JAKARTA – Tokoh reformasi, Prof. Dr. H. M. Amien Rais, Ph.D., menyampaikan pernyataan terbuka terkait situasi politik dan penegakan hukum nasional saat ini. Dalam pernyataannya, ia mengawali dengan ucapan syukur dan permohonan maaf kepada Presiden Prabowo Subianto.
“Sebangsa setanah air, pertama saya minta maaf kepada Pak Presiden Prabowo, karena saya pernah mengatakan beberapa waktu yang lalu, kurang lebih bila di dunia ini ada presiden takut sama polisi, ya hanya ada di Indonesia negara kita tercinta,” ujar Amien Rais.
Amien menjelaskan, pernyataan itu ia sampaikan sebelumnya karena menilai upaya Presiden Prabowo melakukan reformasi dan rekonstruksi Polri serta membentuk Komisi Percepatan Reformasi Kepolisian tidak berjalan.
Ia mengingatkan, pada 7 November 2025, Presiden Prabowo membentuk komisi tersebut dengan 10 anggota yang dipimpin Prof. Jimly Asshiddiqie. Setelah tiga bulan, menurut Amien, hasilnya berupa buku 3.000 halaman namun arahnya dinilai tidak jelas.
“Sepuluh anggota komisi itu, yang lima orang itu datang dari kepolisian, yakni Listyo Sigit, Tito Karnavian, Ahmad Dofiri, Idham Azis dan Badrodin Haiti,” kata Amien.
Menurut Amien, komposisi tersebut membuat suara kepolisian berpotensi dominan jika ada voting. Ia juga menyebut suara Listyo Sigit paling lantang dalam diskusi komisi tersebut.
SOROTI DUGAAN PENYADAPAN
Dalam pernyataan itu, Amien Rais menyoroti dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo dan sejumlah pejabat negara, tokoh, serta pengusaha, yang menurutnya dilakukan pada masa Listyo Sigit menjabat Kapolri.
Amien menyebut dugaan tersebut sebagai skandal yang memalukan dan menyamakannya dengan skandal Watergate di Amerika Serikat pada era Presiden Nixon tahun 1972.
Ia juga menyampaikan pertanyaan yang menurutnya harus segera diusut, yakni apakah dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo itu dilakukan sendiri atau ada pihak lain yang terlibat.
Amien kemudian menyampaikan dugaan pribadinya terkait kemungkinan adanya keterkaitan dengan mantan Presiden Joko Widodo. Dugaan tersebut disampaikan Amien sebagai pendapat dan pertanyaan untuk diusut aparat penegak hukum, bukan sebagai putusan pengadilan.
Ia juga menyinggung soal polemik ijazah yang selama ini dialamatkan kepada Jokowi, serta kasus yang sedang dihadapi Jokowi di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Semua itu disampaikan Amien dalam konteks pendapatnya.
SEBUT BANGUNAN KEZALIMAN MULAI RUNTUH
Amien menilai, apa yang terjadi saat ini sebagai tanda runtuhnya apa yang ia sebut sebagai bangunan kezaliman yang dibangun selama 10 tahun, meliputi kezaliman hukum, politik, ekonomi, dan kemanusiaan.
Ia mengutip QS Al-An’am ayat 44 sebagai refleksi atas situasi tersebut, tentang orang-orang yang melupakan peringatan lalu dibukakan pintu-pintu kesenangan, hingga kemudian ditimpa siksa secara tiba-tiba.
“Perhatikan, begitu Listyo dicopot oleh Prabowo dan digantikan oleh Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto yang lebih mumpuni, berintegritas, berwawasan luas, sekaligus mengedepankan moralitas, ada dua oknum yang shock dan tidak terima,” ujar Amien.
Amien juga menyebut dugaan bahwa kemarahan membuat seseorang kehilangan akal sehat, hingga berani melakukan penyadapan terhadap percakapan, SMS, pesan, hingga voice note Presiden Prabowo.
APRESIASI KETEGASAN PRABOWO
Di akhir pernyataannya, Amien mengangkat topi atas ketegasan Presiden Prabowo.
“Ternyata ketika Pak Prabowo tegas, maka musuh-musuh kebenaran, musuh-musuh keadilan itu menjadi porak-poranda. Tolong Mas Prabowo, Anda tetap saja lurus, kemudian pembersihan lakukan secara proporsional,” kata Amien.
Ia juga menyampaikan harapannya agar pembersihan dilakukan di kepolisian dan institusi lainnya, serta menyebut Panglima TNI Agus Subiyanto dalam konteks dugaan yang belum terbukti dan masih berupa pendapat pribadinya.
Amien menutup pernyataannya dengan harapan agar bangsa Indonesia mendapatkan masa depan kehidupan nasional yang lebih baik, lebih teratur, dan lebih berkeadilan.

