namun menjadikan kenangan indah itu sebagai penguat kita untuk menghadapi hidup.
Kematian adalah pengingat bagi kita untuk memperkuat hubungan dengan Allah. Dalam kesedihan, banyak orang berpaling kepada Allah, memohon penghiburan dan kekuatan. Ini adalah saat yang tepat untuk memikirkan tujuan hidup kita dan memperbaharui iman kita. Berdoa dan membaca Al-Qur’an adalah cara untuk mendekatkan diri kepada Allah, sekaligus memberikan rasa damai di dalam hati.
Kita juga bisa menyalurkan rasa kehilangan ini melalui amal baik, seperti mendoakan almarhumah, bersedekah atas nama mereka, atau melakukan kebaikan lainnya. Dengan cara ini, kita tidak hanya membangun kenangan, tetapi juga berkontribusi pada kebaikan yang lebih besar, menjadikan perjalanan hidup almarhum bermakna bahkan setelah kepergian mereka.
Menghadapi musibah kematian memang bukan hal yang mudah. Namun, dengan mengikhlaskan kepergian almarhumah dan memahami bahwa kita diciptakan dan kembali kepada Sang Pencipta, kita dapat menemukan kedamaian di tengah kesedihan. Menerima kenyataan, memperkuat iman, dan menyalurkan cinta melalui kebaikan adalah beberapa langkah yang dapat kita ambil untuk tetap berlanjut dalam hidup. Setiap kepergian adalah sebuah pelajaran bagi yang ditinggalkan, untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan menghargai setiap detik kehidupan yang kita jalani.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Kepada Sahabtku Deden Kuswara agar tabah menhdapai Musibah ini.
Pimpinan Redaksi : Lintas-khatulistiwa.com “Mengucapkan Duka Cita yang mendalam.
semoga almarhum husnul khotimah dan diampuni segala dosa-dosanya. Semoga beliau (Putranya/Al Marhun Dany Kuswara) ditempatkan di surga yang penuh kenikmatan”

