LIPUTAN NEWS ” LINTAS-KHATULISTIWA COM.. SUARA KESEHATAN – Sebuah siang yang biasanya diisi dengan tawa dan semangat belajar, tiba-tiba berubah menjadi kekhawatiran yang menyelimuti
Tiga sekolah di Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Puluhan siswa dan guru mengalami keluhan serupa—sakit perut yang datang mendadak—tak lama setelah menikmati menu santap siang dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Insiden ini langsung memicu respons cepat dari Dinas Kesehatan Kab. Pangkep.
Kejadian bermula sekitar pukul 15.30 WIB, saat jam pelajaran usai. Gelombang pertama datang dari SD Kasiloe. Kepala Sekolah, H. Irwan, S.Pd., mengkonfirmasi bahwa salah satu siswanya bahkan harus dilarikan ke rumah sakit, sementara beberapa lainnya merasakan nyeri di perut mereka.
Situasi semakin memburuk di SMP 5 Labakkang. Di sinilah skala insiden terlihat paling signifikan. Dari total 196 siswa, sebanyak 40 orang, termasuk di antaranya Kepala Sekolah Hj. Kumala Sari Majid, SH., M.Pd., dan Wakil Kepala Sekolah Nurhidayah, merasakan gejala yang sama setelah menyantap makanan dari SPPG-MBG-02 Coppeng-Coppeng.
“Alhamdulillah, dari 40 siswa dan guru yang mengeluh sakit, kondisinya sudah mulai membaik. Saat ini mereka tetap dalam pantauan medis kami,” ujar Drs. Rustam, staf sekolah, saat ditemui tim Lintas-Khatulistiwa.com di lokasi.
Dampak terbesar dirasakan di SMA 13 Kasiloe, Desa Kasiloe. Sebanyak 17 siswa memerlukan penanganan medis langsung dari tim Puskesmas Taraweang dan Labakkang, sementara 70 lainnya berada di bawah pantauan ketat Dinas Kesehatan. Gejala yang dirasakan tidak hanya sakit perut, tetapi juga diare yang membuat kondisi mereka melemah. Tim medis dan Dinas Kesehatan, yang diturunkan sejak sore hingga tengah malam, bekerja tanpa henti untuk memberikan pertolongan pertama dan menenangkan para orang tua yang dilanda kepanikan.
Di tengah upaya penanganan, sebuah teka-teki muncul. Salah seorang orang tua siswa di dekat SD Kasiloe memberikan kesaksian yang menarik. Ia mengaku heran karena anaknya membawa pulang sisa makanan MBG tersebut dan memakannya bersama di rumah. “Anak saya di rumah tidak apa-apa. Ini sangat aneh. Apakah pengaruh makanannya, faktor cuaca, atau memang kondisi tubuh siswa yang kurang fit?” ujarnya, mencerminkan kebingungan banyak pihak.
Menanggapi hal ini, tim medis dari lapangan, salah satunya Ibu Nakes Altun Kristina, S.Kep.Nes, menegaskan sikap hati-hati. “Kami tidak berani memberikan kesimpulan bahwa ini adalah kasus keracunan makanan. Semua masih dugaan sampai ada bukti laboratorium resmi dari Dinas Kesehatan,” jelasnya.
Ibu Kriatina menambahkan, bahwa ia dan timnya terus memantau kondisi siswa di ketiga sekolah. Kabar baiknya, kegiatan belajar mengajar sudah kembali normal. “Alhamdulillah, para siswa sudah mulai masuk belajar seperti biasa, walau masih ada beberapa orang yang dirawat di Puskesmas sambil kita pantau dan menunggu hasil lab penyebab pasti sakit perut ini,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Desa Kasiloe, Suryadi, diketahui turun langsung ke lapangan, memantau perkembangan situasi dan memastikan semua pihak terlayani dengan baik. Kondisi terakhir di SMA 13 menunjukkan pemulihan positif, dengan sekitar 50 siswa sudah kembali sehat, meski satu siswa lainnya masih dalam perawatan.
Saat ini, seluruh mata tertuju pada hasil laboratorium. Jawaban dari tes sampel makanan inilah yang akan memecahkan misteri ini, menentukan apakah penyebabnya adalah kontaminasi pada makanan, faktor lingkungan, atau hal lainnya. Bagi para siswa, guru, dan orang tua, harapannya sederhana: agar kejadian ini tidak terulang dan program makan bergizi gratis tetap bisa menjadi jaminan kesehatan, bukan sumber kekhawatiran.

