PANGKEP, Sulawesi Selatan – Sebuah kisah penuh haru dan inspirasi datang dari Kabupaten Pangkep. Tepat pada Senin, 26 Oktober 2026, pemuda bernama Sultan Fajar Taslim resmi dilantik menjadi Prajurit TNI Angkatan Darat dengan pangkat Sersan Dua (Serda) Infanteri, Lulusan Dikmaba PK 38 Gelombang III TA 2026 Rindam XIV Hasanuddin.
Lahir di Jakarta, 28 Maret 2007, Sultan adalah anak kedua dari tiga bersaudara dan putra tunggal dari pasangan keluarga sederhana. Ayahnya berdarah Bugis dan Ibunya berdarah Betawi asli. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di Jakarta Selatan.
Kehidupan yang tidak mudah membuat orang tuanya memutuskan hijrah ke Makassar setelah sang Ibu sakit. Mereka tinggal di rumah panggung sederhana (Rumah Reok) peninggalan kakeknya, Almarhum H. Abd Latif Gallareng, di Kampung Laikang, Kelurahan Talaka, Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkep.
Sultan merupakan alumni MAN Pangkep (Madrasah Aliyah Negeri Pangkep) Lulusan 2025 dan aktif di Paskibraka. Satu pesan ayahnya yang selalu ia pegang teguh hingga kini: *”JANGAN TINGGALKAN SHOLAT 5 WAKTU.”
Perjuangan di Ibu Kota
Setelah lulus SMA pada usia 17 tahun, ia nekat kembali ke Jakarta bukan untuk berleha-leha, melainkan berjuang. Ia bekerja sebagai Kurir Shopee dan penjual Ayam Penyet Jeletot Bonsar di Jl. Kebon Baru, Jakarta Selatan.
Hasil jerih payahnya ia kirim untuk membantu ekonomi orang tua dan membiayai kuliah S1 sang kakak di Institut Ilmu Kesehatan Pelamonia Makassar. Masa kecilnya yang gemar membantu orang tua mengambil rumput sapi membentuk mental pekerja keras.
Setelah 8 bulan di Jakarta, di usia 18 tahun ia kembali ke Pangkep. Bersama sahabatnya Aril, ia bekerja sebagai pelayan siswa SEBA Polri di SPN Batua Polda Sulsel selama 3 bulan.
Di tempat itulah takdirnya berubah. Ia melihat pengumuman seleksi SECABA PK TNI AD Gelombang III TA 2026. Berbekal keyakinan kepada Allah SWT dan bakatnya sebagai KARATEKA Sabuk Hitam DAN 1, ia diam-diam mendaftar online tanpa sepengetahuan orang tua.
Sang Ayah kaget bukan main saat diminta mengirimkan foto KTP dan KK untuk validasi data dari Panda hingga Pantukhir Pusat. Jawabannya hanya satu: “Kalau sudah kehendak Allah, tidak ada yang sulit bagi hamba-Nya.”
Tangis Pecah di Rindam
Pukul 02.00 WITA dini hari, 27 Agustus 2026, sebuah telepon mengabarkan pengumuman Pantukhir Pusat di Pakkatto keesokan harinya. Keluarga berangkat pukul 03.00 dan menunggu selama 10 jam di lapangan Rindam XIV Hasanuddin bersama ratusan keluarga lain.
Pukul 16.30 WITA, keajaiban itu datang. Dari kejauhan terdengar teriakan:
Pah, ini Fajar! Alhamdulillah anakmu diterima!”
Tangis pecah tak terbendung. Tas ransel sobek yang penuh jahitan dan sepatu lusuh pemberian anggota Polri saat ia menjadi pelayan di SPN Batua menjadi saksi bisu perjuangan itu. Tas dan sepatu yang ada di foto itulah yang mengantarkannya sampai ke gerbang kelulusan.

Kini, prinsip hidupnya menjadi pegangan banyak pemuda: _”Jika kita berusaha, serahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.”_
Dari kurir Shopee, penjual ayam penyet, dan pelayan siswa, kini ia berdiri gagah dengan seragam PDU 4 (Pakaian Dinas Upacara/ Kebesaran TNI AD) dan pangkat Sersan Dua Infanteri TNI Angkatan Darat.
Selamat dan sukses untuk SERDA Infanteri Sultan Fajar Taslim!

