Lintas-Khatulistiwa.com | Makassar,– Jalan Somba Opu, jantung denyut perekonomian emas di Makassar, pada siang itu Sebuah Peristiwa yang tak terduga, sebuah drama aneh yang membuat para saksi mata kebingungan.
Awal (36), yang sedang menikmati waktu lengangnya di samping toko, tak menyangka akan menjadi saksi mata insiden tak lazim. Sekitar pukul 14.00 Wita, seorang perempuan berusia 41 tahun dengan inisial SU masuk ke toko Logam Mulia. Langkahnya tenang, tatapannya serius memandangi perhiasan di etalase, layaknya calon pembeli yang sedang menimbang keputusannya. Ia bahkan sempat terlihat melakukan negosiasi seolah olah hendak melakukan transaksi pembelian emas.
“Transfer saja, Bu,” ucapnya kepada penjaga toko dengan suara datar, seperti yang diingat Awal. Tak ada tanda tanda keributan atau perdebatan sengit. Semuanya tampak seperti transaksi yang normal.
Namun, dalam hitungan detik, suasana berubah drastis. Asap mulai mengepul dari dalam toko Logam Mulia, disusul jeritan panik. Awal segera bangkit dan mencari sumber kekacauan. Dari pintu toko, SU berlari keluar dengan bagian belakang roknya yang terbakar. Wajahnya terlihat kosong, tanpa ekspresi ketakutan yang lazim dalam situasi seperti itu.
“Kebakaran!” teriak seorang warga.(13/2)
Insting Awal adalah mengejar perempuan yang dicurigai sebagai pelaku, namun teriakan warga lain menghentikannya. “Nda apa apa ji, kembali mako ke toko!” seru mereka, mengarahkan perhatian untuk segera memadamkan api.
Awal berbalik dan menyaksikan pemandangan yang membingungkan. Di lantai marmer toko emas, sebuah botol air mineral berguling guling, dengan api biru oranye menjilat jilat dari mulutnya.
Botol itu tidak tampak seperti dilempar, melainkan seperti sengaja ditinggalkan atau terjatuh.
Firman (42), yang sedang memesan makanan di warung seberang, tak tinggal diam. Ia langsung berlari menghampiri. Ia melihat botol itu telah diisi bensin, dengan tisu yang menyembul layaknya sumbu. Tanpa pikir panjang, Firman segera melepas bajunya, menutupi api, dan menendang botol tersebut menjauhi barang barang berharga.
“Panik semua orang, langsung cari air padamkan api cepat,” kenang Firman. Berkat kewaspadaan warga, api yang sempat menyala di lantai berhasil dipadamkan dengan cepat.
Sementara api kecil berhasil dijinakkan, perhatian beralih kepada pelaku. SU telah berlari ke arah belakang toko, roknya masih membara. Beberapa warga dengan sigap mengejarnya. Mereka berhasil menangkap dan membawanya kembali ke toko untuk diamankan.
Tindakan ini bukan untuk melakukan penghakiman sendiri, melainkan untuk mencegah kemarahan massa yang berpotensi timbul dan menunggu kedatangan pihak berwajib.
“Kita sempat fokus dulu padamkan api, tapi ada yang lihat pelakunya lari, jadi dikejar,” jelas Firman.
Selama satu jam berikutnya, suasana tegang menyelimuti Jalan Somba Opu. SU terduduk diam di dalam toko, dijaga oleh beberapa warga, sembari menunggu polisi tiba.
Motif di balik tindakannya menjadi misteri yang membingungkan. Tidak ada keributan sebelumnya, tidak ada konflik yang terlihat. Hanya seorang “emak emak” yang berpura pura berbelanja, lalu secara tiba tiba meninggalkan api di lantai toko emas.
Ketika polisi akhirnya tiba dan membawa SU untuk diinterogasi, berbagai pertanyaan menggantung di udara. Mengapa toko emas menjadi sasaran?
Mengapa dengan cara yang begitu berisiko, menggunakan bom molotov improvisasi?
Bagaimana jika api membesar dan menelan seluruh toko beserta penghuninya?
Dan mengapa roknya sendiri sempat terbakar?
“Tidak ada korban lain, dia ji saja kena api. Alat alat di dalam tidak ada ji juga terbakar, di lantai ji,” ujar Awal,
Insiden ini berakhir tanpa kerugian material yang signifikan, namun meninggalkan bekas psikologis yang mendalam di antara warga sekitar.
Sebuah potret anomali kekerasan: dingin dan terencana, namun sekaligus ceroboh dalam pelaksanaannya

