Lintas-Khatulistiwa.com | Cimahi, 4/4/2026 – Suasana haru menyelimuti Kota Cimahi ketika kabar duka itu datang. Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar, seorang perwira TNI yang gagah berani, gugur dalam usia muda saat menjalankan tugas mulianya sebagai pasukan penjaga perdamaian dunia di Lebanon. Pengabdiannya di bawah bendera United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) tak hanya membanggakan, tetapi juga menggetarkan hati seluruh bangsa.
Bagi keluarganya, Zulmi bukan sekadar seorang prajurit TNI Angkatan Darat. Ia adalah sosok putra yang saleh, penurut, dan selalu memegang teguh tanggung jawab. Sejak kecil, Zulmi telah menjadi sandaran harapan dan kebanggaan yang tak ternilai harganya bagi orang tuanya. Kabar duka pertama kali diterima pada Senin malam, 30 Maret 2026. Suasana rumah yang tadinya hangat dan penuh canda, seketika berubah hening, diselimuti rasa tak percaya yang mendalam.
Kepastian pahit itu akhirnya terkonfirmasi keesokan harinya. Kapten Zulmi Aditya Iskandar dinyatakan gugur dalam usianya yang ke 33 tahun. Beliau wafat saat menjalankan tugasnya mengawal konvoi kendaraan misi UNIFIL di wilayah Lebanon Selatan.
Almarhum tergabung dalam satuan Special East Mobile Reserve (SEMR), sebuah unit yang berada di garda terdepan dalam upaya menjaga stabilitas dan keamanan di kawasan yang bergejolak.
Seiring tersebarnya berita duka, rumah duka di Cimahi tak henti hentinya didatangi pelayat. Tangis, doa, dan ucapan belasungkawa mengalir deras, tulus dari hati para sahabat, kerabat, dan masyarakat yang berduka. Karangan bunga dari berbagai tokoh penting, instansi pemerintah, serta jajaran TNI berjejer panjang di depan rumah duka, menjadi saksi bisu betapa besar penghormatan dan penghargaan terhadap pengorbanan luar biasa yang telah diberikan oleh almarhum Kapten Zulmi Aditya.
Saat ini, pihak keluarga masih dalam penantian dan persiapan untuk pemulangan jenazah ke Tanah Air. Rencananya, pahlawan bangsa ini akan dimakamkan secara militer dengan penghormatan tertinggi di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Hal ini merupakan bentuk penghargaan dan penghormatan terakhir atas jasa serta pengabdiannya yang telah diberikan demi menjaga perdamaian dunia.
Kepergian Kapten Zulmi Aditya Iskandar bukan hanya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga menghadirkan sebuah kebanggaan yang tak terukur bagi bangsa Indonesia. Ia gugur bukan dalam kesia siaan, melainkan dalam tugas mulia yang mulia, yaitu menjaga perdamaian dunia. Pengabdiannya yang penuh keberanian dan dedikasi ini akan selalu dikenang dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus bangsa.

