LINTAS-KHATULISTIWA.COM. Pangkep,- Pasar tradisional Kabupaten Pangkep yang ramai mengalami gangguan yang signifikan karena hujan lebat dan pasang surut yang terus-menerus berdampak pada ketersediaan dan harga barang-barang kebutuhan pokok. Selama tiga hari terakhir, hujan deras yang tak henti-hentinya melanda wilayah Pangkep, bersamaan dengan pasang surut yang luar biasa tinggi, sangat membatasi kemampuan nelayan setempat untuk melaut dan membawa hasil tangkapan harian mereka.
Dampaknya sangat terasa di pasar-pasar seperti Pasar Bonto Bila-Bila, Desa Patalassang, Kec.Labakkang Kab.Pangkep., di mana harga ikan meroket karena cuaca yang tidak menentu. Namun, kesengsaraan tidak terbatas pada ikan. Harga ayam dan makanan laut lainnya juga mengalami kenaikan yang dramatis karena berkurangnya pasokan dari laut.
Kondisi ini mendorong konsumen untuk memilih daging ayam, meskipun harganya melambung tinggi, berkisar antara Rp. 55.000 hingga Rp. 60.000. Banyak yang merasa bahwa membeli daging ayam lebih menguntungkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dibandingkan dengan membeli ikan yang harganya semakin mahal. Misalnya, ikan cakalang ukuran kecil kini dijual dengan harga Rp. 10.000 per ekor, sementara ikan sinrili yang lebih kecil harganya sama.
Harga makanan laut lainnya juga mengalami kenaikan. Ikan bandeng dijual dengan harga Rp. 45.000 per kilogram (sekitar 3 ekor), udang vanamei dijual dengan harga Rp. 80.000 per kilogram, dan udang gala dijual dengan harga yang sangat tinggi, yakni Rp. 100.000 per kilogram.
Selain makanan laut, harga bahan-bahan pokok untuk memasak juga mengalami kenaikan. Harga bawang merah saat ini mencapai Rp. 35.000 per kilogram, sedangkan harga bawang putih mencapai Rp. 45.000 per kilogram. Harga minyak goreng, khususnya merek “Minyak Kita”, mencapai Rp. 18.000 per liter, dan cabai merah mencapai Rp. 80.000 per kilogram.
Fluktuasi harga ini telah diungkap oleh Lintas-khatukistiwa.com sebagai bagian dari investigasi mereka menjelang Idul Fitri.
Seorang pedagang ikan kawakan, yang telah menyaksikan siklus fluktuasi harga yang tak terhitung jumlahnya, mengatakan bahwa kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok merupakan kejadian umum menjelang hari raya Idul Fitri. Meskipun mengakui adanya kenaikan harga, pedagang tersebut yakin bahwa konsumen akan terus membeli kebutuhan pokok ini, terutama dengan cuaca yang tidak menentu saat ini yang menyebabkan kelangkaan barang.
Kombinasi yang menantang antara cuaca buruk dan musim perayaan yang semakin dekat ini telah menciptakan badai yang sempurna, yang menyebabkan konsumen di Pangkep menghadapi harga yang lebih tinggi untuk bahan-bahan pokok saat mereka bersiap untuk Idul Fitri.

