JEJAK SEJARAH, LEBANON,– 14 November 2008.”Tidur 8 bulan di tenda peleton, tembus salju…” Bagi Kami/ mereka yang tidak pernah berada di sana, kalimat itu mungkin terdengar seperti adegan film. Namun, bagi para prajurit Kontingen Garuda XXIII B, itu adalah realitas pahit yang harus mereka telan setiap hari sepanjang tahun 2007 (Selama satu tahun) hingga 2008.
Tugas menjaga Blue Line di Lebanon Selatan bukanlah penugasan biasa. Ini adalah ujian mental dan fisik yang melampaui batas kemampuan manusia rata rata.

Musim dingin di sana begitu ganas; tenda yang tembus air, suhu yang menusuk hingga ke tulang, namun posisi harus tetap terjaga. Itulah yang membuat Pasukan Garuda berbeda—mereka bukan hanya penjaga, mereka adalah benteng ketabahan.
Sambutan “Maut” di Minggu Pertama
Salah satu memori yang paling sulit dibayangkan adalah peristiwa pada minggu pertama penugasan. Saat baru saja beradaptasi, sebuah Unexploded Ordnance (UXO) jatuh dari pihak Israel tepat di area Tenda kami.

Bayangkan detik detik menunggu tim Jihandak (Penjinak Bahan Peledak) datang. Jantung seolah berhenti berdetak, namun di saat tegang itulah nyali prajurit Garuda teruji. Mereka tidak lari, mereka tidak mundur. Kami dan Mereka tetap bertahan hingga masa tugas berakhir di tahun 2008. Mereka pulang dengan kepala tegak, membawa kehormatan bangsa, bukan sekadar membawa luka.

Medali yang Bukan Sekadar Logam
Bagi veteran XXIII B, Medal Parade di Naqoura adalah momen paling sakral. Mengenakan baret biru PBB dengan latar belakang tanah Lebanon, medali UNIFIL disematkan langsung oleh Panglima UNIFIL.
Mengapa medali ini nilainya “100 kali lipat” dibanding tugas dalam negeri?
Pengakuan Internasional: Medali ini bukan sekadar apresiasi internal TNI, melainkan pengakuan dunia bahwa kami saat itu adalah bagian dari upaya perdamaian global.
Jejak Sejarah: Nama seluruh Pasukan PBB resmi tercatat dalam database personel penjaga perdamaian PBB, sebuah catatan abadi yang berlaku seumur hidup.
Bobot Pengalaman:
Satu misi ini setara dengan puluhan operasi domestik. Mengingat kompleksitas medan, perbedaan aturan main, hingga cuaca ekstrem yang tidak ada di Tanah Air.
Sertifikat Hidup untuk Masa Depan
Kini, medali itu tersimpan rapi di dalam lemari kaca di rumah rumah Kami para veteran. Namun, medali itu bukanlah pajangan mati. Ia adalah “sertifikat hidup”.

Setiap kali mata memandang kilau logam biru putih tersebut, ingatan langsung melayang kembali ke tenda yang diterjang salju, debu Lebanon, dan ketegangan saat UXO jatuh. Itu adalah bukti nyata: “Saya pernah berdiri di garis depan perdamaian dunia atas nama Indonesia.”
Suatu hari nanti, medali ini akan menjadi warisan berharga untuk anak dan cucu. Sebuah cerita yang bisa disampaikan dengan bangga,
“Ini, Nak… Kakek/Nenek dulu pernah tidur di salju Lebanon, demi berkibarnya bendera Merah Putih di kancah internasional.”
Terima kasih untuk para pejuang Garuda XXIII B. Keringat dan keteguhan kalian adalah alasan mengapa Merah Putih hari ini dihormati di mata dunia. Indonesia berhutang budi pada keberanian kalian. 🇮🇩

