LINTAS-KHATULISTIWA.COM.| ACEH – Sebuah aksi tegas yang dilakukan oleh Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa Aceh, Kolonel Inf. Ali Imran, baru baru ini menjadi sorotan dan viral di media sosial. Dalam rekaman video yang beredar luas, Kolonel Ali Imran, seorang perwira jebolan Kopassus, terlihat membubarkan sebuah konvoi kendaraan yang membawa bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Lhokseumawe. Tindakan ini diambil mengingat situasi pascabencana yang sedang dalam tahap pemulihan, di mana konvoi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan kegaduhan.
Dalam video yang menyebar di berbagai platform media sosial, terlihat iring iringan kendaraan bak terbuka yang dihiasi Bendera GAM melintas di jalan nasional. Ratusan orang turut serta dalam konvoi tersebut sambil meneriakkan yel yel kemerdekaan. Menanggapi situasi tersebut, Kolonel Ali Imran bersama anggota TNI lainnya dengan sigap menghentikan konvoi tersebut. Mereka kemudian mengambil tindakan tegas dengan menyita atribut dan bendera GAM yang digunakan. Sekelompok massa yang terlibat dalam konvoi tersebut tampak membubarkan diri melihat kehadiran aparat.
Menurut informasi dari laman resmi Korem 011/Lilawangsa pada Jumat (26/12/2025), Kolonel Ali Imran tercatat sebagai Danrem termuda di Indonesia. Ia resmi menjabat sebagai Danrem 011/Lilawangsa berdasarkan Keputusan Kasad Nomor Kep/244/IV/2024 tentang Pemberhentian dari dan Pengangkatan dalam Jabatan di Lingkungan TNI Angkatan Darat, yang ditetapkan pada 5 April 2024. Pelantikan Kolonel Ali Imran telah melalui prosesi serah terima jabatan yang dipimpin oleh Pangdam Iskandar Muda, Mayjen TNI Niko Fachrizal. Ia menggantikan Kolonel Kav Kapti Hertantyawan.
Lahir di Banda Aceh pada 9 Juni 1978, Kolonel Ali Imran merupakan putra dari pasangan M. Yusuf Syah dan Rohani. Perjalanannya di dunia militer dimulai setelah menyelesaikan pendidikan umum di SDN 28 Banda Aceh (1991), SMPN 4 (1994), dan SMAN 3 Banda Aceh (1997). Memutuskan untuk mengabdi pada negara, ia kemudian masuk Akademi Militer (Akmil) dan lulus pada tahun 2000 dengan kecabangan Infanteri Kopassus. Jejak kariernya di militer sangat cemerlang, pernah bertugas di Kopassus, Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI, hingga Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).
Karier militernya dimulai sebagai Pama Pussenif pada tahun 2000, dilanjutkan ke Kopassus pada tahun 2001. Berbagai posisi penting di Kopassus ia emban, termasuk Danton (2002 2005), Pasi 3 Yon (2006), hingga Danki (2007). Kariernya terus menanjak di Korps Baret Merah, di mana saat berpangkat Kapten, ia dipercaya sebagai Dantim 4 (2008) dan Ps Danden 1 (2009), sebelum akhirnya menjabat Danden 1 (2011).
Saat menyandang pangkat Mayor, Kolonel Ali Imran ditunjuk untuk berbagai jabatan strategis, seperti Dansus Ops Psy Sesndha Kopassus (2013), Pabandya Lidgal Sintel Kopassus (2014), Pabbandya F 53 Dit F Bais TNI (2015), dan Danden Monob Sat Defensif Satcyber Bais TNI (2016). Puncaknya, ia naik pangkat menjadi Letnan Kolonel dan memegang jabatan Danden Lid Geopasikan Bais TNI (2017), Kasipers Minlog Satlid Satintel Bais TNI (2018), Pamen Bais TNI, dan Pabandya Persum Satintel Bais TNI (2019).
Pengalaman panjang di bidang intelijen membawanya ke Paspampres sebagai Dandenma Paspampres (2019), dan kemudian menjadi Dandim 0506/Tgr Rem 052/Wkr Kodam Jaya (2022). Dedikasi dan prestasinya yang luar biasa akhirnya mengantarkannya pada pangkat Kolonel. Sebelum menjabat sebagai Danrem 011/Lilawangsa pada tahun 2024, ia sempat menduduki posisi Dansatlak Lidgal Pusintelad (2023) dan Ka PII Pusintelad (2023).
Sepanjang pengabdiannya, Kolonel Ali Imran telah terlibat dalam berbagai operasi penting, termasuk Operasi Denpur Cakra Aceh (2003), Satgas BIN Aceh (2008), Densandha Papua (2011), Satgas Bais Lauser (2015 2017), dan Satgas Palapa Aceh (2018). Berbagai tanda jasa kehormatan telah diraihnya, seperti SL Dharma Nusa, SL Kesetiaan VIII, SL Dwidya Sistha, SL Ksatria Yudha, SL Wira Karya, SL Kesetiaan XVI, SL Wira Dharma, dan SL Santi Dharma XVIII.
Di samping karier militernya, Kolonel Ali Imran juga aktif dalam bidang akademis. Ia mengikuti berbagai pendidikan umum dan militer, termasuk Dik Para (1999), Sarcab Inf. (2001), KIBI (2001), Komando (2002), Susdanki (2005), Sus Sandha (2006), Dikalapa Inf. (2010), Seskoad (2014), dan Susdanyon (2015). Ia juga meraih gelar Sarjana dari Universitas Krisnadwipayana (Unkris) Jakarta pada tahun 2014.

Terkait insiden pengibaran bendera GAM, dilaporkan bahwa seorang pria yang memprovokasi massa dengan mengibarkan bendera dan membawa senjata telah diamankan oleh TNI. Pihak TNI berhasil mengamankan pelaku beserta barang bukti. Ekspresi pelaku yang berubah drastis saat diamankan turut menjadi bahan perbincangan. Aksi tegas Kolonel Ali Imran ini menunjukkan komitmen TNI dalam menjaga stabilitas dan ketertiban di wilayah Aceh, terutama dalam situasi yang membutuhkan fokus pada pemulihan pascabencana.

