KRONOLI TRAGIS : Pemeriksaan di pengadilan militer hari itu mengungkap rangkaian k3k3ras4n sistematis yang menimpa Prada Lucky dan Prada Richard pada 27–28 Juli 2025. Yang paling menyesakkan, di tengah kondisi sekarat dan s4ks4n tiada henti, kedua pr4jurit tersebut hanya mampu mengeluarkan satu respon sesuai disiplin militer: “Siap.”
Tragedi yang merenggut nyawa Prada Lucky telah memasuki babak pengadilan, membeberkan detail kejadian yang terjadi di lingkungan Yonif TP 834/WM. Suasana persidangan dibagi menjadi dua sesi, dengan sesi pertama memfokuskan pada kesaksian sembilan t3rd4kwa awal. Kesaksian mereka menyajikan kronologi yang gelap, dimulai dari interogasi yang berubah menjadi penyiksaan brutal.
Malam Pertama: Interogasi di ‘Rumah Kuning’
Rangkaian peristiwa tragis dimulai pada malam hari, 27 Juli 2025. T3rd4kwa pertama, Sertu Thomas Desamberis Awi, menjadi saksi kunci yang mengungkap awal mula k3k3ras4n.
Sekitar pukul 22.00 WITA, Sertu Thomas, ditemani Pratu Poncianus Allan Dadi, membawa Prada Lucky ke sebuah bangunan yang dikenal sebagai “rumah kuning” untuk menjalani interogasi. Sementara itu, Prada Richard diisolasi di ruang staf Intel.
Dalam keterangannya, Sertu Thomas mengaku telah memulai k3k3ras4n fisik. Prada Richard dit4mp4r dua kali menggunakan sandal di pipi kanannya. Sementara itu, Prada Lucky harus menerima perlakuan yang jauh lebih berat
“S3l4ng biru yang saya pakai untuk m3nc4mbuk saya temukan di belakang sumur,” ungkap Sertu Thomas kepada m4jelis h4kim, menggambarkan alat yang digunakannya untuk m3ncambuk punggung Prada Lucky.
Pindah Lokasi, Kekerasan Berlipat Ganda
Memasuki dini hari, k3k3ras4n tidak mereda. Pukul 00.15 WITA tanggal 28 Juli, Sertu Thomas menelpon Sertu Andre Mahoklory untuk memindahkan Prada Richard ke ruang staf pers. Di ruangan inilah, interogasi selama 15 menit berlanjut, fokus pada menanyakan hubung4n antara Prada Lucky dan Prada Richard—sebuah pertanyaan yang kemudian menjadi dalih bagi k3k3ras4n yang tak terperi.
Namun, fase paling mengerikan terjadi pada siang hari di ruang staf pers. Sembilan pr4jurit lain disebut ikut berada di ruangan tersebut, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi penyiksaan yang masif.
Menurut kesaksian, t3rd4kwa k3tiga, Pratu Poncianus Allan Dadi, turut serta secara aktif. Ia mengaku m3mukvl Prada Lucky dan Prada Richard menggunakan k4bel putih serta s4nd4l. Dadi juga m3mukvl k0rb4n sebanyak tiga kali di bagian pvnggung dan p4ha.
Yang menjadi inti kesaksian yang paling memilukan adalah respons para k0rb4n. Meskipun raga mereka diserang habis-habisan, disiplin militer tetap tertanam kuat. Setiap s3mb4tan sel4ng atau hantam4n k4bel hanya dijawab dengan satu kata penyerahan diri: “Siap.”
Sertu Andre Mahoklory, yang mengaku hanya melihat Sertu Thomas men4mpar Prada Lucky dua kali dengan sandal, turut menjadi saksi bisu atas kepatuhan yang tragis ini.
Interogasi Tak Berakhir di Bawah Pengawasan Perwira
Penderitaan Prada Lucky dan Prada Richard memasuki fase lain pada sore hari. Sekitar pukul 17.00 WITA, Letda Made Juni Arta Dana, seorang perwira, masuk ke ruang staf pers.
Alih-alih menghentikan penyiksaan, interogasi kembali dilanjutkan, kali ini dengan menggunakan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) sebagai panduan. K3k3ras4n fisik digunakan sebagai alat paksa. Ketika jawaban k0rb4n dinilai tidak sesuai dengan harapan para interogator, sel4ng serta k4bel kembali digunakan untuk m3nc4mbuk.
Proses interogasi keras dan penyiksaan yang berlapis-lapis itu berlangsung tanpa henti, menembus malam hingga pukul 03.00 WITA keesokan harinya. Dalam keadaan sekarat dan trauma fisik parah, Prada Lucky berjuang mempertahankan kesadaran, sementara kata “Siap” terus menjadi ucapan terakhirnya kepada para atasan yang seharusnya melindunginya.
Kesaksian di pengadilan hari ini telah membuka luka mendalam, mengungkap betapa rapuhnya garis batas antara disiplin dan kebrutalan. Kronologi ini tidak hanya mencatat detik-detik kematian seorang prajurit muda, Prada Lucky, tetapi juga menyoroti ironi mendalam: seorang prajurit yang tewas di tangan rekannya sendiri, namun tetap memegang teguh sumpahnya, hanya mampu menjawab “Siap” hingga nafas terakhir.
Kini, m4jelis h4kim bertugas menimbang semua kesaksian—dari s4ks4n sel4ng biru hingga hantam4n k4bel putih—untuk memberikan keadilan yang setimpal atas tragedi yang terjadi di balik tembok asrama militer tersebut.

