LINTAS-KHATULISTIWA.COM JAKARTA – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDT), Yandri Susanto, menyampaikan permohonan maaf kepada publik pada hari Senin menyusul pernyataan kontroversial yang dilontarkannya tentang “LSM ” dan “wartawan bodrex” dalam siaran YouTube pada tanggal 1 Februari. Pernyataan menteri yang dianggap merendahkan jurnalis dan aktivis LSM itu menuai kritik luas dan mendorongnya untuk mengklarifikasi sikapnya dalam konferensi pers yang diadakan di kantor pusat Kementerian Desa PDT di Kalibata, Jakarta Selatan.
Yandri didampingi Wakil Menteri Riza Patria memberikan sambutan di hadapan wartawan, perwakilan LSM, dan media televisi. “Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh wartawan dan LSM, di mana pun berada, atas pernyataan saya saat sosialisasi dana desa yang disiarkan di YouTube,” katanya. “Saya tidak bermaksud merendahkan atau mendiskreditkan profesi wartawan atau pekerja LSM.”
Menteri menjelaskan, pernyataannya itu berawal dari laporan kepala desa terkait dugaan upaya pemerasan oleh oknum yang mengaku berafiliasi dengan LSM dan pers. “Saya sudah keliling 50 desa dalam tiga bulan terakhir,” kata Yandri, “dan saya mendapat informasi dari kepala desa bahwa mereka merasa diperas oleh oknum tertentu yang mengaku wartawan dan aktivis LSM. Namun, saat sosialisasi, saya tidak menggunakan kata ‘oknum tertentu’ sehingga terjadi masalah. Oleh karena itu, saya mohon maaf sekali lagi.”
Kendati menuai kontroversi, Yandri menegaskan apresiasinya terhadap peran jurnalis dan LSM dalam pembangunan. Ia menyerukan kolaborasi antara pemerintah, media, dan LSM untuk mendorong kemajuan di daerah pedesaan. “Saya ingin menegaskan kembali bahwa saya tidak pernah bermaksud merendahkan profesi jurnalis atau aktivis LSM. Sebaliknya, saya sangat menghargai mereka yang bekerja dengan integritas dan profesionalisme,” tegasnya.
Ramses Sitorus, yang mengoordinasikan tanggapan dari para jurnalis dan LSM, menekankan peran penting media independen dan masyarakat sipil dalam demokrasi. “Kami memahami maksud di balik pernyataan Menteri, yang seharusnya difokuskan pada beberapa jurnalis dan aktivis LSM terpilih yang menyalahgunakan posisi mereka,” kata Ramses Sitorus. “Kami di sini mewakili ribuan jurnalis yang merasa terluka oleh kata-kata Menteri. Kami berharap kesalahpahaman seperti itu tidak terulang lagi.”
Usai klarifikasi dan jumpa pers, Ramses Sitorus menyampaikan rasa terima kasihnya karena Menteri telah menerima perwakilan wartawan dan LSM. Ia menekankan pentingnya hubungan yang harmonis antara pemerintah, media, dan LSM, yang semuanya bekerja untuk mencapai tujuan bersama yaitu membangun desa dan daerah tertinggal, sesuai dengan visi Presiden Prabowo Subianto. Ia berharap klarifikasi ini akan menghasilkan hubungan kerja yang lebih produktif ke depannya, sehingga pembangunan desa dapat lebih difokuskan.

