Lintas-Khatulistiwa.com. Pangkep– Dalam upaya meningkatkan kesehatan dan gizi anak-anak, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah dilaksanakan di berbagai wilayah Indonesia. Namun, insiden keracunan yang menimpa 74 siswa di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, telah menjadi perhatian serius bagi pemerintah pusat. Kejadian ini tidak hanya menimbulkan kekhawatiran tentang keselamatan dan kesehatan peserta didik, tetapi juga mempertanyakan efektivitas pelaksanaan program tersebut.
Direktur Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN), Brigjen TNI (Purn) Rudi Setiawan, melakukan kunjungan langsung ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Labakkang Coppeng-Copleng 2, untuk memantau dan mengevaluasi proses pengolahan makanan. Ia menegaskan bahwa pembenahan secara menyeluruh terhadap sistem pengolahan makanan di dapur SPPG Labakkang 2 sangat penting, terutama dalam hal kebersihan lingkungan, pengolahan bahan makanan, dan pendistribusian.
Dugaan kontaminasi bakteri yang bersumber dari air yang digunakan dalam proses produksi makanan menjadi fokus utama dalam evaluasi ini. Rudi Setiawan menekankan bahwa penggunaan alat pelindung diri (APD) oleh seluruh petugas dapur merupakan kewajiban mutlak, dan pihak yang tidak berkepentingan dilarang keras memasuki area produksi demi menjaga keamanan pangan.
Temuan Dinas Kesehatan Kabupaten Pangkep yang menemukan adanya aktivitas di ruang produksi tanpa penggunaan APD sangat mengkhawatirkan. Rudi Setiawan menyatakan bahwa hal tersebut tidak dapat ditoleransi karena berpotensi besar menimbulkan risiko kesehatan bagi penerima manfaat program. Ia menegaskan bahwa keamanan pangan tidak boleh dikompromikan, dan setiap pelanggaran SOP harus segera diperbaiki agar kejadian serupa tidak terulang.
Untuk memastikan kelayakan dapur SPPG, pihak SPPG diwajibkan melakukan uji coba pendistribusian makanan kepada sekitar 200 siswa selama dua hari berturut-turut. Uji coba ini bertujuan agar Dinas Kesehatan dapat melakukan pengambilan sampel makanan untuk diuji secara laboratorium sebagai bahan evaluasi dan dasar penerbitan sertifikasi kelayakan dapur SPPG.
Dengan harapan bahwa seluruh siswa yang terdampak dapat segera pulih dan kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam kondisi sehat, Rudi Setiawan menegaskan bahwa kesehatan dan keselamatan siswa merupakan prioritas utama dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Ia berharap bahwa program ini dapat dilaksanakan dengan standar keamanan pangan yang ketat, sehingga dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi anak-anak.
Proses evaluasi dan pembenahan di dapur SPPG Labakkang 2 masih terus berlangsung, dengan koordinasi intensif antara pihak Badan Gizi Nasional, Dinas Kesehatan, dan unsur terkait lainnya. Dengan demikian, diharapkan kejadian serupa tidak akan kembali terulang di masa mendatang, dan Program Makan Bergizi Gratis dapat dilaksanakan dengan efektif dan aman bagi semua penerima manfaat

