Lintas-Khatulistiwa com | MAKASSAR – Nama Syekh Yusuf Al Makasari bukan sekadar catatan tinta dalam buku sejarah. Beliau adalah simbol keteguhan iman, ulama besar, pahlawan nasional, sekaligus waliyullah yang namanya harum membentang dari tanah kelahirannya di Gowa hingga ke ujung benua di Cape Town, Afrika Selatan.
Di balik sosoknya yang agung, tersimpan sebuah fenomena unik yang jarang dimiliki tokoh lain: keberadaan “dua makam” di dua negara berbeda yang sama sama dihormati sebagai pusat ziarah. Mengapa seorang tokoh memiliki dua titik peristirahatan terakhir?
Pulang ke Kampung Halaman: Dari Faure ke Lakiung
Syekh Yusuf wafat dalam pengasingan pada 23 Mei 1699 di Faure, Cape Town. Beliau dibuang oleh Belanda karena kegigihan perlawanannya terhadap penjajah. Namun, enam tahun berselang, pada 1705, pihak keluarga dan Kerajaan Gowa memohon izin kepada VOC untuk membawa pulang jasad beliau ke tanah kelahiran.
Prosesi ini dikenal masyarakat Gowa sebagai “Pulangi Toa” (pulang ke kampung halaman). Kini, makam di Lakiung, Bajeng, Gowa, diyakini sebagai tempat jasad beliau dikebumikan. Sementara itu, makam di Faure, Afrika Selatan, tetap berdiri hingga kini sebagai monumen peringatan yang sakral serta simbol perjuangan beliau sebagai Bapak Islam di Afrika Selatan.
Uniknya, kedua makam ini terus hidup dalam denyut spiritual peziarah. Tidak jarang, jamaah dari Afrika Selatan datang jauh jauh ke Gowa, begitu pula sebaliknya, masyarakat Sulawesi Selatan kerap berziarah ke Faure untuk menapaki jejak dakwah sang ulama besar.
Karomah di Balik Perpindahan Jasad
Sebuah kisah melegenda yang terus diceritakan adalah kondisi jasad Syekh Yusuf saat dipindahkan pada tahun 1705. Enam tahun setelah wafat, peti kayu dibuka, dan jasad beliau dilaporkan masih utuh serta mengeluarkan aroma wangi. Banyak ulama meyakini kejadian ini sebagai bentuk karomah (kemuliaan) yang diberikan Allah SWT kepada hamba Nya yang semasa hidup menjaga kesucian iman dan perjuangan.
Perjalanan Spiritual Sang “Tuanta Salamaka”
Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al Makasari Al Bantani lahir di Gowa, 3 Juli 1626. Sejak usia 15 tahun, beliau telah berkelana menimba ilmu ke berbagai penjuru dunia, mulai dari Aceh, Banten, Yaman, hingga Damaskus. Beliau menguasai tujuh bahasa dan dikenal sebagai ahli fikih serta tasawuf yang mendalam.
Dalam masa hidupnya, tercatat berbagai karomah yang melegenda:
Rantai yang Patah: Saat ditahan Belanda, rantai besi yang membelenggu beliau kerap patah dengan sendirinya.
Air Tawar di Samudera: Dalam perjalanan pengasingan di tengah laut, beliau mampu mengeluarkan air tawar dari tongkatnya saat murid muridnya kehausan.
Dakwah Tanah Gersang: Di Cape Town, beliau berhasil mengubah tanah tandus menjadi pusat peradaban Islam. Hanya dalam waktu satu tahun, ribuan penduduk setempat memeluk Islam berkat akhlak dan keteladanan beliau.
Warisan yang Melintasi Zaman
Hingga kini, kompleks makam di Lakiung tidak pernah sepi peziarah. Beliau meninggalkan pesan abadi yang tetap relevan: “Jangan tinggalkan sholat. Jangan tinggalkan zikir. Cintai tanah airmu, tapi cintai Allah lebih dari segalanya.”
Selain di Gowa dan Faure, jejak makam Syekh Yusuf juga diyakini tersebar di beberapa titik lain seperti Sri Lanka, Banten, dan Sumenep (Madura), yang menandai luasnya pengaruh dan tempat beliau singgah selama masa pengasingan.
Keberadaan sang ulama di dua benua menjadi bukti nyata bagaimana seorang tokoh besar mampu menyatukan perbedaan budaya dan meninggalkan warisan spiritual yang tak lekang oleh waktu. Beliau bukan sekadar kebanggaan Indonesia, melainkan “Tuan Guru” bagi dunia.
Data Tokoh:
Nama: Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al Makasari Al Bantani
Lahir: 3 Juli 1626, Gowa, Sulawesi Selatan
Wafat: 23 Mei 1699, Cape Town, Afrika Selatan
Gelar: Tuanta Salamaka ri Gowa (Tuan Guru Penyelamat dari Gowa)
Pengakuan: Nelson Mandela menyebut beliau sebagai “Salah Seorang Putra Afrika Terbaik.”
Lokasi Makam (Diakui): Puncak bukit Macassar (Afrika Selatan), Sri Lanka, Lakiung (Gowa), Banten, dan Sumenep (Madura).

